Aktivitas Industri dan Individu Membuat Bumi Kian Panas

Penulis: Ahmad Zaenudin, tirto.id - 5 Agu 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Pelbagai aktivitas industri maupun individu memproduksi lebih dari sepuluh ribu metrik ton karbon dioksida yang terakumulasi di atmosfer.
tirto.id - "Alam semesta, kita semua yakini, tak akan pernah berakhir," tulis William McKibben, jurnalis asal Amerika Serikat peraih Gandhi Peace Award, dalam "The End of Nature" (The New Yorker, 11 September 1989).

Namun, tambah McKibben, "dunia yang kita kenal ini sesungguhnya hanya dapat ditarik mundur ke zaman Renaisans, dan dunia yang benar-benar kita rasakan saat ini mulai mengemuka saat Revolusi Industri terjadi, dan dunia yang benar-benar dapat kita nikmati ini, percaya atau tidak, baru terjadi selepas 1945."

Ya, seandainya manusia tak pernah menginjakkan kaki di Bumi, alam semesta mungkin benar berjalan lamban dan seolah tak akan pernah berakhir. Namun, manusia hidup di sini dan ketika kecerdasannya menginisiasi revolusi di bidang perindustrian, Bumi yang dianggap berjalan lambat itu kemudian bergerak cepat. Sangat cepat, hingga tegas McKibben, "Bumi kini tengah berada di ambang batas hidupnya. Di jurang kehancuran."

Kehancuran Bumi yang digaungkan McKibben disebabkan oleh pemanasan global atas akumulasi karbon dioksida di atmosfer. Hubungan sebab-akibat ini sebetulnya biasa saja, bahkan menjadi alasan utama mengapa manusia dan mahkluk hidup lainnya dapat hidup dengan nyaman di Bumi. Tanpa karbon dioksida di atmosfer, suhu Bumi akan serupa dengan Mars: sangat dingin.

Karbon dioksida yang terperangkap atmosfer menciptakan efek rumah kaca yang memberi kehangatan pas bagi kehidupan di Bumi. Namun efek yang baik dari karbon dioksida ini hanya terjadi jika kuantitas karbon dioksida tak lebih dari 0,05 persen dari total elemen natural yang ada di atmosfer. Meningkat 0,005 atau 0,6 saja, efek sebaliknya timbul yakni kehancuran.

Dan peningkatan itu memang terjadi. Menukil paparan tentang konduktivitas listrik sebagai penyebab reaksi kimia karya Svente Arrhenius (1884), "di dekade pertama Revolusi Industri saja, saat minyak atau reservoir organik yang terperangkap di dalam perut Bumi disedot untuk dibakar dalam rangka menggerakkan mesin-mesin pabrik, terakumulasi karbon dioksida dalam jumlah sangat besar--yang tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Bumi--di angkasa."

Awalnya, peningkatan karbon dioksida tak dianggap masalah. Kala itu, pepohonan dan lautan diyakini dapat menyerap dengan baik kelebihan karbon dioksida yang dihasilkan manusia. Namun, dalam penelitian yang dilakukan Roger Revelle dan Hans Suess dari Scripps Institution of Oceanography pada 1957, bagian paling atas lautan atau muka air hanya dapat menyerap kurang dari setengah jumlah karbon dioksida yang dihasilkan manusia.

Sementara pepohonan, diawali pula oleh Revolusi Industri, terjadi deforestasi besar-besaran yang membuat kerja menyaring polusi udara secara alamiah tak dapat dilakukan maksimal. Artinya, karbon dioksida hanya dapat melayang-layang di atmosfer.

Dan karbon dioksida ini, tegas Charles Keeling, peneliti lainnya di Scripps Institution of Oceanography, terus-menerus mengepul, meningkat sekitar tujuh-persepuluh bagian per-sejuta (ppm) saban tahunnya di atmosfer.

Atau "suatu jumlah yang menjadi pembeda lebih dari lima derajat celcius antara suhu Bumi pra dan pasca Revolusi Industri." Temuan ini baru dapat dikalkulasi dan dibuktikan secara ilmiah melalui komputer pada 1966 oleh Syukuro Manabe.


Tak hanya disebabkan oleh aktivitas industri, produksi karbon dioksida juga dipicu oleh tingkah laku individu. Menurut David Owen dalam "How the Refrigerator Become an Agent of Climate Catastrophe" (2022) misalnya, kulkas dan mesin pendingan ruangan (AC) menjadi salah satu agen terpenting meningkatnya karbon dioksida di atmosfer.

Pemanfaatan kompresor, kondensor, dan kumparan yang diisi dengan senyawa volatil (berupa hydrofluorocarbon--senyawa yang menyebabkan hancurnya ozon) guna mengembuskan udara panas dari dalam ruangan ke luar pada kulkas dan AC membutuhkan listrik.

Dan listrik, meskipun dapat dihasilkan melalui banyak saluran ramah lingkungan, mayoritas tercipta atas pembakaran bahan bakar fosil. Bahan bakar yang juga dimanfaatkan manusia untuk menggerakkan kendaraan, menyumbang 4,5 metrik ton karbon dioksida per kendaraan per tahun. Bahan bakar yang dimanfaatkan pelbagai tim Formula 1, misalnya, menghasilkan 256.000 metrik ton karbon dioksida saban musimnya.

Karbon dioksida tentu bukan satu-satunya penyebab yang membuat Bumi semakin panas. Peningkatan konsumsi daging oleh manusia juga menjadi pemicu. Sejumlah hewan ternak yang dikonsumsi manusia secara alamiah hanya tumbuh dan berkembang setelah mengonsumsi rerumputan. Lalu tercipta bakteri anaerob dalam jumlah banyak untuk membantu hewan-hewan dalam menyerap kandungan nutrisi dari rerumputan yang juga menghasilkan gas metan dalam jumlah berlebihan--yang memiliki efek serupa dengan karbon dioksida.

Revolusi Industri juga membuat kualitas hidup manusia semakin membaik hingga menghasilkan pertumbuhan manusia yang berlebih. Sebagaimana dipaparkan peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT), Dennis L. Meadows dalam buku The Limits to Growth: A Report for the Club of Rome's Project on the Predicament of Mankind (1972), bumi hanya diisi 0,5 miliar penduduk pada tahun 1650 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 0,3 persen per tahun.

Namun, seiring dengan ditemukannya obat-obatan untuk menangani berbagai penyakit dan semakin berkualitasnya gizi yang diserap serta berkurangnya peperangan, angka harapan hidup jadi meningkat.

Melalui peningkatan kualitas hidup ini, pada 1970 atau 350 tahun sejak 1650, bumi kemudian diisi 3,6 miliar penduduk dengan tingkat pertumbuhan yang kian pesat, yakni sebesar 2,1 persen per tahun. Pertumbuhan penduduk yang kian tinggi akibat semakin berkualitasnya hidup menciptakan fenomena bernama "vicious circle" alias "feedback loop."

Fenomena ini membuat kenaikan gaji, misalnya, menggiring kenaikan permintaan terhadap barang/jasa. Kenaikan permintaan mendorong kenaikan harga barang/jasa. Lalu kenaikan harga menggiring kenaikan gaji--dan seterusnya, selamanya.

Menurut para ahli ekonomi, kenaikan gaji yang menggiring kenaikan permintaan serta harga barang, tidak akan berdampak buruk jika dapat ditekan di bawah angka dua persen. Namun, karena pertumbuhan penduduk naik secara eksponensial super, maka vicious circle yang tercipta pun super tumbuhnya. Dan pokok/subjek yang digiring pertumbuhan super oleh pertumbuhan penduduk ini adalah industri serta lingkungan yang memiliki batas.


Infografik Perubahan Iklim
Infografik Perubahan Iklim. tirto.id/Fuad


Akibat pertumbuhan penduduk, industri pun tumbuh dengan tingkat eksponensial serupa, dari 7 persen pada 1963 hingga lebih dari 10 persen per tahun setelah itu. Dan melalui peningkatan industri, meningkat pula material-material bumi yang dimanfaatkan untuk memproduksi berbagai kebutuhan manusia. Hingga akhirnya meningkatkan produksi gas rumah kaca yang berakibat buruk pada lingkungan.

Dari pelbagai aktivitas industri maupun individu, lebih dari sepuluh ribu metrik ton karbon dioksida terakumulasi di atmosfer. Jumlah ini diprediksi akan terjadi pada 2050 hingga membuat suhu di Eropa saat mencetak rekor tertingginya, yakni 40 derajat celcius untuk pertama kali. Juga membuat hilangnya gletser tropis terakhir di Pasifik Barat, yakni di Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid, Indonesia.

Secara umum, akibat akumulasi karbon dioksida, merujuk laporan panel ilmuwan/ahli di bidang perubahan iklim antarnegara (Intergovernmental Panel on Climate Change atau IPCC) berjudul "Climate Change 2021: The Physical Science Basis" (2021), suhu permukaan bumi mengalami peningkatan 1,09 derajat Celsius dalam rentang 2011 hingga 2021.

Secara spesifik, di edisi 2021 laporan tentang pengaruh manusia terhadap iklim yang telah dimulai sejak 1988, IPCC menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan karbon dioksida (CO2) sebesar 410 ppm di atmosfer bumi setiap tahunnya sejak 2011. Terjadi pula peningkatan gas metan (CH4) dan dinitrogen monoksida (N2O) masing-masing sebesar 1.866 ppb (part per billion) dan 332 ppb per tahun.

Meskipun pemanasan global nyata terjadi dan dapat dibuktikan secara saintifik, tapi tidak ada usaha berarti untuk menanggulanginya. Bahkan, ketika Manabe merilis penelitiannya, kerja ilmiah tersebut hanya dianggap angin lalu. Dan Presiden AS Lyndon Johnson yang mencoba menyuarakan penelitian itu tak lama usai dipublikasikan, juga tak didengar khalayak.

Kerja menanggulangi pemanasan global hanya dilakukan PBB melalui Protokol Kyoto. Namun, sebagaimana dipaparkan Sarah Miller dalam "The Millions of Tons of Carbon Emission That Don't Officially Exist" (2021), terdapat cela yang sangat krusial dalam protokol tersebut.

Demi seolah dapat mengurangi karbon dioksida, PBB tak mengganggap biomas, bahan bakar untuk menghasilkan energi yang umumnya melalui kayu sebagai sumber penghasil karbon dioksida. Kayu dianggap sebagai sumber daya tak terbatas karena dapat diproduksi terus-menerus, berbeda dengan fosil.

Drax, pembangkit listrik di Inggris yang menghasilkan energi dengan membakar kayu (biomas), terbukti menghasilkan pula karbon dioksida lebih dari 15 juta metrik ton per tahun. Nahas, polusi ini tak dihitung PBB sebagai biang pemanasan global.

Baca juga artikel terkait PEMANASAN GLOBAL atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight