Alasan Kemenpar Incar Singapura Sebagai Titik Transit Penerbangan

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 4 Maret 2019
Arief mengatakan bila pemerintah Indonesia berusaha memperoleh direct flight maka dipastikan akan membutuhkan waktu yang lama.
tirto.id - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mencanangkan Singapura sebagai airline hub atau bandar udara yang digunakan sebagai penghubung maskapai penerbangan dari dunia internasional ke Indonesia.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan langkah itu dipilih lantaran Indonesia kerap kesulitan mencari penerbangan langsung (direct flight) ke sejumlah negara dunia.

“Kemenpar sedang buat Singapura sebagai tourism hub jadi semua effort akan turun ke Singapura. Saya tidak ingin mereka diposisikan sebagai pesaing,” ucap Arief dalam acara penandatanganan MOU antara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Tiket.com di Menara BCA pada Senin (4/3/2019).

Arief mengatakan bila pemerintah Indonesia berusaha memperoleh direct flight maka dipastikan akan membutuhkan waktu yang lama.

Bahkan menurutnya, upaya itu tentu akan memakan biaya yang tidak sedikit.

Ia pun mecontohkan sulitnya memperoleh direct flight Indonesia-India yang sampai memakan waktu tiga tahun.

Namun, hasilnya tak seberapa dibanding Singapura yang sudah lama memiliki akses layanan itu dengan 70 penerbangan per minggu.

“Saya minta direct flight Indonesia-India saja butuh tiga tahun. Dapatnya hanya beberapa kali dalam seminggu. Sementara penerbangan Singapura-India sudah 70 penerbangan per minggu,” ucap Arief.

Bila langkah ini berhasil direalisasikan, Arief mengatakan setidaknya akan ada peningkatan turis yang transit di Singapura.

Ia memperkirakan dari semula 700-900 ribu orang, jumlah itu bisa meningkat hingga dua juta orang.

Ia pun mengaku telah mendiskusikan hal ini dengan dinas pariwisata di Singapura.

Ia mengatakan kerjasama ini dipastikan dapat meningkatkan turis yang mau singgah di Singapura sebelum mereka menginjakkan kaki di Indonesia.


Baca juga artikel terkait PARIWISATA atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Nur Hidayah Perwitasari