Alt-Right is Not Alright

INFOGRAFIK Alt-Right Nazi Modern
Aksi gerakan nasionalis supremasi kulit putih. REUTERS
Oleh: Aulia Adam - 29 November 2016
Dibaca Normal 4 menit
Menguatnya rasisme di Amerika sudah jelas. Orang dengan mulut rasis bahkan jadi orang kepercayaan Trump. Mereka adalah: Alt-Right.
tirto.id - “Amerika dulunya, sampai generasi terakhir ini, (adalah) negara kulit putih dirancang untuk diri kita sendiri dan keturunan kita,” suara pria itu menggelegar, sengaja didekatkan ke arah mikropon. “Negeri ini adalah kreasi kita, warisan kita, dan kita empunya! Ras kulit putih, adalah ras yang selalu berjalan di jalan atas. Menjadi ras ini artinya menjadi sang pencipta, sang penjelajah, sang penakluk!”

Beberapa orang berdiri menyahut kata “penakluk” yang terdengar di arena.

“Sedangkan ras lain,” lanjut pria itu. “Kita tak perlu kelompok lain, kita tak untung apa pun dari adanya mereka. Mereka yang butuh kita, dan tak pernah sebaliknya!”

Pria itu lalu minum dari gelasnya di atas mimbar sekali teguk, sedikit tersenyum, saat gemuruh tepukan tangan dari 200 hadirin menggema.

Richard Spencer, orang yang berpidato itu direkam The Atlanta, dan pidatonya menjadi viral. Ia belakangan diperbincangkan media. Pasalnya, isi pidato yang kentara rasis itu ia deklarasikan baru-baru ini saja, bukan di zaman Holokus, di tengah Perang Dunia II, saat kelompok rasis dari Jerman yang dipimpin Adolf Hitler memburu Yahudi dan sejumlah kelompok minoritas lainnya. Pidato itu bahkan dikoarkan tak jauh dari Gedung Putih, kantor Presiden Amerika Serikat. Tepatnya di gedung milik pemerintah yang bernama Gedung Ronald Reagan.

Pertemuan itu dibuat Spencer sebagai wadah tatap muka sekelompok orang yang menamai diri mereka Alt-Right, kepanjangan dari Alternative Right. Sebuah gerakan yang memiliki gagasan utama berpusat tentang identitas ras kulit putih.

Spencer dan Alt-Right merasa kepentingan karena menganggap ras kulit putih mulai terpinggirkan dalam demokrasi yang dianut Amerika Serikat kini. Mereka merasa dikepung kebudayaan lain yang sebenarnya bukan budaya asli Amerika, karena sesungguhnya Amerika adalah negara mereka yang berkulit putih saja.

Meski konferensi itu kental ujaran kebencian dan ultra-rasis, tapi dalam temu pers yang dilakukan sebelum acara itu dimulai, Spencer sempat bilang, “Warga Hispanik dan kulit hitam tak perlu khawatir (tentang berjalannya konfrensi tersebut).” Di saat yang sama, ia juga bilang untuk tidak lagi memperlakukan Alt-Right sebagai gerakan bawah tanah lagi, alih-alih sesuatu yang terang-terangan.

Di hadapan 200 orang yang kebanyakan pemuda, Spencer meyakinkan mereka kalau ras kulit putih tak akan merasa dikucilkan lagi. Sebab era Presiden Terpilih Donald J. Trump adalah era kebangkitan identitas mereka lagi.

Menegaskan keengganan pada Yahudi, seraya tersenyum yang lebih mirip seringai, Spencer mengutip sejumlah propaganda Nazi. Di antaranya ia menyebut ras kulit putih sebagai “children of the sun” dan media arus utama sebagai “Lügenpresse”, propaganda Nazi yang berarti Pers Penipu.

Di ujung-ujung pidato sejumlah orang berdiri sambil bertepuk tangan gembira. Sebagian lain memberikan salam Nazi: mengangkat tangan kanan 75 derajat, dengan empat jari lurus ke depan dan jempol ditekuk.

Spencer menutup pidatonya dengan seruan lantang yang tak kalah bikin kaget. “Hail Trump! Hail our people!” dan kemudian, “Hail victory!”—yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Jerman sama artinya dengan “Sieg Heil!”, slogan Nazi.

Ruangan menyahut dan meneriakan frasa yang sama.



Eufemisme dari Nasionalisme Kulit Putih

Eric Kaufmann, professor politik dari Universitas Birkbeck di London, telah bertahun-tahun mempelajari politik kesukuan. Saat kebanyakan ilmuwan fokus pada minoritas, Profesor Kaufmann justru meneliti sebaliknya. Ia meneliti perilaku mayoritas, ras-ras kulit putih di AS dan Inggris.

Nasionalisme kulit putih, kata Kaufmann seperti dikutip dari The New York Times, adalah keyakinan yang mengimani sebuah bangsa harus dibangun oleh ras kulit putih, dikelola oleh mereka sebagai mayoritas secara demografik, dan mendominasi kultur bangsa dan kehidupan publik. Macam supremasi kulit putih, nasionalisme kulit putih juga meyakini kalau diskriminasi terhadap ras harus diregulasikan dalam kebijakan dan produk hukum.

Bedanya, kata Kaufmann, supremasi kulit putih dibangun dari sikap rasis yang radikal: karena kulit putih merasa di atas ras lainnya. Sementara nasionalisme kulit putih adalah pandangan politik dan ekonomi yang dominan, bukan hanya secara mayoritas, tapi juga budaya hegemoni.

Dua hal ini ia lihat ada di dalam pengikut Alt-Right. Dan semua dipicu perubahan demokrasi AS yang mereka anggap telah mengancam etnis mereka. Misalnya, presiden dari ras lain, atau calon presiden yang bukan laki-laki adalah penanda yang cukup bagi Alt-Right untuk merasa terusik.

Menjadi Arus Utama

George Michael, Profesor Peradilan Pidana dari Universitas Negeri Westfield, punya pendapat serupa Kaufmann. Ia yang mengaku telah bertahun-tahun mempelajari Alt-Right yakin kalau kelompok ini tidak hanya berisi orang-orang penganut nasionalisme kulit putih, dan supremasi kulit putih, tapi juga mereka yang berideologi libertasianisme, patriarki, konservatisme cultural, dan populisme.

Tapi, Michael masih bisa melacak asal usul gerakan ini. Seperti yang dituliskannya untuk The Conversation, kelompok-kelompok berideologi di atas macam The Aryan Nations, White Aryan Resistance, the National Alliance and the World Church of the Creator muncul karena perasaan rasnya terancam pada 1995. Diikuti dengan ketidakpuasan mereka terhadap Republikan yang dinilai ideologi konservatifnya sudah dinilai berbeda.

Pada 2008, filsuf politik Paul Gottfried adalah orang pertama yang menceletukan gagasan tentang alternative right. Ia sebelumnya menyebut alt-right sebagai paleo-konservatif, untuk membedakan ideologi yang dirakitnya dari neo-konservatisme yang dominan dalam Partai Republikan waktu itu.

William Regnery II kemudian membentuk lembaga penelitian berbasis Alt-Right, bernama National Policy Institute, pada 2005. Lembaga ini dijadikan kendaraan politik yang melancarkan propaganda nasionalisme kulit putih.

Louis Andrews, ketua umum NPI sebelum Richard Spencer, bahkan pernah mengatakan pada NBC, bahwa ia memilih Obama pada 2008 untuk melihat kematian Republikan. “Aku ingin melihat Republikan hancur, agar ia bisa lahir kembali dengan kepentingan baru terhadap kulit putih. Bukan kepentingan elit partai saja,” katanya.

Ramalan Louis rupanya benar. Kekalahan Republikan memang membangun gerakan baru di sayap kanan. Spencer yang menggantikannya pada 2011, dan merilis situs bernama Alternative Right yang jadi gerakan sayap kanan baru itu. Di bawah Spencer, Alt-Right dipopulerkan melalui media sosial. Dalam bentuk opini, meme, dan sejumlah unggahan di blog.

Ruang maya jadi tempat Alt-Right berlatih menyebarkan pengaruhnya sekaligus menanggok massa. Sudut gelap internet yang ramai dijadikan tempat bergerilya melakukan gerakan bawah tanah; menyebarkan paham lewat komentar-komentar dan gambar-gambar. Bahkan di media arus utama macam USA Today, The Wasington Post, dan New York Times, mereka bisa muncul di kolom komentar.

Alt-Right kian mendulang tinggi saat Breitbart News, sebuah media konservatif yang didikan Andrew Breitbart pada 2007, mengaku menjadi paham ini sebagai fondasi medianya.

Massa Alt-Right makin rupanya makin membludak saat putaran pemilu Presiden AS tempo hari. Kesamaan visi ideologi ini dengan visi-misi yang ditawarkan Donald Trump jadi salah satu faktornya. Imigrasi, dan umpatan-umpatan rasis Trump menarik perhatian Alt-Right.

Belum lagi, faktor Stephen Bannon, Kepala Eksekutif Breitbart yang dipinang Trump sebagai kepala kampanyenya. Ketenaran Breitbart dan Alt-Right yang berbanding lurus semakin memastikan posisi Alt-Right yang dulunya hanya jadi isu pinggiran menjadi salah satu isu arus utama.

Sejumlah pihak yang tak suka atas kemenangan Trump, pun pemberitaan Breitbart, serta risih dengan kehadiran Alt-Right, makin kaget saat kabar Bannon dipilih Trump jadi penasihatnya di Gedung Putih.

Namun, baik Bannon dan Trump mengakui tidak ada hubungannya dengan Alt-Right yang dipimpin Spencer. Bannon bilang kalau Alt-Right bukanlah satu-satunya pandangan Breitbart.

“Definisi kami tentang alt-right adalah orang-orang muda yang anti-globalisme, sangat nasionalis, dan ampun anti-kemapanannya. Yang lain, beberapa yang rasis dan antisemitik adalah tambahan,” kata Bannon pada The Wall Street Journal.

Begitu pula sebaliknya.

Salah satu yang berpidato dalam konferensi Alt-Right, Peter Brimelow, mengatakan bahwa Bannon dan Trump memang bukan anggota Alt-Right. “Trump dan Steve Bannon memang bukan orang Alt-Right,” katanya menegaskan pada The New York Times.

Tapi fakta ada fakta yang tak bisa dipandang sebelah mata:

Bannon adalah Kepala Eksekutif di Breitbart saat media itu mengeluarkan berita palsu tentang Obama yang difitnah kelahiran Kenya dan beragama Islam dan berita-berita palsu serta rasis lainnya. Alt-Right terang-terang rasis dan berharap pemerintahan diisi dari ras mereka saja. Sementara Trump dienggani separuh rakyatnya, dan punya kecenderungan rasis serta terlalu nasionalis kulit putih.

Lalu, bagaimana wajah Amerika ke depannya? Are you gonna be alright? Or you will be Alt-Right?

Baca juga artikel terkait RICHARD SPENCER atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Politik)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Zen RS
DarkLight