Akui Data Tak Sempurna, Wiku: Laporan Kasus Lebih Dari 1x24 Jam

Oleh: Andrian Pratama Taher - 4 Agustus 2020
Penghitungan angka reproduksi efektif bila diterapkan dalam situasi pemeriksaan laboratorium dilaporkan dalam kurun waktu 1x24 jam.
tirto.id - Juru bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito mengatakan, Indonesia tidak bisa menggunakan peta zonasi dengan berbasis angka reproduksi efektif (Rt). Pemicunya adalah tata kelola informasi COVID-19 masih bermasalah.

"Kami ingin menyampaikan bahwa di dalam peta zonasi yang menggunakan estimasi angka reproduktif efektif tidak bisa dipakai saat ini di Indonesia karena ketidaksempurnaan data yang diperoleh sampai dengan saat ini," kata Wiku dari kantor BNPB, Jakarta dalam konferensi pers daring, Selasa (4/8/2020).

Wiku mengatakan, penghitungan angka reproduksi efektif bisa diterapkan jika hasil pemeriksaan laboratorium dilaporkan dalam kurun waktu 24 jam. Saat ini belum bisa diterapkan, karena ada banyak kendala.

"Jika dilaporkan lebih dari 1x24 jam dan masih adanya keterlambatan pelaporan, maka penggunaan Rt tidak dapat diandalkan," kata Wiku.

Selain itu, pemerintah juga menemukan data yang tidak terlaporkan selama pandemi COVID-19.

Ia juga mengatakan pemerintah mendapati metode penghitungan kasus yang berbeda-beda, sehingga metode Rt tidak bisa digunakan. Oleh karena itu, pemerintah menggunakan instrumen penghitungan lain.

"Rt yang menunjukkan di bawah 1 dan apabila bisa digunakan dan zona yang berwarna hijau bukan berarti sudah aman. Ini hanya salah satu indikator dari 15 indikator yang digunakan. 14 indikator lainnya menggambarkan tentang kasus, pengetesan dan lain sebagainya yang lebih akurat dan menggunakan data rill," kata Wiku.

Wiku mengajak masyarakat untuk tetap waspada selama pandemi. Ia pun kembali mengingatkan kepada semua pihak untuk patuh protokol kesehatan.

"Pemerintah daerah dan seluruh masyarakat harus tetap waspada dan tetap patuh pada protokol kesehatan," tegas Wiku.

Kasus Corona hingga 4 Agustus, telah mencapai 115.065 dengan 72.037 dan 5.388 meninggal.



Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Zakki Amali
DarkLight