Akankah SpaceX Mengakhiri Dominasi Soyuz di Luar Angkasa?

Roket SpaceX Falcon 9 dan pesawat luar angkasa Crew Dragon membawa astronot Douglas Hurley dan Robert Behnken dalam misi SpaceX Demo-2 NASA di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, Sabtu (30/5/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Steve Nesius/foc/cfo
Oleh: Ahmad Zaenudin - 12 Juni 2020
Dibaca Normal 4 menit
SpaceX sukses menerbangkan astronot ke ISS.
Pada 22 Oktober 1969, dalam sambutannya untuk awak kosmonot Troika Flight, Leonid Brezhnev, Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis, menyatakan eksplorasi luar angkasa sebagai “tugas besar” bagi Uni Soviet. Tugas ini, bagi Brezhnev, dilakukan dengan “bermain-main melalui kekuatan serta hukum alam" dan "ujungnya, akan sangat berguna untuk kepentingan kaum pekerja, juga perdamaian dunia”.

Dalam buku berjudul Interkosmos: The Eastern Bloc’s Early Space Program (2016), Colin Burgess menyebut jauhnya perbedaan pengembangan program luar angkasa Soviet dengan Amerika Serikat. Pidato Presiden John F. Kennedy pada 25 Mei 1961 menyatakan program luar angkasa AS yang digerakkan NASA AS adalah soal pencapaian pribadi untuk “memenangkan pertempuran melawan tirani". Tirani yang dimaksud Kennedy adalah komunis.

Sementara Soviet, melalui Interkosmos, melakukan langkah berbeda.

Interkosmos, program eksplorasi luar angkasa internasional, mengajak negara-negara Blok Timur--Ceko, Polandia, Jerman Timur, Bulgaria, Hungaria, Vietnam, Kuba, Mongolia, Rumania, India, Suriah, dan Afghanistan--untuk terbang bersama Uni Soviet baik dalam misi tanpa awak atau berawak. Program ini dimulai pada 15-20 November 1965. Ketika itu perwakilan negara-negara Blok Timur bertemu dengan Uni Soviet di Jerman Timur membicarakan “kolaborasi di bidang ilmu pengetahuan”.

Pada awal hingga pertengahan 1960-an, Soviet sedang jaya-jayanya di antariksa. Selain berani mengajak negara-negara Blok Timur ikut serta ke luar angkasa, sejarah mencatat mereka sebagai pelopor eksplorasi antariksa, Columbus-nya luar angkasa. Pada 1957, misalnya, Soviet menahbiskan diri sebagai negara pertama yang sukses meluncurkan wahana nirawak Sputnik 1 ke antariksa. Pada 12 April 1961, melalui roket Vostok-K 8K72K, Soviet sukses mengirimkan manusia pertama ke orbit, Yuri Gagarin.

Sayangnya, estafet kemenangan Soviet di antariksa tak berlanjut hingga garis finis. Dalam perlombaan menjadi yang pertama menginjakkan kaki di Bulan, AS datang sebagai pemenang pada 1969 melalui Neil Armstrong, melalui Apollo 11, melalui NASA. Tapi, meskipun kalah, melalui wahana antariksa bernama Soyuz, Soviet--yang kemudian runtuh dan menyisakan Rusia--menjadi jawara antariksa sesungguhnya. Setidaknya sampai SpaceX akhirnya mengirimkan manusia ke luar angkasa.

Soyuz: Penguasa Trayek Bumi-International Space Station

Menangguk untung selepas menjual PayPal ke eBay senilai $1,5 miliar, Elon Musk, salah satu pendiri PayPal, mencoba peruntungan lain. Bersama dengan Jim Cantrell, konsultan antariksa, dan Michael D. Griffin, yang tiga tahun kemudian menjadi Administrator NASA, Musk pergi ke Rusia pada 2002. Ia berencana membeli peluncur rudal balistik untuk mewujudkan impiannya memiliki roket.

Namun, sebagaimana dikisahkan Kenneth Chang untuk The New York Times, Musk dan pihak Rusia yang menjual rudal balistik itu gagal mencapai kata sepakat. Di lain sisi, selepas mencermati misil yang dijual, Griffin, yang pada 2007 masuk dalam “100 orang paling berpengaruh” versi majalah Time, tiba-tiba mengatakan: “Kawan, aku pikir kita dapat menciptakannya sendiri”.

Pada 6 Mei 2002, SpaceX berdiri.

Salah satu alasan Musk mendirikan SpaceX adalah keinginannya untuk membentuk koloni manusia di Mars--planet yang disebut-sebut mirip Bumi dan karenanya punya potensi dihuni manusia. Dalam bayangannya, umat manusia akan selamat seandainya nanti Perang Dunia III meletus.

Pergi ke Mars tentu bukan perkara mudah. Musk mesti menapaki dulu lapisan-lapisan antariksa terdekat dari Bumi. Pada 24 Maret 2006, momentum kesuksesan pertama SpaceX berhasil dicapai. Saat itu, Falcon 1, roket pertama SpaceX, meluncur ke angkasa dari kawasan Kwajalein di Pasifik. Sejak uji coba itu hingga pertengahan 2018, SpaceX telah sukses mengadakan 62 misi peluncuran roket dengan berbagai tujuan, salah satunya mengirimkan satelit ke orbit.

Pada 2014, hanya 12 tahun sejak didirikan, SpaceX telah menggarap lebih dari 100 kontrak peluncuran satelit. Keberhasilan ini salah satunya disebabkan oleh murahnya biaya peluncuran yang ditawarkan SpaceX. Ada dua roket yang mereka tawarkan guna dijadikan “boncengan” wahana ke orbit, yakni Falcon 9 dan Falcon Heavy. Masing-masing roket bisa digunakan untuk mengirimkan wahana ke tiga tujuan: Low earth orbit (160 hingga 2.000 km di atas permukaan Bumi), Geosynchronous transfer orbit (orbit di ketinggian 42.164 km di atas permukaan Bumi), dan (sesungguhnya masih dikembangkan) menuju planet Mars.

Biaya jasa dengan roket Falcon 9 dibanderol mulai dari $62 juta untuk sekali peluncuran. Sementara Falcon Heavy dibanderol $90 juta untuk sekali mengangkasa.

Laporan Eric Berger, jurnalis Ars Technica, menyebut tarif yang dibanderol roket-roket SpaceX jauh lebih murah dibandingkan para kompetitornya, terutama UAC. Delta IV Heavy, roket milik UAC yang memiliki kemampuan setara Falcon Heavy, mematok tarif sampai $350 juta untuk sekali terbang. Dalam sebuah rapat yang dilakukan House Armed Services Committee untuk membahas strategi pertahanan AS, disebutkan bahwa biaya Delta IV Heavy bisa mencapai antara $400 juta dan $600 juta untuk konfigurasi tertentu.

Mengirimkan satelit ke orbit tentu menyenangkan. Tapi, cita-cita kolonisasi Mars adalah mimpi basah SpaceX. Sebab itulah mereka merasa wajib mengirimkan manusia ke antariksa. Pada akhir Mei 2020, di tengah pandemi Corona, kewajiban itu akhirnya gugur. Pada 30 Mei, tepat pukul 3.22 waktu setempat, SpaceX, melalui roket Falcon 9 yang dipasangi wahana Crew Dragon, menerbangkan astronot NASA Robert L. Behnken dan Douglas O. Hurley ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

Pengiriman Behnken dan Hurley ke ISS adalah yang pertama bagi Bagi SpaceX. Ini juga sejarah baru bagi NASA: pertama kalinya mereka menggunakan perusahaan swasta untuk mengirimkan manusia ke antariksa. Untuk pertama kalinya juga mereka terbang lagi dari tanah Amerika, setelah lebih dari satu dekade tergantung pada Soyuz, wahana milik Rusia.

Brian Harvey, dalam buku Soviet and Russian Lunar Exploration (2007), menyatakan program antariksa Uni Soviet dapat dilacak hingga ke era Tsar. Kala itu, seorang ilmuwan bernama Konstantin Tsiolkovsky (1857-1935) sering melakukan eksperimen antariksa di rumahnya, misalnya dengan menggambar pesawat angkasa, kalkulasi trajektori, dan menulis karya-karya fiksi ilmiah terkait penjelajahan antariksa.

Lambat laun, visi Tsiolkovsky tentang antariksa mewujud ke dunia nyata. Pada dekade 1920-an, Friedrich Tsander dan Alexander Shargei, misalnya, merancang bagaimana pesawat luar angkasa bisa terbang ke Bulan dan Mars. Pada dekade yang sama di Gas Dynamics Laboratory (GDL) yang terletak di kota St. Petersburg, Valentin Glushko menciptakan mesin roket pertama bagi Soviet. Tak ketinggalan, Alexander Shargei, seorang ilmuwan Soviet, menulis buku berjudul The Conquest of Interplanetary Space (1929) yang berisi hitung-hitungan bagaimana manusia dapat mendarat di Bulan dan pemanfaatan atmosfer Bumi untuk melakukan pendaratan dan peluncuran roket.

Sebagaimana dikisahkan Jamie Doran dan Piers Bizony dalam Starman: The Truth Behind the Legend of Yuri Gagarin (1998), selepas Yuri Gagarin sukses menjadi manusia pertama di antariksa, Uni Soviet adalah kandidat terkuat pemenang pertarungan luar angkasa. Karena itu Uni Soviet percaya diri melangkah ke jenjang berikut untuk menjadi negara pertama yang mengirimkan manusia ke Bulan. Mereka pun kemudian mengembangkan Soyuz.

Pada musim semi 1967, Soyuz siap terbang ke Bulan. Keterangan yang dipublikasikan United Press International (UPI), Biro Program Antariksa Uni Soviet, menyatakan: “Misi selanjutnya akan menjadi yang paling spektakuler dalam dunia penjelajahan luar angkasa Soviet”. Kosmonot bernama Vladimir Komarov akan menjadi nakhoda dan Yuri Gagarin didaulat sebagai cadangan.

Rencananya, Soyuz akan terbang ke bulan di sekitar May Day 1967, bertepatan dengan ulang tahun ke-50 Revolusi Rusia.

Sayang, menjelang tenggat peluncuran, Soyuz belum siap. Doran dan Bizony menyebut bahwa Soyuz memiliki 203 kesalahan teknis yang membuat perencanaan peluncuran di sekitar May Day tidak dapat dilakukan. Bahkan, pada 9 Maret 1967, teknisi-teknisi Soyuz menulis dokumen setebal 10 halaman merinci masalah-masalah teknis yang ada pada wahana itu dan meminta Kremlin membatalkan rencana peluncuran.

Tak ingin malu, pada 23 April 1967 Soyuz akhirnya diluncurkan. Sebagaimana diprediksi, wahana itu mengalami kegagalan teknis dan harus kembali ke Bumi. Nahas, Komarov tewas ketika Soyuz menghantam Bumi akibat kegagalan sistem parasut.



Vladimir S. Syromiatnikov, dalam studi berjudul “The Soyuz Spacecraft Today And Tomorrow” (1997) mencatat pengembangan Soyuz dilakukan oleh Sergei P. Korolev, salah satu orang top dalam dunia antariksa Uni Soviet, pada permulaan dekade 1960-an, menyongsong era pasca-Vostok 1. Soyuz, sebut Syromiatnikov, sejak awal dipahami sebagai pesawat ruang angkasa berawak multiguna yang harus melakukan misi-misi dasar dasar, seperti menerbangkan awak ke orbit, melakukan manuver orbital, melakukan terbang otomatis/manual, hingga memfasilitasi kosmonot melakukan “spacewalk”.

Setelah insiden yang menewaskan Komarov, Soyuz diperbaiki dan dikembangkan lebih hati-hati. Space.com mencatat, selepas kecelakaan itu, Soyuz memiliki 10 varian: Soyuz-TM, Soyuz-TMA, Soyuz TMA-M, Soyuz MS, dan Soyuz MS (next-gen). Perlahan, Soyuz memperoleh reputasinya sebagai wahana terbaik yang bisa digunakan manusia untuk pergi ke antariksa.

Selepas awal yang buruk, Soyuz sukses melakukan 1.680 peluncuran ke luar angkasa, entah membawa satelit ataupun manusia. Termasuk, pada 17 Juli 1975, mengangkut astronot AS Thomas P. Stafford ke ISS. Lantas, sejak pertengahan 2011, sejak misi ulang-alik AS dihentikan, Soyuz digunakan sebagai satu-satunya alat angkut astronot AS terbang ke ISS, dengan membayar ongkos sebesar $90,2 juta per orang ke Pemerintah Rusia.

The Guardian menyebut Soyuz sebagai “wahana tersukses”.

Kesuksesan yang sangat mungkin usang akibat SpaceX mengambil alih peluncuran astronot NASA.

Baca juga artikel terkait LUAR ANGKASA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight