Aku Memotret Makanan, Maka Aku Ada

Ilustrasi food photography. FOTO/Istock
Oleh: Patresia Kirnandita - 3 April 2017
Dibaca Normal 3 menit
Unggahan foto makanan di media sosial jamak ditemukan saat mengklik tagar #foodporn. Beberapa ikut memeriahkan, beberapa mencibirnya lantaran bisa menimbulkan sejumlah efek negatif. Mengapa orang gemar membuat post semacam ini?
tirto.id - Saya berkali-kali menelan ludah, merogoh kocek, dan bersiap menekan tombol order pada layanan antar makanan setiap melihat gambar yang diunggah Adam Scarf di Instagram. Betapa tidak, pemilik akun @food_porn dengan 245 ribu pengikut ini secara rutin mempublikasikan foto-foto makanan yang kerap memicu bunyi "kriuk" dari perut saya sekalipun baru selang beberapa jam sejak terakhir saya mengisinya. Sepotong pizza dengan lelehan mozzarella lengkap dengan taburan beef pepperoni garing di atasnya adalah salah satu distraksi besar buat penggandrung makanan khas Italia seperti saya ini. Saya juga merasakan liur menggenang saat ia mengunggah foto kudapan macaroon berisi chocolate ganache dan es krim vanili berhiaskan stroberi di atas piring.

Mayoritas foto yang diunggah @food_porn adalah makanan-makanan Barat, berbeda dari post bertema makanan atau minuman yang dipublikasikan @javafoodie. Akun Instagram yang dikelola oleh Unggul Wisesa Haddad ini banyak memuat foto kuliner lokal, utamanya yang dihidangkan di tempat-tempat makan atau kafe di Yogyakarta. Mulai dari santapan pinggir jalan sampai hidangan mewah restoran berkelas, gulai daging hingga pepes nila, carabikang hingga kue putu, serta aneka varian es sampai kopi memenuhi akun @javafoodie. Meski demikian, diakui laki-laki yang akrab disapa Dadad ini, tak cuma makanan Indonesia saja yang dipublikasikan dalam akunnya yang berpengikut 126 ribu tersebut. Ia juga tak jarang mengunggah foto kuliner oriental atau kontinental asalkan dijual di sekitaran Yogyakarta.

Fenomena foto-foto bertagar #foodporn atau #foodgram di Instagram bukan lagi hal yang anyar. Saat artikel ini dimuat, ditemukan sebanyak 117.272.482 post #foodporn dan 4.419.035 post #foodgram di platform media sosial tersebut. Tak perlu menjadi fotografer andal atau kritikus makanan ternama untuk membuat post semacam ini karena siapa pun dan di mana pun seseorang berada, ia dapat turut menambah daftar foto makanan nan menggiurkan di Instagram.

Ada yang menyelebrasi, ada pula yang memandang sisi negatif dari kecenderungan orang-orang yang gandrung memublikasikan konten bertema makanan di media sosial. Tidak sedikit pula orang yang mencibir rekan atau keluarganya yang sering kali menjadikan dokumentasi makanan yang disantap dengan tatanan dan angle paling sempurna sebagai prioritas alih-alih melahapnya selagi hangat atau segar. Menurut sebagian orang ini, narsisisme telah memasuki babak baru; tak melulu dari penampilan fisik atau apa pun yang melekat di badan, tetapi juga via foto-foto makanan beserta lokasi pengunggahannya.

Mengapa Orang Senang Mengunggah Foto Makanan

Kegemaran menjajal makanan sejak kecil serta menulis mendorong Dadad membuat sebuah blog berisi tulisan-tulisan seputar kuliner. Dukungan dari para pembaca blognya membuatnya tertarik menjajal Instagram dan membuat akun khusus ulasan makanan dari berbagai tempat. Awalnya ia tak menyangka food porn dan foodgram akan menjadi tren di media sosial. Selanjutnya, Dadad pun berniat menekuni hal ini dan ia yang tadinya hanya memotret dengan ponsel mulai beralih menggunakan kamera sejak 2015.

Kepada Tirto, ia mengungkapkan alasannya mengunggah foto-foto makanan yang kerap mendapat respons positif dari para pengikut akun @javafoodie. “Aku cuma mau share biar orang merasakan apa yang kurasakan. Misalnya, pas aku antre panjang, orang tahu betapa besarnya effort aku buat menghasilkan suatu konten. Atau saat aku post tentang coffeeshop di hutan, aku mau supaya orang ngerasa betapa asyiknya ngopi di tengah hutan gitu,” jabar lulusan UPN Veteran Yogyakarta ini.

Intensi membagikan pengalaman dan pengetahuan sebagaimana diisyaratkan Dadad sejalan dengan pemikiran Panahi, et. al. (2012) yang tertulis dalam jurnal bertajuk “Social Media and Tacit Knowledge Sharing: Developing a Conceptual Model”. Dalam kesimpulan studi mereka dinyatakan, media sosial merupakan sarana yang cukup efektif untuk mentransfer pengetahuan yang berbasis pada pengalaman seseorang.

Alasan lain orang mengunggah foto makanan secara online diungkapkan oleh Karen Fewell, penggagas dan direktur Food Marketing di Digital Blonde. Ia bekerja sama dengan web psychologist Nathalie Nahai, melakukan riset tentang hal ini dan menemukan jawaban seperti bangga akan makanan yang telah mereka buat, ingin membagikan momen spesial, serta melihat makanan sebagai bentuk seni. Nahai juga menambahkan pendapatnya, saat seseorang mengombinasikan makanan—sebagai kebutuhan utama manusia—dengan fotografi yang merupakan bagian dari seni, hal ini menjadi kombinasi yang sangat seksi dan patut dibagikan di mata masyarakat.

Sekalipun makanan yang difoto tak senantiasa hidangan yang ‘wah’, tidak henti-hentinya hal ini ditemukan di Instagram. Mengapa? Nahai berargumen, tidak selalu kontennya yang mesti digarisbawahi dalam fenomena food porn, tetapi intensi untuk bersosialisasi dipandangnya lebih utama. “Saat kamu memakan salad, motivasi di balik pembagian foto kemungkinan besar adalah penghargaan terhadap diri sendiri karena berupaya hidup sehat atau mencari penerimaan orang lain secara online,” demikian diungkapkan Nahai dalam artikel Tuco Magazine.



Tidak hanya makanan sehat tentunya yang dipublikasikan di media sosial, tetapi juga makanan yang dianggap sampah atau kurang sehat. Membagikan foto sandwich menurut Nahai tetap menarik bisa jadi karena si pengunggah membuatnya sendiri dan bangga karenanya atau ia ingin berbagi kenikmatan dari makanan yang dipesannya. Argumen Nahai ini saya rasakan ketika beberapa kali mengunggah foto masakan sendiri dan memang, ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri saat memotret dan membagikan gambar makanan yang cantik ke publik karena saya melihatnya sebagai suatu karya yang tak semua orang senang atau bisa mengkreasikannya, sesederhana apa pun sajian itu.

Sementara itu, sebagaimana dikutip dari NYMag.com, studi yang termaktub dalam Journal of Consumer Marketing menyatakan aktivitas mengambil gambar sebelum makan—termasuk pencarian cahaya natural serta sudut pandang paling baik—bisa membuat makanan terasa lebih enak. Penelitian terhadap 120 partisipan tersebut juga menunjukkan orang cenderung mengikuti gaya hidup kenalannya di media sosial, termasuk soal menyantap makanan yang difoto. Sebagai contoh, melihat foto dengan tagar #cleaneating berkemungkinan membuat seseorang tertarik atau terpicu melakukan hal serupa meski sebelumnya tidak pernah terpikir untuk menjajal gaya hidup sehat.

Di satu sisi, hal ini dapat dipandang positif lantaran mendukung orang untuk memulai sesuatu yang baik untuk dirinya. Namun demikian, ada efek samping lain yang patut diperhatikan dari tren food porn ini. Konsumerisme adalah salah satunya. Semakin banyak foto makanan atau minuman yang dilihat, semakin ingin seseorang untuk mencicipinya dan tak pelak, kocek pun dapat melompong dalam waktu singkat.

Pada akhirnya, yang terjadi sejalan dengan pemikiran Baudrillard (1970) mengenai masyarakat konsumsi di mana simbol menduduki posisi lebih tinggi dibanding kebutuhan. Orang kerap didorong oleh hasrat mendapat pengakuan dan dipandang memiliki status atau identitas tertentu alih-alih memenuhi kebutuhan yang sebenarnya.

Menyemarakkan media sosial dengan foto-foto food porn memang sah-sah saja. Namun, penting dicatat bahwa pengguna sebagai konsumen sekaligus produsen konten perlu memahami efek yang ditimbulkan dari hal ini. Juga tak salah sesekali mempertanyakan apakah saya memang benar-benar menyukai apa yang tersaji di depan mata atau sekalipun tak nikmat, yang penting saya menunjukkannya kepada dunia.

Baca juga artikel terkait INSTAGRAM atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight