Ahli Virologi: Varian Omicron Dominasi Penularan COVID-19 Indonesia

Reporter: Irfan Amin, tirto.id - 21 Feb 2022 10:27 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Ahli virologi dari Universitas Udayana mencatat 97,8 persen penularan COVID-19 di Indonesia dalam 4 pekan terakhir merupakan Omicron.
tirto.id - Ahli virologi dari Universitas Udayana, I Gusti Ngurah Kade Mahardika mencatat penularan COVID-19 di Indonesia saat ini didominasi varian Omicron.

"Dari data yang diunggah oleh pemerintah Indonesia di database internasional, setidaknya ada 97,8 persen varian COVID-19 di Indonesia adalah Omicron," kata Mahardika saat dihubungi reporter Tirto, Senin (21/2/2022).

Mahardika mengatakan data tersebut merupakan hasil pengolahan dari berbagai sampel yang diambil di Indonesia dalam kurun waktu 4 minggu terakhir.

"Dari data tersebut mengikuti tren penularan virus COVID-19 di dunia yang mayoritas adalah Omicron dengan persentase mencapai 90 persen," jelasnya.

Mahardika mengatakan varian Omicron menekan keberadaan varian Delta karena memiliki pola penularan lebih cepat.

"Meski mayoritas adalah Omicron, tapi bukan berarti Delta sudah tidak ada," ujarnya.

Mahardika meminta masyarakat untuk tetap berhati-hati dan menjaga protokol kesehatan.

"Jangan meremehkan Omicron dan jangan beranggapan bahwa Omicron lebih ringan dari Delta, hanya dari gejalanya yang berbeda," kata dia.

Mahardikan menjelaskan bahwa Omicron lebih menyerang dan berdampak pada saluran pernapasan bagian atas. Hal itu menyebabkan gejala yang timbul seperti batuk hingga gatal-gatal di tenggorokan.

"Itu berbeda dengan Delta yang menyerang pernapasan bagian dalam, dan biasa menimbulkan gejala sesak napas," ujarnya.

Mahardika meminta kepada pemerintah terutama di kota-kota besar yang memiliki angka transmisi lokal yang cukup tinggi untuk melakukan sejumlah tindakan preventif.

"Saya memantau tingkat penularan COVID-19 dari angka kapasitas tempat tidur di rumah sakit, dan saat ini ketiga provinsi seperti Jakarta, Jawa Barat dan Banten tingkat keterisiannya sudah mulai di atas 40 persen," ungkapnya.

Dirinya mewanti-wanti tingkat keterisian rumah sakit bila kembali melonjak dapat membuat pelayanan kesehatan menjadi tidak maksimal.

"Batas maksimal keterisian kapasitas tempat tidur adalah 60 persen dan jika lebih dari itu dapat membuat rumah sakit dan tenaga kesehatan menjadi tidak berdaya, maka peringatan lampu kuning mungkin bisa mulai dinyalakan" ujarnya.


Baca juga artikel terkait VARIAN OMICRON atau tulisan menarik lainnya Irfan Amin
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Gilang Ramadhan

DarkLight