Al-Ilmu Nuurun

Ahmed Zewail, Peraih Nobel Kimia Yang Tidak Anti-Agama

Oleh: Damianus Andreas - 25 Juni 2017
Dibaca Normal 3 menit
Ahmed Zewail merupakan salah satu tokoh fenomenal yang meraih Nobel di bidang fisika. Agama yang dianutnya berperan besar dalam penemuannya.
tirto.id - Ahmed Hassan Zewail menyadari ketertarikannya terhadap ilmu fisika sejak masih muda. Ia kemudian juga menggemari cabang-cabang ilmu serumpun, seperti matematika, mekanika, dan kimia. Zewail mengaku memiliki antusiasme tersendiri saat harus berhadapan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang tersebut.

“Ilmu sosial tidak semenarik itu bagiku, karena saat itu (ilmu sosial) lebih ditekankan kepada penghafalan pada subyek, nama dan sejenisnya, dan untuk alasan-alasan yang tidak saya ketahui. Pikiranku terus menanyakan 'bagaimana' dan 'mengapa',” ujar Zewail, seperti dikutip dalam sebuah pernyataan autobiografi untuk keperluan penghargaan Nobel.

Ketekunannya dalam bidang eksakta itulah yang mengantarnya meraih Nobel. Ia menjari orang Arab pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut. Yayasan Nobel di Swedia memberikan penghargaan kepada Zewail atas kinerjanya di bidang ilmiah femtochemistry. Zewail merupakan orang pertama yang melakukan percobaan secara jelas dalam menunjukkan saat-saat menentukan pada kehidupan sebutir molekul.

Dengan laser yang dinamakannya femtosecond, Zewail mampu menunjukkan pemecahan dan pembentukan ikatan kimiawi sebuah molekul.

"Hasilnya kerapkali mengejutkan. Berlenggak-lenggoknya atom-atom selama reaksi itu ternyata sama sekali berbeda dengan apa yang diperkirakan sebelumnya. Penggunaan teknik laser cepat oleh Zewail ini serupa dengan penggunaan teleskop oleh Galileo, diarahkannya terhadap segala sesuatu yang mampu menerangi katup-katup surga," seperti itulah tertulis pada buku terjemahan berjudul “Perjalanan Melalui Waktu: Jalan-jalan Kehidupan Menuju Hadiah Nobel”.

Seiring berjalannya waktu, femtochemistry tidak saja dapat diterapkan pada seluruh cabang ilmu kimia, tetapi juga dalam bidang-bidang yang berdekatan seperti ilmu bahan dan biologi.

“Femtochemistry telah mengubah secara drastis cara kita melihat reaksi kimiawi. Kabut ratusan tahun seputar kondisi transisi telah berhasil disapu bersih.”

Tertarik Sains Sejak Muda

Zewail lahir pada 26 Februari 1946 di Damanhur, Mesir, 160 km ke arah barat laut dari Kairo. Ia berasal dari keluarga kelas menengah. Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan ibu yang seorang ibu rumah tangga.

Sejak masih kanak-kanak, Zewail sudah gemar melakukan eksperimen kecil-kecilan di kamar tidurnya. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya, ia bereksperimen dengan menggunakan peralatan dari kompor milik ibunya dan beberapa tabung gas. Zewail kecil melakukan eksperimen itu untuk mengamati bagaimana kayu dapat diubah menjadi asap dan cairan.

Kegemarannya melakukan penelitian rupanya didukung kedua orang tuanya. Ayah maupun ibunya berharap Zewail kecil bisa menjadi seorang profesor kelak.

Selepas menempuh pendidikan di tingkat SMA, Zewail kuliah di Jurusan Kimia Fakultas Sains Universitas Alexandria, Mesir. Keseriusan Zewail dalam mempelajari kimia semakin nampak, ia lulus pada 1967 dengan predikat cum laude.

“Karena peringkat tinggi yang telah saya capai, maka para profesor kerap turut mengajak saya untuk ikut serta dalam kelompok mereka untuk pekerjaan S2 dan S3 yang sedang saya rencanakan. Saya merasa tertarik dan tergugah oleh penelitian yang sedang dilakukan Dr. Rafat Issa dan Dr. Samir El-Ezaby.”

Bersama kedua sosok itulah, Zewail yang telah berstatuskan sebagai asisten dosen bertekad untuk melakukan penelitian tentang spectroscopy dari beberapa persenyawaan. Adapun spectroscopy sendiri merupakan ilmu yang mempelajari interaksi antara molekul dengan cahaya.

Selanjutnya, Zewail pun memutuskan untuk melanjutkan studinya ke jenjang S2 di tempat yang sama saat dirinya berkuliah S1. Setelah berhasil menyelesaikan studi S2-nya, Zewail langsung mendapat kesempatan untuk mewujudkan impian orang tuanya, yakni menjadi seorang profesor, dengan menuntut ilmu di Philadelphia, Amerika Serikat.

Pada 1974, Zewail akhirnya memperoleh predikat sebagai PhD dari University of Pennsylvania di Philadelphia.

Berhubung situasi di Timur Tengah yang sedang dilanda peperangan, Zewail memilih untuk menetap di Amerika Serikat. Tak disangka, keputusannya itu membawanya ke jalan hidup yang mungkin tak pernah dibayangkannya.

Infografik ahmed zewail al ilmu


Fokus Meneliti Reaksi Kimia


Sebelum akhirnya menjadi dosen di California Institute of Technology pada 1976, Zewail sempat bekerja selama dua tahun sebagai peneliti pascadoktoral di University of Berkeley, California. Sejak menjadi bagian dari California Institute of Technology sebagai profesor di bidang fisika dan kimia, Zewail lantas memfokuskan dirinya sebagai peneliti keadaan transisi reaksi kimia.

“The California Institute of Technology atau Caltech adalah sebuah universitas yang kecil dan bebas. Caltech telah menjadi salah satu universitas penelitian yang utama di dunia. Dua puluh sembilan hadiah Nobel telah dihadiahkan kepada tenaga pengajar atau alumni Caltech.”

Femtochemistry sendiri tidak ditemukan Zewail dalam sekejap. Untuk menangkap keadaan transisi molekul-molekul yang berbeda jenisnya, setidaknya dibutuhkan waktu lebih dari 5 tahun lamanya. Pasalnya beda molekul, berarti beda juga resolusi waktu yang dibutuhkan.

“Dengan menggunakan resolusi waktu sebesar 1010, kita mampu mengamati keadaan transisi itu. Bingkai demi bingkai, dari ikatan kimia antara atom-atom itu dan membuat sebuah film bergerak, yang dalam keadaan kita, paling banyak mengambil waktu sebanyak beberapa picosecond saja.”

Pada intinya, temuan Zewail menangkap hubungan antara waktu dan zat dalam studi dinamika ikatan kimia. “Ketika itu kami yakin sekali bahwa bidang baru femtochemistry akan membuka dunia atom dan molekul untuk sebuah era baru dalam dinamika,” ungkap Zewail.

Awalnya, Zewail hanya menggunakan teknik femtochemistry temuannya untuk mengamati keadaan transisi reaksi kimia garam (Natrium iodida). Setelah selesai bereksperimen dengan garam, Zewail pun lantas mulai mengamati objek-objek lain, baik yang berbentuk padat, cair, maupun gas. Bahkan Zewail sempat meneliti reaksi-reaksi yang berlangsung pada kimia hayati.

Berjaya di Amerika Serikat

Keputusan Zewail untuk berdomisili di Amerika Serikat seusai menyelesaikan studi S3 membuatnya dapat status kewarganegaraan Amerika Serikat pada 1982. Oleh karena itu, Zewail akhirnya memiliki dwikewarganegaraan, selain tercatat sebagai warga Mesir.

Tak hanya dikenal sebagai ilmuwan, Zewail juga menorehkan satu catatan prestasi lagi dalam kehidupannya.

Pada April 2009, ia ditunjuk menjadi Dewan Penasihat untuk Presiden Barack Obama di bidang sains dan teknologi. Sebagaimana diketahui, Dewan Penasihat tersebut pada umumnya terdiri dari para ilmuwan dan insinyur ternama yang dianggap mampu memberikan saran bagi kepala negara dalam memformulasikan kebijakan dalam bidang-bidang terkait.

Selang beberapa bulan setelahnya, yakni pada November 2009, Zewail dinobatkan sebagai ilmuwan Amerika Serikat pertama yang diutus ke Timur Tengah. Dari situlah, Zewail akhirnya turut vokal dalam menanggapi isu-isu politik yang berkembang di negara asalnya.

Zewail tutup usia pada 2 Agustus 2016 di usia 70 tahun, setelah bertahun-tahun melawan kanker. Sepanjang hidupnya, Zewail setidaknya telah menulis 600 artikel ilmiah dan 16 buku.

Menanggapi ketertarikannya kepada sains, Zewail pernah berbicara bahwa agama yang dianutnya, yakni Islam, bukanlah agama yang kontra terhadap ilmu pengetahuan. Menurut Zewail, “tidaklah ada dasar yang fundamental dalam menyatakan bahwa Islam melawan ilmu pengetahuan. Itu merupakan persepsi yang tidak adil terhadap Islam dan negara-negara Arab pada umumnya.”

“Agama bersifat sangat penting bagi setiap orang dengan alasan yang beragam. Untuk itu, saya pun tidak melihat adanya konflik di antara agama maupun ilmu pengetahuan,” ungkap Zewail dalam sebuah wawancara.

Zewail berpendapat bahwa di awal kemunculannya, seorang Muslim diajari untuk menyadari akan pentingnya mendapat ilmu pengetahuan. “Namun jujur saja, sekarang ini banyak kemerosotan yang dialami oleh umat Muslim. Kita menjadi sangat terpengaruh oleh ide teori konspirasi yang membuat kami jadi cenderung menyalahkan orang lain atas kemunduran kami itu.”

Untuk memperjelas maksudnya itu pun, Zewail turut menggunakan sebuah ayat Quran, yang mana berbunyi, “Allah tidak akan mengubah kondisi baik dari seseorang selama mereka tidak mengubah keadaan baik mereka sendiri.” (Ar Rad 13:11)

Lebih lanjut, Zewail menyatakan bahwa Tuhan telah menciptakannya dengan semangat dalam setiap perbuatan yang dilakukannya. “Jika saya membaca buku, saya memiliki semangat untuk menyelesaikannya. Lalu saat tiba di Amerika Serikat, saya tertantang untuk menunjukkan bagaimana seseorang seperti saya yang Muslim dan tumbuh dengan beribadah di masjid mampu mencapai sesuatu,” ujar Zewail.

“Bahkan seusai meraih Nobel, saya bertanya pada diri saya apakah saya bisa memberi kontribusi bagi orang lain maupun ilmu sains secara umum. Mungkin karena itulah saya memiliki keyakinan. Bagi saya itu adalah bentuk keyakinan terhadap hidup, alam semesta, diri sendiri, dan Allah. Itulah yang menjadikan diri saya seperti sekarang.”

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti