Alfredo Reinado Sang Pemberontak

Oleh: Petrik Matanasi - 12 Februari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Alfredo Alves Reinado adalah prajurit yang memberontak terhadap tanah airnya, Timor Leste. Akhirnya ia tewas pada 11 Februari 2008.
tirto.id - Di banyak negeri, polisi militer hadir demi tegaknya disiplin di kalangan militer. Para desertir yang kabur dari kesatuan adalah orang-orang yang harus diatasi oleh para polisi militer ini. Lantas, apa jadinya kalau seorang Letnan Polisi Militer angkat senjata? Kisah Alfredo Alves Reinado adalah jawabannya.

Reinado membantu para serdadu-serdadu yang memberontak dan memperparah perang saudara di negara baru Timor Leste. Mereka merasa memberontak karena merasa dianak-tirikan dalam karir kemiliteran. Mereka biasanya serdadu yang berasal dari Timor Leste bagian barat (Loro Monu).

Serdadu-serdadu yang memberontak itu mogok sejak 8 Februari 2006. Oleh Brigadir Jenderal Taur Matan Ruak, mereka yang berjumlah 594 orang itu dipecat pada 16 Maret 2006. Jumlah itu hampir separuh dari seluruh jumlah tentara Timor Leste.

“Pada 4 Mei (2006), pemberontak jadi makin kuat dengan bergabungnya Alfredo Reinado, yang bersama 20 Polisi Militer, membawa dua truk penuh senjata api dan amunisinya. Reinado membangun markasnya di kota Aileu, di pegunungan selatan Dili, dimana banyak kelompok teror bersenjata,” catat buku SAS Insider: An elite SAS fighter on life in Australia's toughest and Most Secretive Combat Force (2014) karya Clint Palmer dan ‎Robert Macklin.

Reinado yang melakukan desersi tentu saja makin memperkuat para pemberontak. Pemerintah negara baru itupun kewalahan. Perdana Menteri Ramos Horta segera meminta bantuan Australia, Malaysia, Selandia Baru, dan Portugal.

Pasukan asing beserta armada kapal, pesawat, helikopter dan lainnya pun masuk Timor lagi. Termasuk pasukan elit Australia SAS. Pertengahan tahun Alfredo sempat tertangkap pasukan Australia dan Portugis.

“Penangkapan itu pun berupa jebakan. Saya turun ke Dili atas perintah (Militer) Australia sesuai dengan surat perintah yang ada dan mereka menjamin keamanan saya,” kata Alfredo pada Andy F Noya, seperti disiarkan dalam acara Kick Andy (2007) yang wawancaranya tercatat dalam buku Kick Andy 2: Kumpulan Kisah Inspiratif (2011).

“Perintah penangkapan itu tidak memiliki dasar hukum yang kuat,” katanya.

Ia menolak menandatangani Berita Acara Pemeriksaan yang menyebutkan bahwa ia memiliki senjata secara ilegal. Pada Agustus 2006, Alfredo kabur bersama 50 tahanan lain, bergabung kembali dengan para pemberontak. Alfredo makin hari makin kecewa kepada para pemimpin Timor Leste macam Xanana Gusmao, Ramos Horta, dan Mari Alkatiri. Ia mengatai mereka: Maputu Mafia Group. Sebuah kelompok mafia pembuat onar asal Mozambik.

Meski dianggap desersi oleh banyak pihak, termasuk dari orang-orang yang dianggapnya Maputu, Reinado yakin dia masih perwira Falintil-Forças de Defesa de Timor Leste (F-FDTL).

“Saya sendiri, apapun anggapannya, masih sebagai anggota militer,” katanya. Lalu, saat Andy F Noya memastikan bahwa Reinado memang merasa belum dipecat dan masih merasa sebagai Komandan Polisi Militer Timor Leste, ia menjawab tegas, “Belum, dan masih menjabat posisi itu."

Bagi Reinado, “Xanana yang sekarang bukan Xanana yang dulu lagi.” Begitu pula Mari Alkatiri dan Ramos Horta. Mereka bukan mereka di saat muda dan dikejar-kejar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Mereka tidak lagi seperti ketika Reinado masih bocah, terpisah dari keluarganya, dan terpaksa jadi Tenaga Bantuan Operasi (TBO) bagi ABRI.

Menurut Sara Niner, dalam tulisan di The Asia Pacific Journal volume 6 Februari 2008, "Major Alfredo Alves Reinado: Cycles of Torture, Pain and Violence in East Timor":

“Sebagai bocah laki-laki yang masih kecil dia dijadikan anak angkat anggota ABRI, untuk dijadikan pekerja. Ia layaknya seorang TBO atau porter yang mau tidak mau terlibat dalam operasi militer. Kekerasan dan perkosaan jadi bagian yang dia saksikan ketika masih bocah itu."

Infografik alfredo Reinado Sang Mayor Pemberontak


Menurut Niner, Reinado lahir di Aileu, November 1966. Ayahnya berdarah Portugis dan ibunya asli Timor. Selepas menyaksikan kengerian perang, dengan dimasukkan ke sebuah kotak, Alfredo dikapalkan ke Sulawesi dan menjadi pembantu di keluarga Sersan ABRI. Di usia sekitar 18 tahun, dirinya kabur dari keluarga itu.

Dia lari ke Kalimantan. Setelahnya, dia berhasil kembali ke pulau kelahirannya yang sudah menjadi provinsi ke-27 Indonesia: Timor Timur, saat dia menemukan ibunya kembali. Lalu, dia bekerja pada pamannya di Dili. Pada 1980an, dia ikut serta dalam gerakan perlawanan.

Juli 1995, Reinado kabur ke Australia naik perahu. Ada 18 orang Timor yang ikut dalam perahu itu, termasuk istri yang masih muda dan bayinya. Di sana, Reinado sempat bekerja di perkapalan. Setelah Referendum 1999, dia kembali pulau kelahirannya lagi, yang telah menjadi negara baru Timor Leste.

“Dengan pengalamannya di perkapalan dia diberi posisi sebagai pemimpin dua kapal patroli Angkatan Laut Timor Leste. Sebuah masalah [asmara] membuatnya harus mengalami penurunan pangkat. Sebagai bagian dari program kerja kersama pertahanan dia dikatih di Akademi Pertahanan Australia di Canberra. Setelahnya dia menjadi Komandan unit Polisi Militer F-FDTL, Tentara baru Timor Leste,” tulis Sara Niner.

Antara (11/02/2008) menyebut dia pernah mempelajari manajemen militer di Australia (2003), manajemen darurat (2004), dan merampungkan 3 bulan latihan di Australia Joint Command and Staff College Canberra (2005). Ia pernah juga belajar ilmu militer ke Portugis dan Brazil.

Tentu saja tak semua perwira di F-FDTL punya pendidikan militer sementereng Reinado. Jika tak terlibat krisis militer 2006, Alfredo punya peluang karir yang cukup bagus di militer. Jabatan Komandan unit Polisi Militer harusnya membuatnya menjadi orang kuat yang disegani di Timor Leste.

Namun, pemberontakan militer di tahun 2006 itu membuat namanya dikenal, bahkan oleh publik Indonesia. Permusuhannya dengan para pejabat tinggi Timor Leste macam Ramos-Mari-Xanana juga semakin meruncing.

Sang Mayor Alfredo Reinado ini akhirnya ditemukan tewas setelah insiden yang melukai Presiden Ramos Horta menjelang fajar Senin, 11 Februari 2008. Jurubicara militer Timor Leste, Mayor Domingos da Camara mengatakan Reinado tewas saat melakukan serangan terhadap Presiden Horta. Meski begitu, beberapa pihak termasuk keluarganya menganggap sebab kematiannya masih misterius.

Baca juga artikel terkait TIMOR LESTE atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight