Alergi Lateks? Anda Perlu Coba Kondom Plastik

Infografik Kondom tipis
Ilustrasi Kondom. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Widia Primastika - 21 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kondom polyurethane berbahan plastik tipis. Belakangan mulai dikembangkan sebagai solusi alergi terhadap lateks.
tirto.id - Aktivitas ranjang adalah salah satu cara mempererat hubungan pasangan setelah menjalani rutinitas harian. Namun keinginan untuk berhenti berkembang biak tak jarang menjadi ganjalan untuk melakukan hubungan seks dengan pasangan.

Kondom bisa mengatasi hambatan itu. Tapi bahan lateks yang tebal tentu saja mengurangi kepuasan bercinta. Selain tebal, kondom berbahan lateks yang umum beredar di pasaran bisa menyebabkan alergi pada beberapa orang.

Dilansir dari situs kesehatan WebMD, alergi terhadap lateks dapat menimbulkan beragam reaksi dari ringan seperti ruam merah dan gatal, reaksi tertunda yang muncul setelah 12 jam pemakaian seperti pembengkakan, hingga reaksi parah seperti kesulitan bernapas.

Situs Bustle pernah memaparkan aneka jenis kondom alternatif, misalnya kondom polyisoprene, kondom polyurethane, kondom nitrile, dan kondom dari kulit domba.

Dari keempat jenis itu, kondom polyisoprene dan kondom polyurethane disebut-sebut sebagai yang paling baik. Kondom nitrile dirancang untuk digunakan perempuan, tapi penggunaannya rumit. Sedangkan kondom kulit domba tak dianjurkan karena tak bisa mencegah infeksi menular seksual.

Meski dianggap terbaik, kondom polyisoprene tak disarankan jika Anda yang memiliki alergi berat terhadap lateks, sebab bahan kondom ini masih termasuk dalam keluarga lateks.

Kondom polyurethane bisa menjadi solusi. Kondom jenis ini belakangan sering dibicarakan karena sangat tipis. Kondom polyurethane merupakan jenis kondom yang direkomendasikan oleh U.S. Food and Drug Administration (FDA) bagi orang-orang yang alergi terhadap lateks. Kondom ini pun mampu melindungi pemakainya dari penyakit menular seksual.

Meski begitu, FDA menyebutkan bahwa kondom polyurethane merupakan kondom dengan harga yang paling mahal.

Kondom ini memang baru populer belakangan. Namun, menurut Hallie Lieberman dalam “A Short History of the Condom” (2017) yang ditulis oleh Hallie Lieberman, kondom polyurethane mulai muncul sejak Perang Dunia II. Tak beda dengan hari ini, kondom lateks juga terkenal pada zaman itu.

Kala itu produksi kondom meningkat hingga 3 juta per hari untuk memenuhi kebutuhan pasukan Amerika. Ketika diperkenalkan, kondom ini cukup menarik perhatian karena bentuknya yang lebih tipis sehingga konon lebih mampu membakar gairah seksual.

Namun, dalam “The History of the Condom” yang dimuat dalam Journal of the Royal Society of Medicine (PDF, 1993), H. Youssef menceritakan bahwa kondom kondom polyurethane memiliki tingkat pecah yang tinggi. Oleh sebab itu penelitian terhadap kondom polyurethane dihentikan, dan kondom lateks warna-warni jadi pilihan utama.

Kini, kondom polyurethane kembali dikembangkan, karena mampu menjadi penghalang yang efektif terhadap penularan HIV serta bakteri. Dikutip dari situs Very Well Health, polyurethane adalah jenis plastik bening dan tipis. Bahan kondom ini tidak sekencang kondom lateks, tapi lebih kuat.

Bahannya yang tipis akan menghasilkan kenikmatan bercinta yang lebih dibandingkan kondom jenis lain, sebab kondom ini bisa meningkatkan sensitivitas. Selain itu, kondom ini juga mampu mentransmisikan panas yang lebih baik daripada kondom lainnya sehingga mampu meningkatkan kepuasan seksual.

Keunggulan lainnya, kondom polyurethane tersedia dalam dua jenis, yakni untuk laki-laki dan perempuan.

Sensasi Bercinta dengan Kondom Polyurethane

Michael J. Rosenberg, bersama dengan tiga periset lainnya melakukan percobaan berjudul “The Male Polyurethane Condom: A Review of Current Knowledge” (PDF) yang melibatkan 42 pasangan dari Inggris, Skotlandia, dan Wales. Sebelum penilitian, Rosenberg, dkk terlebih dahulu mengumpulkan informasi lengkap tentang kerusakan kondom dan selip.

Angka tingkat kerusakan dan selip pada riset ini dikelompokkan menjadi kerusakan klinis, yakni jumlah kondom yang rusak selama berhubungan seksual dibagi jumlah kondom yang digunakan; selip saat berhubungan intim, yaitu kondom yang terlepas dari penis selama berhubungan seksual dibandingkan dengan jumlah kondom yang digunakan; selip selama penarikan, yakni jumlah kondom yang benar-benar terlepas dari penis selama penarikan dibagi dengan jumlah kondom yang digunakan selama hubungan seksual; kegagalan klinis total, yaitu kondom yang benar-benar rusak atau terlepas sepenuhnya selama hubungan seksual atau saat penarikan, dibagi dengan jumlah yang digunakan selama hubungan seksual; serta kerusakan non klinis, yaitu kerusakan yang terjadi saat kondom dibuka atau saat mengenakan kondom.

Dalam studi ini, setiap pasangan diberi tiga sampel kondom yakni kondom polyurethane, kondom lateks, dan varian kondom polyurethane dengan dimensi berbeda. Masing-masing kondom dibungkus menggunakan foil persegi polos yang identik.

Hasilnya? Nilai kegagalan klinis kondom polyurethane lebih kecil dibandingkan kondom lateks, meski selisihnya tak terlampau besar. Berdasarkan subyektifitas konsumen, kondom polyurethane lebih disukai oleh pemakai dibandingkan dengan lateks dalam hal penampilan, bau yang lebih bersahabat, kemungkinan selip selama penggunaan, kenyamanan penggunaan, sensitivitas, penampilan alami, dan sensasi bercinta yang natural.



Meski begitu, dalam hal kekuatan, kondom polyurethane tidak jauh lebih baik dibandingkan lateks.

Y.S. Marfatia, Ipsa Pandya, dan Kajal Mehta dalam studi berjudul “Condoms: Past, present, and future” (2015) mengungkap perihal efektivitas dari polyurethane pada kondom perempuan. Mereka mengatakan bahwa kondom polyurethane efektif sebagai alat pelindung terhadap HIV atau Infeksi Menular Seksual (IMS) dengan tingkat kemanjuran 95% pada penggunaan sempurna dan 79% dengan penggunaan yang tertentu.

Hanya saja selain mahal, kondom untuk perempuan lebih sulit untuk dijumpai di pasaran. Selain itu, kondom ini juga tak mudah diterima oleh pria karena penggunaannya yang sulit, serta bisa mengurangi kenikmatan saat penetrasi, bahkan tak jarang bisa mengakibatkan rasa sakit saat berhubungan intim.

Situs Very Well Health menuliskan beberapa kelemahan dari kondom polyurethane seperti kurang elastis dan lebih longgar daripada kondom lateks. Tak hanya itu, bentuknya yang tipis bisa membuat Anda tak sadar jika kondom ini lepas. Model ini tentu saja tak cocok bagi Anda yang suka permainan ranjang yang akrobatik.

Baca juga artikel terkait KONDOM atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Windu Jusuf
DarkLight