Airbag: Menyelamatkan Sekaligus Mengancam Nyawa Penumpang

Infografik Airbag
Ilustrasi airbag. FOTO/iStockphoto
Oleh: Dio Dananjaya - 19 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Puluhan juta kendaraan ditarik kembali karena masalah pada airbag, apa penyebabnya?
tirto.id - Airbag atau kantong udara belakangan ini sudah menjadi kelengkapan standar pada kendaraan keluaran terbaru. Piranti ini merupakan salah satu fitur keselamatan pasif yang terdapat di mobil, sebab airbag bekerja untuk mengantisipasi potensi kecelakaan yang lebih parah.

Airbag akan efektif meredam tabrakan frontal jika dibarengi dengan penggunaan sabuk pengaman yang tepat. Keduanya merupakan fitur keselamatan yang saling melengkapi untuk menghindari cidera serius akibat kecelakaan.

Instruktur Senior dari Safety and Defensive Driving Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengatakan bahwa ledakan airbag terjadi sangat cepat hanya dalam waktu sepersekian detik. “Tidak menggunakan seat belt sama saja merelakan wajah dan tubuh bagian depan tertampar ledakan airbag, yang justru menyebabkan cidera lebih parah,” ujarnya kepada Tirto.

Sesuai namanya SRS (Supplemental Restraint System) Airbag, bila diterjemahkan secara langsung fitur ini memiliki arti pengaman tambahan. Soalnya dengan sabuk pengaman saja dirasa belum cukup untuk menahan benturan saat tabrakan.

Sementara airbag dan seat belt bekerja secara pasif sewaktu terjadi kecelakaan, fitur keselamatan aktif telah kerja lebih dulu sebelum insiden terjadi. Fitur ini contohnya anti-lock braking system (ABS), brake assist (BA), electronic brake force distribution (EBD), traction control, vehicle stability control (VSC), hingga hill start assist.


“Secara umum keduanya dapat mengantisipasi potensi kecelakaan. Bedanya fitur keselamatan aktif dapat bekerja otomatis ketika pengemudi mulai menginjak rem, nanti komputer yang akan membaca seperti apa kondisi jalan, sehingga mobil tetap dapat dikendalikan dengan aman,” jelas Sony.

Bagaimana Airbag Meledak

Sebelum ada airbag, sabuk pengaman dan struktur rangka crumple zone barangkali jadi dua fitur keselamatan pasif paling diminati. Sampai akhirnya seseorang menyarankan sebuah bahan peledak di roda kemudi. Airbag sejatinya memang terbuat dari bahan peledak, tapi airbag dapat menyelamatkan nyawa.

Melansir dari Wired, ide airbag untuk otomotif berasal dari tahun 1950-an. Awalnya sebuah gas terkompresi yang akan mengisi sebuah kantong sengaja disematkan di mobil sebagai pengaman tambahan. Namun desain ini tidak berkembang dengan baik.

Ternyata satu-satunya cara agar airbag dapat memuai dengan cepat adalah dengan memanfaatkan bahan peledak. Hal ini didapat lewat reaksi kimia yang menghasilkan gas untuk mengisi kantong.

Airbag umumnya mengembang dalam waktu tidak sampai satu detik, bisa dibayangkan ilustrasinya seperti satu kali kedipan mata. Ini bisa terjadi lantaran kerja airbag didukung sensor, inflator, dan electronic control unit (ECU) yang saling bekerja satu sama lain.

Jadi saat tabrakan terjadi, sensor akan langsung mengirimkan sinyal ke ECU, yang akan meneruskan perintah ke inflator di mana airbag dipasang. Misalnya setir, dasbor, atau di bagian sisi pengendara dan penumpang. Sinyal dari ECU itulah yang akan mengembangkan airbag.

Dalam inflator airbag terdapat mekanisme listrik berupa kawat tipis. Jika dilewati arus listrik, maka kawat tadi akan membakar propelan airbag yang mengandung zat kimia. Hasil pembakaran inilah yang menciptakan gas nitrogen untuk meniup airbag.

Namun proses menggelembungnya airbag ternyata tak sederhana yang dikira. Banyak airbag rusak dan menimbulkan sejumlah korban jiwa dan cidera di seluruh dunia justru ketika tidak terjadi tabrakan. Program recall yang diadakan beberapa pabrikan pun dilakukan untuk menyiasati hal tersebut.


Dikutip dari BBC, tak kurang sekitar 100 juta kantung udara Takata telah ditarik kembali sejak masalah ini muncul pada 2007 di seluruh dunia. Airbag yang rusak ini bahkan telah menyebabkan puluhan kecelakaan dan lebih dari 100 luka ringan di seluruh dunia.

Perusahaan asal Jepang itu juga telah terbukti melakukan kesalahan dan harus membayar denda hingga 1 miliar dolar AS karena menyembunyikan cacat berbahaya dalam airbagnya. Hasilnya recall airbag Takata disebut-sebut menjadi penarikan terbesar dalam sejarah otomotif, karena turut melibatkan sejumlah pabrikan-pabrikan besar di dunia.

Penyebab meledaknya airbag tidak pada semestinya disinyalir terjadi karena fluktuasi suhu dan kelembaban yang membuat kualitas bahan kimia di dalam inflator menurun. “Ilmu pengetahuan dengan jelas menunjukkan bahwa inflator telah berubah menjadi tidak aman dari waktu ke waktu,” ujar Mark Rosekind, analis dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) kepada Autoblog.


Ketika kendaraan beralih dari menerima panas matahari di siang hari, dan menjadi dingin semalaman, perubahan suhu udara yang ekstrem cukup untuk mengubah ammonium nitrate dari satu fase ke fase lainnya. Para ahli juga mengatakan senyawa itu menyerap lembab dari udara, dan dengan mudah rusak setelah mengalami kejadian tersebut.

Tak heran, sejumlah mobil yang sudah berumur dan bertempat tinggal di daerah yang panas serta lembab punya risiko besar dengan cacatnya airbag. Temuan ini berasal dari laporan yang ditulis H.R. Blomquist, ahli kimia industri dan pakar propelan yang ditugaskan NHTSA untuk menginvestigasi masalah airbag Takata.

Masih dari Autoblog, Blomquist mengatakan jika desain inflator yang salah memungkinkan udara lembab untuk perlahan memasuki inflator. Di mana propelan yang sensitif terhadap kelembaban perlahan-lahan menurun seiring waktu karena fluktuasi suhu.

“Ketika airbag mengembang saat tabrakan, propelan yang rusak terbakar lebih cepat dari yang diharapkan, dan terlalu menekan rumah baja inflator yang menyebabkan fragmentasi,” tulisnya.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa menurunnya kualitas airbag terjadi paling cepat enam tahun setelah airbag diproduksi. Hal ini bisa terjadi di semua kantung udara yang menggunakan ammonium nitrate sebagai propelannya tetapi tidak mengandung dessicant, sebuah zat yang menyerap lembab.

Sebab airbag yang mengandung dessicant tak disebut menjadi bagian dari airbag yang ditarik dari pasaran. Beberapa produsen airbag pun mulai meninggalkan ammonium nitrate dan sebagai gantinya menggunakan guanidine nitrate, yang mereka yakini sebagai senyawa yang lebih sedikit menguap.



Menurut laporan The New York Times, Takata sebelum menggunakan ammonium nitrate pada 2001, menggunakan senyawa bernama tetrazole, yang dipandang efektif untuk menggelembungkan airbag. Namun, karena biaya produksi senyawa ini terbilang mahal, produsen mengambil solusi yang lebih ekonomis.

“Seharusnya Ammonium nitrate tidak dipakai di airbag. Senyawa itu lebih cocok untuk pertambangan atau konstruksi. Tapi itu memang murah, sangat murah,” kata Paul Worsey, ahli teknik bahan peledak di Missouri University of Science and Technology.

Sebelum tetrazole, ketika Takata mulai memproduksi inflater airbag di Amerika Serikat pada 1991, produsen ini menggunakan senyawa bernama sodium azide. Senyawa ini ditinggalkan karena mudah menguap dan bisa mengeluarkan asap beracun ke dalam mobil. Selain itu ia juga menyebabkan luka bakar kimia atau masalah pernapasan saat airbag meledak.

Keputusan Takata yang mengganti senyawa pada propelan akhirnya menyebabkan puluhan juta mobil ditarik karena kekhawatiran meledaknya airbag secara tiba-tiba. Blomquist juga mengatakan bahwa Honda jadi produsen yang paling terpengaruh langsung dari penarikan tersebut.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI OTOMOTIF atau tulisan menarik lainnya Dio Dananjaya
(tirto.id - Otomotif)

Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Windu Jusuf
DarkLight