Ahok dan Ihwal Cinta yang Tak Bisa Memiliki

Warga melintas di samping karangan bunga untuk Ahok-Djarot di Balai Kota, Jakarta, Selasa (25/4). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Oleh: Arman Dhani - 27 April 2017
Dibaca Normal 3 menit
Apakah setiap seseorang jatuh cinta harus dibarengi dengan relasi untuk selalu memiliki?
tirto.id - "Pak Basuki dan Pak Djarot kalian berdua tetap di hati kami."

"Thank You Bapak Ahok dan Bapak Djarot. We Love You."

Lebih dari dua ribuan karangan bunga dengan beragam curahan pesan warga memenuhi pelataran Balai Kota DKI Jakarta, di Jalan Merdeka Selatan, kantor tempat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bekerja. Karangan bunga yang bermunculan sejak awal pekan ini sebagai dukungan moral kepada Ahok usai kalah dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 putaran kedua.

Netizen bereaksi dengan berbagai respons di media sosial, beberapa menganggap sebagai tindakan membuang-buang uang dan pekerjaan sia-sia. Di sisi lain ada yang berbalik berkomentar positif karena aksi itu dianggap sebagai bukti sang gubernur dicintai oleh pendukungnya.

Beberapa karangan bunga menunjukkan kekecewaan, rasa cinta, dan kepedulian yang dalam. Ada yang menyelipkan humor, tapi ada pula yang menyelipkan curhatan, soal bagaimana Ahok adalah gubernur yang baik yang layak memimpin Jakarta. Sebagian orang merasa patah hati, kecewa, dan sedih karena mesti berpisah dengan Ahok. Kekecewaan yang barangkali bisa disandingkan dengan kehilangan seorang kekasih karena tak bisa memiliki sang pujaan, seperti kisah-kisah novel karangan Nicholas Sparks atau John Green.

Susan Krauss Whitbourne, Ph.D, profesor psikologi dari Universitas Massachusetts Amherst dan penulis buku The Search for Fulfillment, menyebutkan bahwa otak punya peran dalam menentukan keinginan seseorang. Otak bisa membentuk selera dan keinginan, hal ini lahir karena otak membentuk asosiasi antara beberapa hal yang dilihat dengan perasaan untuk memiliki. Misalnya keinginan untuk memiliki iPhone, cuma karena lingkungan sekitar menempatkan ponsel iPhone keren maka secara tak sadar mendorong rasa hati untuk memiliki.

Susan Whitbourne menyebut bahwa para neuroscientists mengetahui apa yang terjadi pada otak seseorang saat keinginannya dipenuhi, pastinya rasa bahagia membanjiri seluruh tubuh, hal ini karena ulah hormon dopamin yang diproduksi otak. Lalu bagaimana bila sebaliknya keinginan seseorang tidak terpenuhi? Pernahkah Anda merasakan rasa sesak di dada, seperti ruang hati yang kosong dan lowong, karena merasa ada bagian yang hilang. Rasa ingin memiliki itu membuat otak terus menerus merasa membutuhkan hal yang nyatanya tak terpenuhi.

Rasa sakit karena tak bisa memiliki sesuatu atau seseorang yang dicintai bisa membuat kondisi jiwa menjadi rapuh dan menderita. Perasaan menderita ini digambarkan nyaris sempurna oleh Johann Wolfgang von Goethe dalam novelnya Penderitaan si Pemuda Werther. Kisah Werther pernah menjadi novel paling banyak dibaca dan diapresiasi positif pada zamannya. Ia bercerita tentang pemuda Werther yang tampan dan tengah jatuh cinta pada Charlotte, seorang perempuan cantik yang kebetulan telah menjadi istri orang lain.

Charlotte menemani Werther menjalani hari, seperti makan siang bersama, berbincang bersama, jalan-jalan dan menari bersama. Namun, tak sengaja Charlotte memberikan harapan palsu, bahwa perempuan ini mengerti dan mau memberi kebahagiaan--membawa Werther ke dalam friend zone. Hal ini membuat Werther tak mampu berpaling ke lain hati, menurutnya perempuan cantik hanya Charlotte seorang. Padahal banyak perempuan lain yang menyukai si pemuda Werther.

Rasa cinta Werther tumbuh dan seperti kebanyakan orang yang jatuh cinta. Ia jadi naif, Werther hanya memikirkan Charlotte saja. Hingga suatu hari Charlotte datang dan meminta Werther untuk berhenti mencarinya, bahwa hubungan ini tak bisa dilanjutkan, bahwa Werther terlalu baik buat Charlotte. Charlotte meminta Werther pergi. Namu, keputusan ini tak bisa diterima Werther, ia lantas memilih mengakhiri hidupnya daripada tak bisa bersama perempuan yang dicintainya.





Seberapa jauh seseorang akan berusaha mendapatkan sosok yang dipujanya, di sisi lain orang itu tak memilikinya?

Susan Whitbourne menyebutkan bahwa perasaan tak bisa memiliki orang yang dicintai tak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit karena kehilangan orang yang kita cintai. Pada akhirnya beberapa orang memilih untuk menerima hubungan yang seadanya dan kemudian berusaha bisa move on setelahnya. Namun, perasaan yang tak selesai atau yang tak disambut pada akhirnya hanya akan menjadi beban dan hubungan yang dibangun atas dasar seadanya juga akan menjadi hal buruk.

Susan menyebut dalam psikologi perilaku ada bagian yang disebut sebagai “partial reinforcement”, perilaku memberikan hadiah atau respons kebahagiaan apabila seseorang menuruti perintah. Seperti orang yang pacaran, diberikan hadiah partikular apabila melakukan hal yang spesifik. Perilaku serupa muncul dalam uji coba yang dilakukan pada hewan, hewan yang diajarkan menekan satu tombol tertentu dan otomatis mendapatkan makanan, dampaknya hewan itu akan memperlakukan makanan sebagai sesuatu yang mudah didapat dan tak akan bersyukur.

Ini yang membuat seseorang tak bisa melupakan atau kehilangan orang yang tak bisa mereka miliki. Gregory S. Berns, Psikiatris dari Emory University, pada 2012 menurunkan jurnal dari penelitian yang menggunakan MRI dan memindai otak untuk memeriksa respons manusia terhadap hadiah. Ia memeriksa banyak pasangan yang diberikan hadiah air putih dan jus. Mereka yang diberi jus merespons lebih senang daripada yang diberi air putih. Ini bukanlah soal minuman, tapi yang membuat penelitian ini menarik bahwa Berns meletakkan dasar bagaimana manusia dewasa merespons relasi romantik dengan masing-masing pasangannya.

Saat kita mencintai orang lain, hal yang membuat kita bahagia adalah respons tak terduga dari perilaku yang ia lakukan. Berns menunjukkan bahwa ada bagian otak yang memberi respons bahagia karena hadiah tak terduga atau yang tak biasa dari perumpamaan saat diberi jus daripada sebuah air putih biasa.

Ini serupa yang muncul saat seseorang mencintai orang yang tak bisa dimilikinya. Ia akan memberikan rasa penasaran, sensasi ingin tahu, dan kebahagiaan karena harapan ingin memiliki tadi. Rasa ingin memiliki yang tak bisa dimiliki, membuat seseorang jadi ketagihan, seperti orang sakau akan narkoba.

Kasus serupa juga muncul pada mereka yang tak bisa move on dan tak bisa sintas saat putus dari pasangan yang sangat dicintainya. Seseorang yang putus padahal masih saling mencintai, karena beda agama atau beda ras, akan menganggap hubungan mereka baik-baik saja. Rasa kehilangan dan ingin memiliki akan tetap muncul, karena berakhirnya hubungan bukan karena rasa benci, tapi karena hal di luar alasan romantik. Seseorang akan terus menerus mengingat mantannya, meski ia telah putus tiga tahun yang lalu.

Kasus tak bisa move on dan tak bisa sintas dalam jurnal yang ditulis oleh Gregory Berns, lahir bukan karena rasa cinta yang tulus, tapi rasa penasaran yang tak terpuaskan. Bahwa rasa menginginkan seseorang yang tak selesai, yang tak pernah punya akhir baik. Respons yang tak terduga tadi membuat rasa penasaran, seperti penjudi yang tak akan berhenti sampai ia menang, atau pemadat yang tak akan berhenti sampai ia mendapatkan narkoba yang diinginkan.

Lantas bagaimana cara supaya tak lagi terjerat kebahagiaan semu ini? Susan Krauss Whitbourne, Ph.D menyebut, seseorang bisa memulainya dengan mencintai sosok baru yang datang dalam kehidupannya. Move on!

Baca juga artikel terkait CINTA atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Arman Dhani
DarkLight