Akutnya Polusi di Cina dan Sindiran Masker Sneaker

Oleh: Putu Agung Nara Indra - 16 Desember 2016
Dibaca Normal 3 menit
Polusi udara yang menghantui udara Cina membuat seorang warganya gerah. Alhasil, ia merancang masker khusus nan modis yang dibuat dari sepatu-sepatu mahal. Bagaimana asal mula idenya?
tirto.id - Zhi Jun Wang merasa gerah lahir batin dengan Beijing, kota kelahiran sekaligus tempat tinggalnya. Sebagai seorang pecandu olahraga lari, ia merasakan bahwa kota itu makin tidak nyaman. Pangkalnya adalah satu: tingkat pencemaran udara yang gila-gilaan.

Wang—seorang desainer lepas yang bekerja untuk merek-merek ternama seperti Nike, Puma, Swatch dan lain sebagainya—biasa berlari di sekitaran wilayah Kota Terlarang, tidak jauh dari rumahnya. Selama berlari, ia menyadari bahwa kotanya seringkali dihinggapi oleh kabut yang lahir dari pembuangan pabrik-pabrik di sekitar Beijing. Alhasil, kondisi ini mengurangi kenikmatannya dalam berlari.

“Saya biasanya lari mengelilingi lingkungan rumahku di Beijing, sampai akhirnya saya menyerah. Udara di Beijing membuat paru-paruku sakit, dan saya susah bernapas,” keluh Wang seperti diberitakan CNN.

“Saya kemudian mempelajari tentang isu pencemaran udara dari berbagai sumber. Sayangnya, negara ini tidak banyak bertindak. Akhirnya, saya memutuskan untuk bersikap, dimulai dari apa yang saya kuasai, dan apa yang ada di sekitarku,” imbuhnya.

Selain dikenal sebagai seorang desainer, Wang juga seorang kolektor sneakers. Akhirnya, dengan bermodalkan kemampuan desain dan koleksi-koleksi sepatunya, Wang menciptakan masker khusus yang dibuat dari sepatu-sepatu “langka”.

Wang merintis inisiatif ini sejak 2014 Saat itu, ia mencoba membongkar sepatu Nike Flyknit silo miliknya dan menggabungkannya dengan jaket bermerek sama. Wang menggunakan bagian ekor sepatu untuk membungkus sisi hidung sampai rahang bawah penggunanya. Sebagai pengikat masker, ia menggunakan tali sepatu.

Wang kemudian meletakkan penyaring udara 3M yang dibelinya di supermarket untuk melapisi bagian depan masker. Belakangan, ia menyempurnakan maskernya dengan mengganti bahan 3M menjadi Respro yang diimpor langsung dari Inggris. Hasilnya sangat memuaskan. Wang tidak hanya sukses membuat masker yang penuh gaya, tapi juga fungsional, meskipun belum diuji secara resmi oleh para ahli.

“Saya memakai masker itu saat mengikuti lomba maraton. Ternyata, warna filter udaranya berubah. Artinya masker ini bekerja dengan baik,” ujar Wang.

Masker ala Wang mulai menyita perhatian ketika ia mengubah sepatu langka Adidas Yeezy Boost 350 V2S rancangan penyanyi terkenal Kanye West. Saking langkanya, sepatu itu dihargai sampai ratusan juta rupiah.

Namun, Wang tidak ambil pusing dengan fakta tersebut. Tanpa pikir panjang, Ia mengambil sepatu koleksinya—yang sama sekali belum pernah dipakai serta masih tersimpan rapi di kardus—dan langsung mempermaknya menjadi masker.

Wang kemudian mengetes reaksi publik dengan memajang masker Yeezy miliknya di eBay. Hasilnya, cukup banyak orang yang menawar masker itu. Bahkan harganya melambung hingga menyentuh angka $5000.

Beberapa perusahaan ternama Cina maupun dari luar negeri berbondong-bondong menawarkan kerja sama kepada Wang. Puluhan orang juga terus menghubunginya untuk menjual masker-maskernya. Namun, Wang bersikeras untuk tidak menjualnya. Ia menegaskan bahwa masker ini adalah bentuk protes terhadap polusi udara di Cina yang sudah masuk taraf akut.

“Ini bukanlah bisnis komersial, ini adalah sebuah imbauan,” papar Wang kepada Jing Daily.

Di sisi lain, ia juga mengkritik perusahaan-perusahaan yang ingin memproduksi masker buatannya itu. “Mereka hanya melihat peluang bisnis semata dari antusiasme orang-orang, tetapi mereka tidak peduli tentang bagaimana cara memperbaiki situasi ini,” tandasnya.

Infografik Investasi Untuk Melawan Polusi di Cina


Efektifkah masker udara?

Polusi udara telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi penduduk kota-kota di dunia. Ia tidak hanya sekadar mengganggu aktivitas warga semata, seperti yang dikeluhkan oleh Zhu Jin Wang sebelumnya. Namun, ia juga bisa membawa maut.

Seperti dilansir dari Time, polusi udara sudah menyebabkan jutaan kematian dalam usia muda di seluruh dunia. Sebagai contoh, sejumlah 40.000 orang tercatat meninggal dunia di Inggris akibat polusi udara. Sementara itu, WHO mengklaim bahwa lebih dari 80 persen populasi di perkotaan tinggal dalam kondisi kualitas udara di bawah standar kesehatan.

Polusi udara menjadi perantara berbagai penyakit yang menyerang manusia seperti gangguna kardiovaskular, penyakit jantung, dan paru-paru. Belakangan, menurut penelitian dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, polusi udara ternyata juga dapat menyebabkan alzheimer.

Seperti diberitakan Antara, partikel-partikel beracun yang ditemukan dalam polutan bisa menganggu kerja otak dan menimbulkan penyakit Alzheimer

Peneliti menemukan, magnetit polutan bisa memasuki otak melalui saraf penciuman yaitu lewat serat yang menghubungkan hidung dengan otak sehingga memungkinkan kita mencium bau. Magnetit adalah salah satu polutan yang ditemukan di partikulat. Biasanya, polutan ini ditemui di daerah perkotaan.

Kadar magnetit yang tinggi ditemukan dalam jaringan otak, terutama pada penduduk di wilayah-wilayah dengan tingkat polusi tinggi seperti Meksiko dan Manchester.

Lantas, dengan besarnya bahaya itu, apakah sebuah masker cukup untuk menghalangi kita dari penyakit?

Jawabannya ternyata bisa, asal, pengguna harus menemukan masker yang tepat bagi kondisinya.

Seperti dilansir The Quint, masker yang baik adalah masker yang mampu menutup wajah kita dengan erat. Apabila ada jarak antara kulit dan masker, maka polutan-polutan tetap bisa masuk ke saluran pernapasan. Selain itu, masker yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari—seperti masker bedah tipis yang biasa kita beli di warung--tentu saja berbeda dengan masker untuk aktivitas berat seperti olahraga. Masker khusus aktivitas berat haruslah memiliki sirkulasi udara atau ventilasi yang baik.

“Masker memiliki banyak spesifikasi khusus. Beberapa di antaranya ada yang sama sekali tidak berguna, tetapi, beberapa yang lain terbukti cukup bisa diandalkan untuk menyaring gas emisi seperti nitrogen dioksida—masker yang bagus biasanya menggunakan activated charcoal filter,” papar Profesor Frank Kelly dari King's College London kepada Evening Standard.

“Untuk penggunaan tertentu, beberapa masker dapat menyaring partikel polutan berukuran besar, namun masker itu bisa menjadi tidak berguna saat harus menyaring partikel yang lebih halus,” pungkasnya.

Pengaruh masker dalam meminimalkan dampak polusi juga telah diteliti oleh para ahli dari Heart Failure Center of the University of São Paulo's Heart Institute (INCOR-USP) di Brazil. Lembaga ini melakukan percobaan dengan memasukkan 41 orang –26 penderita penyakit jantung dan 15 sisanya sehat—ke dalam beberapa ruangan dengan udara yang dikontrol.

Pada sesi pertama, para peserta diminta masuk ke ruangan dengan udara bersih. Selanjutnya, mereka dimasukkan ke ruangan dengan udara yang diatur sehingga menyerupai kadar polusi kota Sao Paulo. Terakhir, peserta kembali masuk ke ruangan dengan kondisi berpolusi tetapi dibekali masker.

Eksperimen ini diakhiri dengan pengukuran detak jantung, kondisi tubuh, dan khususnya, kandungan hormon BNP atau B-type natriuretic peptide, sebuah hormon yang berfungsi untuk merespons kontraksi sel otot di jantung sekaligus menjadi penanda adanya kelainan di jantung.

Penelitian ini berhasil mengungkapkan beberapa hal. Pertama, ketika peserta terekspos dengan udara berpolusi, maka kadar BNP mereka naik dan beberapa fungsi hormonal lainnya turun. Kedua, penggunaan masker ternyata dapat menurunkan kadar BNP sekaligus menormalkan kembali beberapa fungsi hormonal yang terganggu. Kadar BNP akan meningkat tajam hanya 21 menit setelah para peserta eksperimen menghirup udara berpolusi. Namun, saat peserta menggunakan masker, kadar BNP mereka langsung kembali normal ke titik saat mereka menghirup udara bersih.

Penggunaan masker memang dapat membantu mengurangi dampak polusi. Namun, masker tidak serta-merta akan menghilangkan secara total ancaman dari udara berpolusi. Solusi paling idela bagi masalah ini adalah menghilangkan ancaman utamanya, yaitu polusi udara itu sendiri.

Baca juga artikel terkait MASKER atau tulisan menarik lainnya Putu Agung Nara Indra
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Putu Agung Nara Indra
Penulis: Putu Agung Nara Indra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti