12 Februari 2017

Al Jarreau: Obituari untuk Maestro Scat-Singing

Ilustrasi Mozaik Al Jarreau. tirto.id/Nauval
Oleh: Nuran Wibisono - 12 Februari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Jika ingin mendengarkan teknik scat Al Jarreau yang amboi itu, kita bisa mendengarnya di "Agua De Beber" dan tentu saja "Spain (I Can Recall)."
Dalam hidup Al Jarreau, musik adalah nomor dua. Memang ia lahir di keluarga yang mencintai musik. Ayahnya adalah pendeta dan penyanyi di gereja di Reservoir Avenue. Sementara ibunya adalah pemain piano di gereja yang sama.

Satu keluarga Jarreau bernyanyi bersama di konser-konser gereja dan konser amal lain. Tapi, Al semula tak pernah menganggap musik sebagai prioritas utama. Lucu memang, apalagi sekarang kita mengenalnya sebagai penyanyi dengan suara akrobatik dan gaya scat-singing yang sukar dicari tandingannya. Itu kenyataannya, dan pernyataan itu ditakik di situs pribadinya.

"Prioritas nomor satunya menyembuhkan dan membuat nyaman semua orang yang membutuhkan, baik mereka yang mengalami kesakitan fisik atau jiwa, dia akan menenangkan jiwa dan raga kita."

Al memang tidak meniatkan diri sebagai penyanyi profesional. Ia cemerlang sebagai pelajar. Saat SMA, lelaki bernama asli Alwin Lopez Jarreau ini menjadi perwakilan SMA Lincoln dalam acara Badger Boys State, sebuah program kepemudaan. Ia terpilih sebagai pemimpin dari sekitar 850-an siswa.

Di bangku kuliah, kegemilangannya berlanjut. Ia mendapatkan gelar sarjana psikologi dari Ripon College. Kemudian ia mengambil gelar pasca-sarjana di jurusan Vocational Rehabilitation dari Universitas Iowa. Selepas lulus, ia pergi ke San Francisco untuk bekerja sebagai tenaga konseling.

Al memang bisa dan biasa menenangkan jiwa orang lain. Tapi, jiwanya juga butuh ketenangan. Dan itu bisa diwujudukan dalam prioritas nomor duanya: musik.

Ia bermain musik dengan Indigo, juga bermain bersama George Duke Trio, serta gitaris Julio Martinez di Gatsby's, sebuah klub kecil di Sausalito, Kalifornia. Kepopuleran Al dan Julio yang lantas membuat Al memutuskan masuk lebih dalam ke dunia musik.

Mendunia dan Diragukan

Dunia beruntung akhirnya Al memilih prioritas nomor duanya. Ia menjadi penyanyi dalam usia 30-an. Karena itu pula Al bisa menghibur dan membuat nyaman orang dalam jumlah lebih banyak. Terbukti, pilihannya tak salah.

Mau tak mau kita akan dibawa ke Spanyol. Ini tanah yang jauh, terpisahkan oleh Laut Atlantik Utara, dan butuh 12 jam penerbangan dari tanah kelahiran Al di Milwaukee.

Namun, imajinasi membuat Al bisa menggambarkan Spanyol dengan baik. Ia, sama dengan Ernest Hemmingway, adalah dua dari sedikit orang yang bisa menggambarkan Spanyol seraya mengajak kita menelusuri tiap jengkal tanahnya.

Jika Hemmingway menggambarkan Spanyol dengan kisah matador, kematian gelap dan penuh darah dalam Death in the Afternoon, Al menggambarkan bagaimana hangatnya jatuh cinta yang ditingkahi hujan dan dedaunan cokelat yang berguguran di tanah tempat suara ritmik castanet menjelma degup jantung penduduknya.

In Spain I did love and adore you

The nights filled with joy were our yesterdays

And tomorrow will bring you near me

"Spain" adalah lagu instrumental yang muncul dalam album Light as a Feather (1973) milik band Return Forever yang dikomandani Chick Corea. Pada 1980, Al Jareau bersama Artie Maren membubuhkan lirik di lagu ini untuk album This Time. Lagu ini selain bisa menghadirkan imajinasi tentang Spanyol yang bergairah, juga memberikan gambaran betapa dahsyat cara bernyanyi Al.

Pada bait "I can recall my desire. Every reverie is on fire and I get a picture of all our yesterdays. Yes today, I can say I get a kick every time they play that Spain again", Al menunjukkan teknik scat yang sungguh anggun dan tentu sukar ditiru. Dan di menit ke-5, bersama keyboard yang dimainkan, simak bagaimana suara manusia bisa menjelma aksi akrobat nan sukar dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang terpilih.

Lagu ini kemudian menjadi komposisi sejuta umat jazz, dimainkan dalam berbagai festival jazz, didendangkan oleh penyanyi yang terinspirasi Al, dan mereka yang ingin belajar bermain bass dengan canggih.

Album This Time membawa Al mendapatkan nominasi Grammy pada ranah R&B untuk pertama kali pada 1981. Album ini pula yang memantik banyak kesangsian terhadap ruh jazz pada Al.

Para puritan jazz menganggap Al tak punya identitas. Jangkauan bermusiknya terlalu luas untuk dianggap sebagai musisi jazz. Pengaruh beragam musik ini memang terasa, misalkan, jika menengok penghargaan Grammy yang pernah didapatnya. Ia pernah menyabet Best Jazz Vocal Performance, juga Pop Vocal, dan R&B. Menunjukkan memang warna musiknya dinamis.

Stephen Holden, kritikus musik untuk The New York Times, pernah menuliskan perihal ini ketika menonton konser Al di Savoy, New York, pada 1981.

"Al Jarreau mungkin adalah penyanyi paling berbakat di jazz-fusion hari ini," tulis Holden. "Namun, konser Jarreau kekurangan aura emosional jazz. Dia memang musisi berbakat, tapi musiknya terasa hanya di permukaan."

Tapi, Al kalem saja menghadapi kritikan seperti itu. Menurut Al dalam wawancara bersama The Los Angeles Times pada 1986, menjadi jazz itu justru harus berubah, ritmik, dinamis, menghindari kejumudan. Tak ada jazz yang benar-benar statis. Apalagi ketika di panggung: tempat para musisi jazz hanya berpatokan pada benang merah, kemudian dibebaskan untuk menciptakan komposisi sendiri.

"Sikap jazz itu adalah ide untuk terbuka kepada setiap dan semua momen sebagai kesempatan untuk membuat sesuatu yang berbeda," ujarnya. "Aku berusaha menjadi penerima. Mendengarkan, dan tidak takut untuk mencoba hal baru."

Karenanya, kita bisa menikmati Al Jarreau yang penuh warna seperti hari ini.

Jika ingin mendengarkan teknik scat-nya yang amboi itu, kita bisa mendengarnya di "Take Five", "You Don't See Me", "Agua De Beber", "Fire and Rain", dan tentu saja "Spain (I Can Recall)".

Jika ingin mengawali pagi hari dengan mood yang baik, tolong jangan buka media sosial dulu. Seduh kopi, goreng pisang, lalu putar "Morning". Ini adalah pilihan terbaik untuk memulai hari.

Menjelang siang, jika sedang diburu deadline dan tetap ingin bersemangat, bisa dengar "Boogie Down" yang kerap dipakai sebagai musik pengiring di lantai dansa. Tembang "Trouble in Paradise", "Breakin' Away", atau "Never Givin' Up" cocok didengar di sore hari saat semua pekerjaan sudah rampung dan kamu bisa rileks sembari berbincang bersama kawan-kawan baik. Malam tiba, kamu sedang dalam mood berkasih-kasihan, coba putar "We're In This Love Together" atau "Teach Me Tonight" yang paten itu.

Selama kariernya, Al sudah membuat 16 album studio. Tak semua albumnya berkualitas nomor satu. Ada yang direkam untuk bersenang-senang dan tak ngotot mengejar estetika. Al juga rutin tur keliling dunia. Ia sempat mampir ke Indonesia dan bermain di festival Java Jazz 2012 bersama George Duke Trio.


Menuju Spanyol, Senor

Sejak 2010, Al mengalami gangguan kesehatan. Pada Juli, ia dirawat di Perancis karena mengalami gangguan pernapasan ketika manggung di lereng Alpen. Karena itu Al harus membatalkan empat konsernya.

Pada 7 Februari, Al dirawat di rumah sakit di Los Angeles karena kelelahan. Di situswebnya, Al dirawat dan bisa merespons dengan baik, tetapi kesehatannya meningkat perlahan-lahan. Namun, di Twitter pada 10 Februari, akun @AlJarreau mengunggah video Al yang menyanyikan "Moonlighting" ke salah satu perawat.

Dasar Al, meski sakit, ia masih terus ingin menghibur orang dan membuat mereka nyaman. Ia juga sempat menulis ucapan pamit berhenti tur di laman Facebooknya. Tim medis menyatakan Al sudah tak bisa lagi melakoni tur.

"Dengan penyesalan amat dalam, Al berhenti dari tur. Ia amat berterima kasih untuk 50 tahun keliling dunia sembari bermain musik, juga berterima kasih kepada orang-orang yang berbagi dengannya--penonton yang setia, musisi yang berdedikasi, dan orang lain yang mendukungnya selama ini," tulis tim Al.

Hari itu tiba juga dan sama seperti kematian manapun: Ia selalu menimbulkan keterkejutan yang tak terperi. Al meninggal di Los Angeles pada 12 Februari 2017, tepat hari ini tiga tahun lalu.

Mendengar berita kematiannya, mungkin ribuan penggemarnya akan memutar "Spain (I Can Recall)" serentak, seraya mengingat bagaimana lincahnya bibir Al memulai scat dan memukau para penonton.

Selamat jalan, Al. Mari menuju Spanyol untuk kali terakhir, tanah yang selalu basah oleh hujan bulan Desember dan bebunyian castanet adalah jelmaan debar jantung warganya.

I can recall my desire every reverie is on fire

And I get a picture of all our yesterdays

Yes today I can say

I get a kick every time you sing that Spain

Baca juga artikel terkait MUSISI atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Irfan Teguh
DarkLight