Akhir Perburuan Ratko Mladic, Jenderal Penjagal 8.000 Muslim Bosnia

Ratko Mladic. REUTERS/ Petar Kujundzic
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 23 November 2017
Dibaca Normal 4 menit
Membantai ribuan muslim, diburu selama 14 tahun, tertangkap pada 2011, disidang selama 530 hari, dan divonis penjara seumur hidup: alkisah Ratko "Penjagal Bosnia" Mladic.
tirto.id - “Semua anakku dibunuh.”

“Enam anak laki-laki, dua saudara laki-laki, dan akhirnya saudara perempuanku digantung.”

“Empat saudara laki-lakiku dan ayahku, mereka tak pernah kembali, aku hanya punya ibuku, tak ada yang lain..”

Testimoni di atas, bersama kesaksian pahit dari total 591 saksi, menjadi bagian dalam pengadilan kasus Pembantaian Srebrenica yang pada Juli 1995 meletus di Bosnia dan Herzegovina. Mayoritas korbannya muslim. Anggota keluarga yang masih hidup berbondong-bondong memberikan kesaksiannya di Den Haag, Belanda. Proses pengadilan memerlukan waktu 530 hari sejak tahun 2011 dengan 10 ribu pameran mengenai 106 kejahatan dalam tragedi yang menyeret nyawa lebih dari ribuan orang itu, catat Al Jazeera.

Satu dekade silam Pengadilan Pidana Internasional untuk bekas Yugoslavia (International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia/ICTY) menetapkan Pembantaian Srebrenica sebagai genosida. Pada 2005 Sekjen PBB Kofi Annan menyebutnya sebagai pembunuhan massal terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Eksekutornya adalah pasukan Republik Srpska (Serbia Bosnia), anggota grup paramiliter Scorpion yang pernah menjadi bagian dari Kementerian Dalam Negeri Serbia hingga 1991, dan ratusan sukarelawan dari Ukraina dan Rusia.

Sementara dalangnya, yang divonis hukuman penjara seumur hidup oleh hakim PBB dalam sidang hari Rabu (22/11/2017) kemarin sebagaimana dikabarkan The Guardian, adalah Jenderal Republik Srpska berjuluk “Jagal Bosnia”: Ratko Mladic.

Baca juga: Etnis dan Agama dalam Konflik Serbia dan Kosovo

Mladic divonis saat usianya menginjak 74 tahun. Ia lahir pada tanggal 24 Mei 1943 di Božanovići, Negara Merdeka Kroasia (negara bonekanya Jerman dan Italia, berdiri selama PD II di wilayah Yugoslavia yang diduduki Blok Poros). Mladic tumbuh menjadi anggota Liga Komunis Yugoslavia, lalu berkarier di Tentara Rakyat Yugoslavia. Posisinya melejit dari perwira tinggi, kepala staf angkatan darat, sampai akhirnya ditunjuk sebagai jenderal saat memasuki Perang Bosnia tahun 1992-1995.

Berseragam militer membuat Mladic menampakkan sifat buasnya terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh bangsa Serbia di medan perang.

Pada tanggal 5 April 1992, di hari yang bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan Bosnia-Herzegovina. Pasukan Yugoslavia, salah satunya dipimpin Mladic, mengepung ibukota Bosnia-Herzegovina, Sarajevo, untuk mencoba menduduki pusat kota dan mendepak pemerintahan resmi Bosnia lewat kudeta. Pengepungan Sarajevo, merujuk laporan final PBB, berlangsung selama 1.425 hari (5 April 1992-29 Februari 1996), dan menjadi pengepungan terlama dalam sejarah perang dunia.

Pasukan Republik Srpska dibantu tentara Yugoslavia dengan jumlah sekitar 13 ribu personil, sementara Bosnia-Herzegovina berkoalisi dengan komunitas Kroasia dan tentara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dengan total sekitar 70 ribu personil. Mladic dan kawan-kawan akhirnya mundur dan mengakhiri pengepungan. Namun korban yang terlanjur jatuh luar biasa besar. Totalnya ada 13.952 di mana 5.434 di antaranya rakyat sipil. Kasus pengepungan ini juga salah satu kasus yang memberatkan vonis Mladic di pengadilan.

Baca juga: Bosnia-Herzegovina, Perang, dan Pengakuan Dosa

Pembantaian Srebrenica adalah rekam jejak terganas Mladic. Srebrenica, sebagaimana tercatat dalam arsip ICTY, adalah kamp pengungsian terbesar akibat serbuan tentara Serbia ke Bosnia yang dihuni umat muslim. Meski dinyatakan sebagai kawasan aman oleh PBB sebab mendapat penjagaan pasukan perdamaian berjumlah 400 personil dari Belanda. Sayangnya Mladic tak peduli dengan hukum internasional dan gelap mata untuk membantai orang-orang Bosnia yang berstatus sebagai warga sipil.

Pada tanggal 6 Juli 1995, pasukan Mladic mulai menggempur pos-pos tentara Belanda di Srebrenica. Lima hari kemudian mereka sukses memasuki kamp di mana anak-anak, perempuan, dan para orang tua bergerak ke sebuah desa bernama Potocari untuk mencari perlindungan ke pasukan Belanda. Namun sayangnya sebagian besar lain tertangkap oleh pasukan Serbia, sementara pasukan Belanda kian kewalahan menghadapi serbuan tentara Mlodic yang berjumlah jauh lebih banyak.

Pembantaian dimulai pada pertengahan bulan yang sama dengan cara memisahkan laki-laki berumur 12-77 tahun untuk “diinterogasi”. “Interogasi” hanyalah dalih agar target bisa dipisahkan dengan mudah dari para perempuan, orang tua, atau sanak keluarga lainnya. Pembantaian pertama terjadi di sebuah gudang dekat desa Kravica, lalu berlanjut bak penjagal menyembelih hewan-hewan ternak.

Pasukan Belanda memperburuk keadaan karena menyerahkan 5.000 pengungsi untuk ditukar dengan 14 tentaranya yang ditahan Mladic. Hingga sekarang keputusan ini memicu kecaman dan penyesalan baik dari pihak PBB maupun pemerintah Belanda. Dalam laporan Independent, pembelaan pasukan Belanda adalah saat itu mereka juga berpotensi menjadi korban kekejaman Mladic. Namun, menukar 70 persen korban genosida dengan 14 tentara juga tetap berlipat-lipat lebih keliru. Di akhir tragedi, lebih dari 8.000 jiwa melayang sia-sia.

Baca juga: Dapatkah Hukum Genosida Menghentikan Pembantaian Massal?

Setahun berikutnya ICTY dibentuk untuk menyeret para terdakwa, yakni pelaku kejahatan dan pelanggaran HAM dalam Perang Bosnia, untuk diadili. Sayang, Mladic berhasil kabur terlebih dahulu. Namun, tanpa kehadirannya pun ICTY tetap melanjutkan sidang untuk mengonfirmasi kebenaran dakwaan dan mengeluarkan surat penangkapan internasional. Harga untuk informasi keberadaan Mladic yang ditarifkan Pemerintah Serbia dan Amerika Serikat cukup fantastis: Rp90 miliar (tahun 2010 angkanya naik drastis menjadi Rp180 miliar).

Selama 14 tahun berikutnya Mladic berpindah-pindah tempat persembunyian, dan wartawan Guardian Julian Borger menceritakannya dengan detail dalam sebuah laporan panjang berjudul “14 years a fugitive: the hunt for Ratko Mladić, the Butcher of Bosnia” yang dipublikasikan awal tahun lalu. Persembunyian yang dimaksud adalah resor militer milik kawan-kawan seperjuangan Mladic yang menganggap Mlandic sebagai pahlawan alih-alih penjahat perang atau pelanggar HAM berat.



Pemerintahan Serbia di bawah pemerintahan Slobodan Milosevic di era 1990-an menyanggah tuduhan melindungi Mladic melalui orang-orang militer yang setia pada Mladic. Namun, di Kota Belgrade muncul pengamanan khusus bagi Mladic dan sanggahan tersebut tak mampu membendung kecurigaan publik yang terlanjur berkembang.

Selama menghuni sebuah tempat perlindungan, Mladic mendapat penjagaan ketat dari sekitar 100 orang anggota pasukan Republik Sprska yang mengawal dirinya saat berada di luar rumah. Di era 1990-an Mladic masih mendapat fasilitas mewah: punya juru masak pribadi, supir sendiri, dan layanan personal lain. Kegiatannya amat santai: berburu kijang, berjalan-jalan di taman, main tenis, sesekali ke restoran atau pertandingan sepak bola, atau mengunjungi rumah keluarganya di Berlgrade.

Baca juga: Jika di Jakarta Ada Ahok, di Sarajevo Ada Ivo Komsic

Pada Oktober 2000 kekuasaan Milosevic habis dan diseret untuk menjalani sidang dengan dakwaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukannya di Kosovo (pada 11 Maret 2006 ia meninggal di sel tahanannya di Den Haag, Belanda). Dengan demikian keberadaan Mladic kian terancam, selaras dengan kian kolapsnya negara Serbia Raya karena bagian-bagian dari wilayah Yugoslavia justru melepas diri untuk jadi negara mandiri.

Pada bulan Mei 2002 sempat terjadi kontak senjata antara pasukan pelindung Mladic dengan unit kepolisian Serbia yang akan menangkapnya—untuk turut dibawa ke pengadilan Den Haag. Ketegangan berlangsung selama satu bulan sebelum akhirnya Mladic lolos lagi. Hingga tahun-tahun selanjutnya Mladic masih mengecap kebebasan tetapi tak lagi dilindungi oleh militer Serbia aktif yang loyal padanya karena barisan pendukung ini sudah resmi dilarang untuk menjalin kerja sama dengan Mladic.

Selama periode ini pula Mladic kian paranoid dan berhati-hati saat keluar rumah. Menjelang akhir 2010-an bahkan ia kerap mengalami halusinasi perihal orang-orang yang diklaim akan menangkapnya. Padahal pada waktu itu publik Serbia kian melupakan Mladic karena mereka sibuk pada reformasi sosial dan ekonomi negara agar lebih terbuka terutama pada Uni Eropa.

Tapi Mladic pun khawatir dengan upaya Serbia masuk ke Uni Eropa. Sebab jika benar-benar direalisasikan, dia bisa diseret ke Den Haag bukan saja oleh pemerintah Serbia, namun juga seantero Eropa.


Baca juga: Upaya Kroasia Hapus Sejarah Pemusnahan Etnis

Kekhawatiran Mladic benar-benar jadi kenyataan pada Pemilu Serbia tahun 2004. Boris Tadic, politisi reformis yang pro-Uni Eropa dan pro keseimbangan hubungan antara Serbia, Rusia, dan AS, Boris Tadic, terpilih menjadi presiden dan berkuasa dalam dua periode hingga 2012. Sejak 2008 perjuangan untuk menyeret Mladic ke pengadilan kembali digencarkan. Respon pemerintah Serbia cukup positif. Dalam tiga tahun berselang, sebuah unit khusus makin giat mencari keberadaan Mladic.

Upaya otoritas Serbia menemukan hasilnya pada tanggal 26 Mei 2011. Petugas berpakaian preman dari unit kejahatan perang khusus Kementerian Dalam Negeri pergi ke rumah persembunyian Mladic di Desa Lazarevo. Dua di antaranya menaiki tangga dan menemukan satu pintu yang agak susah dibuka. Saat berhasil didorong, di balik pintu terlihat seorang renta yang memakai topi baseball berwarna hitam, diam, tak melakukan perlawanan apapun.

Saat dimintai kartu identitas, si tua renta memberikan kartunya, dan nama “Ratko Mladic” tertera di dalamnya. Sang petugas masih tak percaya sebab berbeda dengan Mladic yang diketahuinya dari foto resmi pemerintahan. Mladic yang di hadapannya saat itu terlihat kurus dan tanpa memencarkan raut muka sombong khas seorang jenderal yang pernah punya masa jaya.

Mereka bertanya langsung siapa nama si tua, dan si tua menjawab “Kau telah menemukan yang kau cari. Aku Ratko Mladic.”

Baca juga artikel terkait BOSNIA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight