Sastrawan dan budayawan Ajip Rosidi itu menjalani perawatan dan operasi di RSUD Tidar Kota Magelang, karena sakit sejak sekitar seminggu terakhir, akibat terjatuh di rumah anaknya di Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

"Betul, saya sedang 'ke sana ke mari' (mengurus segala sesuatu, red.) ini," kata salah seorang anak Ajip Rosidi, Nundang Rundagi, yang dihubungi melalui telepon di Magelang, Rabu malam, dikutip Antara.

Nundang menyatakan belum bisa memberikan keterangan lebih jauh terkait dengan rencana pemakaman karena dirinya masih sibuk mengurus jenazah ayahnya itu. Dalam keterangan Nundang sebelumnya, Ajip harus menjalani operasi karena perdarahan di otak, akibat terjatuh tersebut.

Jejak Karier Ajip Rosidi

Ajip Rosidi, sastrawan yang berasal dari Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menaruh minat besar terhadap perkembangan bahasa dan sastra Sunda.

Ajip Rosidi mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jatiwangi pada tahun 1950 dan kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta.

Ajip tidak tamat sekolah menengah, namun dia dipercaya mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi Indonesia, dan sejak 1967, juga mengajar di Jepang. Pada 31 Januari 2011, ia menerima gelar Doktor honoris causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Ajip Rosidi telah menghasilkan ratusan karya dalam bentuk buku maupun publikasi tulisan. Karya sastranya mulai dikenal publik tahun 1952, dan dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah, dan lain sebagainya.

Tahun-tahun Kematian buku pertama Ajip terbit ketika usianya 17 tahun, yaitu pada 1955. Ia juga menerbitkan kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, novel, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Karya Ajip juga banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing.