30 November 1982

Album Thriller Michael Jackson Jadi Bagian Kebutuhan Rumah Tangga

Oleh: Tyson Tirta - 30 November 2021
Dibaca Normal 3 menit
Album Thriller tidak lagi terjual sebagai kepingan album yang diincar musiknya. Tetapi telah menjadi bagian dari kebutuhan rumah tangga bagi warga Amerika.
tirto.id - Quincy Jones, produser musik Amerika Serikat, bekerja sama dengan Michael Jackson mengerjakan album Off the Wall pada 1979. Awalnya, Jackson tidak yakin dengan album itu. Yang jelas, da ingin keluar dari persona lamanya di grup musik Jackson 5. Dia ingin bebas berkreasi dan tampil dengan personanya sendiri sebagai penyanyi solo. Sejumlah nama besar dilibatkan seperti Stevie Wonder, David Foster, hingga Paul McCartney. Maka dimulailah proses produksi mulai Desember 1978 hingga Juni 1979.

Album dengan total durasi sekitar 42 menit itu terbilang sukses. Penjualannya mencapai 20 juta keping. Kerja sama yang apik antara Jackson dengan Quincy Jones ini semakin menunjukkan hasil yang baik. Sebelumnya, mereka mulai menjalin kerja sama ketika Jackson tampil memainkan karakter Scarecrow dalam film musikal The Wiz. dalam film itu, skoring musik diurus oleh Jones.

Tiga tahun setelah Off the Wall dirilis, keduanya kembali membuat proyek rekaman studio. Kali ini konsepnya hendak melawan tren musik masa itu yang didominasi disko. Tak ada yang menyangka, album yang kemudian diberi nama Thriller itu meledak menjadi album rekaman studio paling laris sepanjang sejarah musik modern.

Pada 1982, Thriller merupakan proyek album rekaman studio Michael Jackson yang ke-6. Seperti Off the Wall, album ini juga dirilis oleh Epic Records. Kali ini dia ingin memastikan semua lagu yang tampil di album itu bisa diterima oleh para penggemarnya.

Di waktu yang bersamaan, dunia musik modern baru saja melewati dekade 1970-an yang penuh disko. Jackson tidak ingin Thriller sekadar jadi album biasa yang muncul lalu dilupakan orang. Oleh karena itu, dia serius menggarap eksplorasi musiknya.

Michael Jackson mulai merekam pada 14 April di Westlake Recording Studio dan baru selesai tujuh bulan kemudian. Dia ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dari tren yang telah terbentuk di masanya. Oleh karena itu, ketika selesai digarap, album ini seakan menjadi suara baru yang mengandung nuansa pop, disco, rock, funk, hingga r&b. Proses rekaman yang panjang tentunya juga memakan biaya besar hingga 750.000 Dolar AS.


Tanggapan positif dari para penggemar pun akhirnya berdatangan. Hasilnya: 7 dari 9 lagu tembus puncak US Billboard. Single "Beat It" dan "Billie Jean" jadi yang paling menggemparkan. Dua single itu mendongkrak penjualan album terutama ketika Michael Jackson menyanyikan "Billie Jean" pada 1983 di acara Motown 25: Yesterday, Today, Forever.

Acara itu merupakan program televisi yang khusus dibuat oleh Suzanne de Passe dalam rangka memperingati 25 tahun Motown Records. Mereka merekam acaranya di Pasadena Civic Auditorium di California pada Maret 1983 sebelum disiarkan pada 16 Mei oleh NBC.

Di sana, "Billie Jean" menjadi salah satu penampilan andalan. Selain Michael Jackson, hadir pula Smokey Robinson dan lain-lain. Jackson kala itu untuk pertama kalinya menampilkan koreografi “Moonwalk” yang mendunia.

Hingga akhir 1983, Thriller telah memecahkan rekor penjualan album terbanyak di seluruh dunia dengan 32 juta keping. Rekor lain, album ini menjadi album pertama dengan penjualan terbaik di AS dalam dua tahun berturut-turut.

Masifnya penjualan album itu menunjukkan bahwa Michael Jackson telah menembus batasan rasial dalam musik pop. Ia semakin sering tampil di MTV, dan secara langsung mentransformasi industri musik video. Imbasnya, industri musik AS makin serius menggarap video musik yang sebelumnya agak kurang berkembang. Di luar urusan musik, ia juga menjadi standar baru bagi mekanisme promosi, hak cipta, produksi, pemasaran, hingga koreografi.

Atas kesuksesannya itu, Michael Jackson sampai diundang khusus oleh Presiden Ronald Reagan ke Gedung Putih. Dalam undangan resminya, staf Gedung Putih menjelaskan bahwa maksud undangan itu adalah untuk memberikan Michael Jackson penghargaan Presidential Public Safety Communication Award karena mengizinkan "Beat It" untuk menggalakkan kampanye anti mengemudi sambil mengonsumsi minuman keras.

“Saya punya sedikit pesan dari para penggemarmu di Washington D.C. Mereka bilang kami ingin Anda. Jadi ketika nanti kamu memulai tur keliling AS, tolong pastikan kamu mampir ke sini, ke ibukota negaramu,” kata Ronald Reagan.

Infografik Mozaik Michael Jackson
Infografik Mozaik Album 'Thriller' Michael Jackson dirilis. tirto.id/Tino


Memecahkan Rekor dan Mencetak Sejarah

Thriller akhirnya menjadi album musik paling laris sepanjang sejarah dengan total penjualan mencapai 70 juta keping. Pada 1984, album itu mencetak rekor lagi dengan perolehan 8 Grammy Awards. Blender, majalah musik AS, mendeskripsikan Jackson sebagai ikon musik pop akhir abad ke-20. Sementara The New York Times menyebutnya sebagai fenomena musik.

Kesuksesan Thriller membuat Michael Jackson meraup untung finansial yang sangat besar. Begitu tingginya nilai pemasaran Jackson, ia bahkan bisa mematok bandrol 2 dollar untuk setiap keping album Thriller yang terjual. John Branca, kuasa hukumnya, sempat menghitung sendiri dan mengonfirmasi hal tersebut.

Selain itu, dia juga mendapat untung dari penjualan compact disc dokumenter The making of Michael Jackson’s Thriller. Dari film dokumenter itu, MTV yang awalnya memberikan modal produksi bisa menjualnya hingga 350 ribu keping dalam beberapa bulan pertama.

Yang paling terasa dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan Amerika, Thriller menjadi ikon utama di era itu. Pembelinya mengincar kepingan album tersebut bukan lagi untuk alasan musik.

“Pada suatu ketika, Thriller tidak lagi terjual sebagai kepingan album yang diincar musiknya. Album itu telah menjadi bagian dari kebutuhan rumah tangga bagi warga Amerika,” kata J. Randy Taraborrelli dalam bukunya The Magic and the Madness (2004:231)

Baca juga artikel terkait MICHAEL JACKSON atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Musik)

Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh Pribadi
DarkLight