Aku Tambah Dewasa, Aku Semakin Sulit Tertawa

Penulis: Aditya Widya Putri - 3 Jul 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Semakin dewasa, seseorang jadi jarang tertawa. Peneliti menyebut dunia kerja sebagai biang sulitnya orang dewasa tertawa.
tirto.id - Pernahkan Anda berpikir untuk mengulang kembali masa kecil yang penuh tawa? Masa ketika beban terbesar hanyalah mengerjakan tugas matematika. Tak ada cicilan rumah, tanggung jawab pekerjaan, atau keharusan lain sebagai dewasa?

Kemarin, saya baru saja melewati sebuah jalan arteri di Jakarta sampai beberapa saat hujan mendadak turun deras. Saya dan orang-orang dewasa lain lantas menjejali sebuah halte kecil untuk berteduh, takut seragam rapi nan wangi untuk “berkantor” jadi basah.

Sementara kami sibuk mengatur jarak, sejurus dari halte, dua anak usia tujuh tahunan saling membasahi diri dengan air hujan. Mereka tertawa gembira seolah tak peduli omelan sang ibu saat nanti pulang dengan basah kuyup.

Kontras disandingkan dengan kami yang berjejal di halte tanpa segaris senyum di bibir, memikirkan kapan hujan berhenti, menghitung estimasi waktu agar tak telat bekerja, atau barangkali sekadar cemburu ingin ikut bermain hujan tapi malu pada usia.

Entah bagaimana, bertumbuh menjadi dewasa membikin kita jadi terlalu serius dan kehilangan kemampuan untuk tertawa. Tuntutan umur agaknya telah mengikis sedikit demi sedikit humor masa kecil kita dan itu semua dimulai ketika kita menginjak usia 23 tahun.

Setidaknya, begitulah catatan yang terungkap dalam buku Humor Seriously (2020). Frekuensi tertawa manusia menurun di satu titik tertentu dalam hidupnya, yakni ketika mereka mulai terjun ke dunia kerja, di umur rata-rata 23 tahun.

“Rata-rata anak usia 4 tahun tertawa sebanyak 300 kali setiap hari. Butuh waktu 2,5 bulan bagi orang dewasa usia 40 tahun untuk mencapai jumlah tawa yang sama,” demikian ringkasan deduktif dari pengarang kenamaan Naomi Bagdonas dan Jennifer Aaker, ilmuwan yang mendedikasikan diri meneliti tentang perilaku manusia, terutama soal waktu, uang, dan kebahagiaan.

Seperti tebakan saya, para peneliti dalam buku ini juga meyakini bahwa dunia kerja telah merampas humor kita. Mereka melakukan survei terhadap 700 responsden dengan perbedaan latar belakang pekerjaan. Hasilnya mengungkap bahwa ada konsep yang mengaitkan humor atau tawa saat bekerja sebagai antitesis dari sikap profesional.

Anggapan tersebut membuat orang-orang jadi enggan menunjukkan sifat jenaka dan justru membentengi diri dengan kepribadian yang berbeda. Sebagian besar responsden pun setuju bahwa humor tak punya tempat di tengah-tengah pekerjaan yang serius.

Penelitian ini cukup punya benang merah dengan dinamika krisis seperempat abad alias Quarter-life crisis (QLC). Istilah ini merujuk pada episode krisis perkembangan selama masa dewasa awal (18-30)—masa-masa ketika orang mulai dibebani tanggung jawab finansial sehingga harus bekerja.

Saat menghadapi QLC, orang cenderung memiliki perasaan negatif, seperti stress, sedih, atau bahkan depresi. Sebuah jurnal penelitian bertajuk “Examining the Phenomenon of Quarter-Life Crisis Through Artificial Intelligence and the Language of Twitter” (2020) mengidentifikasi perasaan-perasaan tersebut melalui kajian linguistik terhadap cuitan-cuitan Twitter yang merujuk kepada QLC. Para peneliti jurnal tersebut menganalisis 1,5 juta cuitan yang ditulis oleh lebih dari 1.400 pengguna di Inggris dan Amerika.

“Bahasa mereka cenderung terfokus pada masa depan. Ada perasaan emosi yang campur aduk, perasaan terjebak, menginginkan perubahan, karier, kekhawatiran terhadap penyakit, sekolah, dan keluarga,” tulis para peneliti dalam jurnal penelitian tersebut.

Infografik Jarang Tertawa
Infografik Jarang Tertawa. tirto.id/Quita



Evolusi Tawa Lebih Tua Ketimbang Humor

Bagdonas dan Aaker boleh saja merangkum kesimpulan deduktif soal tawa yang menghilang dari garis bibir orang-orang dewasa. Namun, kita tentu perlu bertanya, jenis tawa seperti apa yang mereka maksud?

Semakin umur kita bertambah, semakin banyak pula macam-macam tawa yang kita punya. Sekadar anekdot, para budak korporat sering kali menamai tawa basa-basi kepada “bos” sebagai tawa karier. Lalu, ada pula tawa sinis atau menyeringai sebagai respons atas ketidaksukaan. Nyatanya tawa dan humor memang tidak selalu berkorelasi, bahkan mereka punya umur evolusi yang berbeda.

“Tawa bukan sebuah respons dari sebuah hal yang lucu. Sebaliknya, tawa merupakan respons umum terhadap situasi sosial,” ungkap Robert Provine, seorang professor di bidang psikologi dari Universitas Maryland.

Selama dua dekade ini, Provine menghabiskan waktunya untuk memahami mekanisme tawa pada manusia. Dia merekam tawanya sendiri dan tawa dari orang-orang di pusat perbelanjaan, tempat makan, dan sekolah. Provine kemudian menganalisis tawa-tawa tersebut di laboratorium analisis suara Kebun Binatang Nasional Washington, DC—sebuah laboratorium yang sebenarnya dipakai untuk menganalisis kicau burung.

Alih-alih menyamakan dengan kicau burung, Provine membangun sendiri laboratorium analisis suara untuk memetakan nada dan frekuensi tawa. Dari risetnya itu, dia berkesimpulan bahwa tawa adalah vokalisasi permainan primata, sementara humor merupakan evolusi yang lebih modern—meliputi kognitif dan linguistik

“Tawa dan humor adalah dua hal yang berhubungan, tapi beda. Tawa itu punya umur yang lebih tua, kuno. Tawa tercipta jauh sebelum adanya humor.”

Menurut Provine, orang-orang tidak atau jarang tertawa saat sendiri. Orang akan tertawa ketika mereka berinteraksi, terlepas dari lucu atau tidaknya percakapan tersebut. Tertawa terjadi 30 kali lebih sering dalam situasi sosial. Sementara saat sendirian, orang cenderung berbicara sendiri atau tersenyum daripada tertawa.

Baca juga artikel terkait TERTAWA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight