Alasan Orang Kota dan Lajang Lebih Bahagia

Oleh: Patresia Kirnandita - 19 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
BPS merilis hasil survei indeks kebahagiaan 2017 yang menunjukkan orang kota dan lajang lebih bahagia daripada orang di pedesaan dan yang menikah atau cerai. Apa alasan mereka lebih bahagia?
tirto.id - BPS baru saja merilis hasil survei pengukuran tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia dari berbagai klasifikasi. Secara general, indeks kebahagiaan Indonesia tahun 2017 adalah sebesar 70,69 dari skala 0-100.

Ada yang berbeda dari pengukuran tingkat kebahagiaan Indonesia tahun ini. Bila pada 2014 pengukuran tingkat kebahagiaan hanya menggunakan dimensi kepuasan hidup, kali ini BPS menambahkan dua dimensi lain yakni dimensi perasaan (affect) dan dimensi makna hidup (eudaimonia). Sementara untuk dimensi kepuasan hidup, BPS membaginya lagi menjadi dua subdimensi yaitu subdimensi kepuasan hidup personal dan subdimensi kepuasan hidup sosial.

Jika dibandingkan dengan survei yang diadakan pada 2014 silam yang masih menggunakan satu dimensi, indeks kebahagiaan Indonesia tahun 2017 memperlihatkan peningkatan 1,23 poin.

Ragam indikator penyusun dimensi dan subdimensi pengukur indeks kebahagiaan pun dijabarkan BPS dalam rilis surveinya. Untuk dimensi perasaan, indikator kebahagiaan dilihat dari perasaan tidak tertekan, perasaan tidak khawatir, serta perasaan senang. Sementara untuk dimensi makna hidup, BPS memakai indikator penerimaan diri, tujuan hidup, hubungan positif dengan orang lain, pengembangan diri, penguasaan lingkungan, dan kemandirian. Subdimensi kepuasan hidup personal ditakar dari beberapa hal seperti pendidikan dan keterampilan, pekerjaan/usaha/kegiatan utama, pendapatan rumah tangga, kesehatan, serta kondisi dan fasilitas rumah. Sedangkan untuk subdimensi kepuasan hidup sosial, indikator yang digunakan ialah keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, keadaan lingkungan, dan kondisi keamanan.

Dari patokan-patokan ukuran tersebut, diperoleh sejumlah hasil. Berdasarkan klasifikasi wilayah, warga perkotaan lebih bahagia dengan skor 71,64, sedangkan indeks kebahagiaan warga perdesaan hanya mencapai 69,57. Berdasarkan jenis kelamin, ditemukan data yang menunjukkan laki-laki lebih bahagia dengan skor 71,12, sementara perempuan 70,30.

Anak-anak muda di bawah 24 tahun rupanya dinilai lebih bahagia daripada dewasa dan lanjut usia. Capaian skor kebahagiaan orang di bawah 24 tahun adalah 71,29, disusul orang berusia 25-40 dengan skor 71,13, orang berusia 41-64 dengan skor 70,69, dan paling buncit, orang berusia di atas 65 dengan skor 69,18.

Temuan menarik BPS lainnya adalah indeks kebahagiaan dengan klasifikasi status perkawinan. Mereka yang belum menikah tercatat memiliki skor kebahagiaan paling tinggi yakni 71,53, baru diekori dengan orang yang menikah sebesar 71,09, cerai hidup 67,83, dan cerai mati 68,37.

Baca juga:

Infografik Bahagia itu

Kenapa Tinggal di Kota Bisa Lebih Membahagiakan?

Banyak yang berasumsi, mereka yang tinggal di kota cenderung lebih stres dibanding warga pedesaan akibat lebih padatnya aktivitas, mulai dari di tempat kerja hingga di jalan. Namun ternyata, ada alasan-alasan yang mungkin membuat warga merasa lebih bahagia tinggal di kota.

Michael Hogan, Ph.D., peneliti dari National University of Ireland, Galway, mengungkapkan argumennya tentang faktor-faktor pemicu kebahagiaan warga kota di situs Psychology Today. Ia bersama koleganya telah melakukan penelitian terhadap 5000 warga usia 25-85 di beberapa kota besar di dunia seperti Berlin, Paris, London, New York, dan Toronto untuk mengetahui level kebahagiaan mereka. Menurut Hogan, place dan performance merupakan dua variabel utama yang memengaruhi kebahagiaan yang dirasakan warga kota.

Place berhubungan dengan kenyamanan tinggal di kota, mencakup penilaian warga terhadap keindahan atau kondisi lingkungan kotanya, seberapa bangga mereka tinggal di sana, serta seberapa mudah mereka mengakses ruang hijau dan fasilitas publik lainnya. Sementara, performance terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar, melingkupi penilaian warga terhadap layanan pemerintah kota semacam sekolah, fasilitas kesehatan, keamanan, serta fasilitas untuk orang miskin.

Dari hasil studi Hogan et al. (2016) ditemukan, anak-anak muda kota merasa lebih bahagia lantaran mudahnya mengakses fasilitas publik seperti tempat berbelanja, transportasi, atau tempat berolah raga. Kemolekan kota menjadi poin plus lain yang membikin mereka kian betah tinggal di kota. Sedangkan bagi warga kota yang lebih dewasa atau lansia, variabel performance lebih berperan dalam memompa level kebahagiaan mereka tinggal di sana. Kombinasi kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar serta kondisi lingkungan kota berdampak terhadap kesehatan dan koneksi sosial warga kota yang sangat terkait dengan tingkat kebahagiaan mereka.

Alasan si Lajang Lebih Bahagia

Jika Hogan meneliti dari aspek tempat tinggal, Bella dePaulo, pakar psikologi dari University of California, Santa Barbara, mengulik hal-hal yang membuat para lajang merasa lebih bahagia. Dilansir The Guardian, dePaulo telah mengkaji studi-studi terdahulu dan menemukan data yang menunjukkan bahwa orang lajang memiliki koneksi lebih erat dengan keluarga dan teman, sementara mereka yang telah menikah cenderung lebih berfokus kepada rumah tangganya. Ia juga menemukan bahwa semakin orang lajang merasa dirinya berkecukupan, semakin kecil kemungkinannya merasakan emosi negatif. Tidak hanya itu, dePaulo juga berargumen bahwa orang lajang lebih mungkin mengalami pertumbuhan psikologi yang lebih baik daripada orang-orang menikah.

Cukup di sini tentunya bukan cuma terkait aspek finansial atau materi. Orang lajang yang merasa dirinya baik-baik saja tanpa menyandang predikat istri atau suami orang lain, atau dengan kata lain sukses menghadapi tekanan sosial untuk berpasangan, juga bisa merasa berkecukupan. Dengan demikian, ia tak perlu memusingkan pemenuhan kebutuhan anggota keluarganya, baik secara lahir maupun batin.

Generalisasi bahwa para lajang pasti lebih bahagia yang diterima mentah-mentah tentu saja tidak benar. Ada hal tertentu yang memengaruhi kebahagiaan mereka. Dalam situs Health dikatakan, orang berpasangan atau menikah pun bisa saja sebahagia lajang jika mereka mampu menghindari konflik dan drama dalam hubungannya. Faktor konflik dengan pasangan yang tidak ditemukan dalam diri para lajanglah yang membuat mereka terbebas dari sumber stres, demikian dinyatakan Yuthika Girme dan koleganya dari University of Auckland, Selandia Baru.

Pesan untuk tidak menyederhanakan kebahagiaan berdasarkan status perkawinan atau relasi romantis pun diungkapkan oleh James Maddux, peneliti dari Center for the Advancement of Well-Being, George Mason University, Fairfax.

“Saya rasa studi (tentang status perkawinan dan kebahagiaan) ini menekankan pada gagasan bahwa Anda tidak bisa satu temuan cocok diamini dalam segala konteks. Kepuasan hidup merupakan isu yang sangat kompleks. Semakin kita mempelajarinya, semakin banyak perbedaan atau nuansa yang kita temukan,” komentar Maddux.

Anda setuju?

Baca juga artikel terkait INDEKS KEBAHAGIAAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti