Air Mineral, AC, dan Radiator Coolant, Mana Efektif Lindungi Mesin?

Oleh: Yudistira Perdana Imandiar - 3 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Air mineral dan cairan radiator (coolant) memiliki kandungan berbeda, sehingga mempengaruhi kemampuan yang berbeda pula untuk menurunkan temperatur mesin.
tirto.id - Air tanah atau air mineral seringkali dipakai untuk mengisi radiator. Air mineral memang lebih praktis dan efisien ketimbang memakai radiator coolant karena harganya relatif lebih mahal di pasaran. Namun, apakah semua cairan cocok untuk mengisi radiator mobil?

Fungsi radiator secara substansi, yakni meredam udara panas pada silinder mesin ketika terjadi proses pembakaran, apalagi pada mobil performa tinggi dengan torsi besar. Panas tersebut tentunya membuat temperatur mesin panas dan bisa mengakibatkan kerusakan, mulai dari setang seher bengkok, piston macet sampai-sampai menggerogoti dinding silinder. Radiator mengutus cairan pendingin untuk menjemput panas dari dinding silinder. Sehingga cairan yang digunakan harus resisten terhadap suhu tinggi atau punya titik didih tinggi.

Seperti dipaparkan dalam laman How Stuff Works, alur kerja radiator bermula dari cairan pendingin dipompa masuk menuju bagian dinding silinder. Cairan tersebut menyerap dan memindahkan panas keluar dari dinding silinder, untuk didinginkan dalam tabung utama radiator.

Dari area mesin, cairan pendingin yang sudah terkontaminasi udara panas bergerak ke arah tabung atas radiator melalui celah katup thermostat, yaitu sekat antara mesin dan radiator. Katup thermostat baru terbuka ketika terpapar udara panas—sekitar 195 farenheit (90 derajat celsius). Malfungsi pada thermostat yang tidak bisa terbuka bisa menjadi biang kerok masalah overheat karena cairan panas dari mesin tidak bisa dialirkan ke radiator.


Cairan yang membawa udara panas memiliki tekanan udara tinggi. Sehingga kondisi tutup radiator harus memiliki katup pengunci tekanan agar kuasa menahan dorongan dari tekanan udara tersebut ketika cairan sudah masuk ke tangki atas radiator.

Setelah melalui tangki atas, perjalanan cairan radiator berlanjut menuju tabung utama radiator yang memiliki rongga-rongga. Di situlah proses pendinginan terjadi. Udara sejuk dihembuskan ke dalam tabung oleh kipas radiator yang diaktifkan oleh switcher. Rongga-rongga pada tabung radiator itu menjadi akses udara dingin dari kipas masuk, sebaliknya udara panas dikeluarkan. Setelah temperatur turun, cairan kembali ke tangki bawah radiator untuk mengulang siklus serupa.

Air tanah atau air mineral tidak bisa bekerja seefektif radiator coolant untuk mendinginkan mesin. Sebab, radiator coolant diformulasi khusus untuk menyerap panas dan mencegah korosi (karatan) pada material silinder mesin. Adapun kandungan utama dari cairan pendingin, yakni air tanpa mineral, zat anti-beku propylene glycol, dan pencegah karat.

Kandungan propylene glycol membuat cairan radiator punya titik didih lebih tinggi, sekaligus titik beku lebih rendah ketimbang air biasa. Tingginya titik didih membuat coolant terhindar dari penguapan kala bersentuhan dengan temperatur tinggi mesin kendaraan. Usia pakai radiator coolant yang mengandung propylene glycol sekitar dua tahun atau 48 ribu Km.

Senada dengan penjelasan tersebut, Aftersales and Technical Training PT Sokonindo Automobile Sugianto mengatakan, air mineral justru membuat mesin berkarat. “Yang paling bagus (untuk pendinginan mesin) ya coolant yang memang buat mesin. Air mineral itu kan sudah jelas ada mineralnya. Itu bisa bikin mesin berkarat. Kalau manusia butuh mineral, tapi mesin kan sudah logam tidak butuh mineral,” jelas Sugi kepada Tirto (29/8/2018).


Infografik Radiator



Titik Didih Cairan Radiator

Perbedaan titik didih yang signifikan antara air mineral dengan cairan radiator formulasi khusus telah dibuktikan Vincent Enontiemonria Efeovbokhant dan Ohireme Nathaniel Ohiozua dari jurusan teknik kimia Universitas Covenant Nigeria dalam penelitian “Comparison of The Cooling Effects of a Locally Formulated Car Radiator Coolant with Water and a Commercial Coolant” (2013). Vincent dan Ohireme menggunakan tiga sampel, yakni air mineral (sampel A), cairan radiator minim aditif (sampel B), serta cairan radiator dengan komposisi ethylene glycol dan air 50:50, plus anti-karat (sampel C)

Setelah dilakukan pengujian dengan memanaskan 150 ml dari ketiga sampel tersebut di dalam gelas kimia, hasilnya air mineral memiliki titik didih paling rendah, yakni 100 derajat celsius. Sementara, cairan radiator minim aditif memiliki titik didih sedikit lebih tinggi, 101 derajat celsius. Berbeda dengan cairan radiator dengan formulasi khusus, titik didihnya menyentuh 110 derajat celsius.

“Tingginya temperatur pada sampel C adalah keuntungan, karena (sampel C) butuh suhu lebih tinggi untuk membuatnya mendidih, yang artinya lebih banyak panas yang diserap dari mesin,” tulis Vincent dan Ohireme dalam laporan penelitiannya.

Selain itu, ada kepercayaan pengguna kendaraan soal manfaat air kondensasi, seperti embun atau air buangan AC bisa dijadikan cairan radiator yang baik. Namun, hal ini perlu segera ditinggalkan, karena air kondensasi pun tidak cukup tangguh buat menangkal panas.

“Anggapan orang, air kondensasi, seperti embun atau air AC bisa dijadikan cairan radiator. Itu tidak benar. Memang air kondensasi kandungan mineralnya rendah, tapi titik didihnya juga rendah, jadi lebih besar kemungkinannya untuk menguap dan lebih cepat habis,” kata Sugi.

Selain karena penguapan, air radiator juga dapat menyusut karena terjadi kebocoran di area gasket atau packing silinder. Fungsi komponen tersebut, yakni menyekat antara ruang silinder dengan silinder head yang bersentuhan dengan cairan pendingin. Melansir Car Throttle, dalam kondisi packing sudah lapuk, cairan radiator dapat menyelinap ke dalam silinder, bercampur dengan oli mesin.

Kondisi tersebut membuat oli mesin berubah warna menjadi putih seperti mayonaise. Masalah kebocoran ini dipastikan menggangu sistem pelumasan serta berpotensi terjadi overheat karena air radiator terus berkurang.

Baca juga artikel terkait MOBIL atau tulisan menarik lainnya Yudistira Perdana Imandiar
(tirto.id - Otomotif)


Penulis: Yudistira Perdana Imandiar
Editor: Suhendra