Menuju konten utama

Akibat Larangan Ekspor, Sektor Kelapa Sawit Alami Deflasi Tertinggi

Pada Mei 2022, sektor kelapa sawit memberikan andil deflasi sebesar minus 0,21 persen.

Akibat Larangan Ekspor, Sektor Kelapa Sawit Alami Deflasi Tertinggi
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.

tirto.id - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono mengatakan, larangan eskpor Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya berdampak terjadinya deflasi di sektor kelapa sawit. Pada Mei 2022, sektor tersebut memberikan andil deflasi sebesar minus 0,21 persen.

“Jadi karena larangan ekspor kemarin menyebabkan kelapa sawit itu berikan andil deflasi ke sektor pertanian 0,21 persen. Jadi dampaknya cukup dalam," kata Margo dalam rilis BPS di kantornya, Jakarta, Kamis (2/6/2022).

Berdasarkan catatan redaksi, sejak larangan ekspor CPO berlaku pada 28 April 2022, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di seluruh pelosok negeri anjlok. Khususnya, untuk sentra perkebunan kelapa sawit.

Sampai dengan Selasa, 24 Mei 2022, rata-rata harga TBS di tingkat petani swadaya atau mandiri berada pada kisaran Rp1.964 per kilogram (kg). Sedangkan di tingkat petani plasma atau bermitra mencapai Rp2.343 per kg.

Keduanya memang sudah naik tipis dari Harga Pokok Penjualan (HPP) yang hanya Rp1.950 per kg. Namun masih jauh di bawah rerata ditetapkan oleh dinas perkebunan sebesar Rp2.930 per kg.

“Secara umum harga tersebut di bawah harga penetapan dinas perkebunan," kata Ketua DPP Asosiasi Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung saat dihubungi reporter Tirto.

Sementara hasil pantauan Serikat Petani Indonesia (SPI) menemukan harga TBS sawit di beberapa wilayah di Indonesia masih cukup rendah. Walaupun ada kenaikan, namun perubahannya masih kecil.

Misalnya di beberapa desa di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara terjadi kenaikan Rp50 per kg, dan ada juga yang harganya tetap. Harga di tingkat petani bahkan bervariasi di kisaran Rp1.700 - Rp2.000.

“Sementara harga di loading ramp di kisaran Rp2.000 - Rp2.200," ujar Ketua Umum SPI, Henry Saragih dalam pernyataannya.

Henry melanjutkan, dari Pasaman Barat, Sumatera Barat harga TBS di peron Rp1.750, sementara untuk langsung ke pabrik kelapa sawit (PKS) di kisaran Rp1.950. Sementara di Riau, tepatnya di Kabupaten Rokan Hulu, harga TBS sudah ada yang Rp2.300 per kg jika diantarkan langsung ke PKS.

"Kalau di Jambi, harga TBS juga tidak lagi mengalami penurunan," imbuhnya.

Jika bergeser ke Tanjung Jabung Timur, maka harga TBS tetap Rp1.625 per kg, di Muara Bungo Rp2.200 per kg, dengan kenaikan Rp100 per kg. Begitu juga di Kabupaten Muaro Jambi, Tebo, dan Tanjung Barat, kenaikan mulai terjadi dari Rp75 per kg sampai Rp250.

Baca juga artikel terkait DEFLASI atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Abdul Aziz