Agnez Mo yang Nyaman Dalam Gaya Hip-Hop

Oleh: Joan Aurelia - 18 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Setelah bertahun-tahun dituding kerap meniru gaya selebritas ternama, Agnes Monica menunjukkan karakter gaya berbusananya.
tirto.id - Akhirnya Agnes Monica bebas dari omongan pedas soal kebiasaan meniru gaya penampilan selebritas internasional. Belum lama ini ia mempublikasikan video klip "Overdosed", lagu terbaru yang dinyanyikan bersama Chris Brown. Banyak komentar di media sosial menyiratkan kekaguman terhadap mantan selebritas cilik ini. Hal ini agak berbeda dibanding kejadian yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.

Pada tahun 2013, ia mengeluarkan single "Boy Magnet" yang disertai foto diri mengenakan atasan dan celana pendek. Warganet berkomentar bahwa foto tersebut serupa dengan salah satu potret penyanyi Britney Spears. Itu bukan yang pertama, Agnes pernah dibilang meniru Britney saat merilis video klip "Bilang Saja" pada 2004. Tuduhan meniru muncul lagi saat Agnes mengeluarkan video klip "Long as I Get Paid" tahun lalu.

Penampilannya di video klip tersebut dianggap meniru gaya penyanyi Nicki Minaj dalam video klip "The Fraud". Kemiripan nampak saat Agnes mengenakan bustier rancangan desainer Anne Avantie dan duduk seorang diri di sebuah kursi dengan sandaran tinggi.

Agnes tergolong selebritas yang cukup sering berganti gaya busana. Empat belas tahun lalu, ia tampil dalam citra remaja yang terkesan rebel lewat rambut panjang agak berantakan yang kerap dipadu dengan busana atasan tanpa lengan, celana ketat dan sobek-sobek, dan sepatu boots.

Seiring waktu penampilannya makin mengarah ke gaya busana penikmat musik hip hop. Ia kerap menggunakan perhiasan rantai berwarna emas berukuran besar, topi, jaket kebesaran, sneakers, celana kebesaran, dan baju dalam berupa cropped top (atasan yang panjangnya di atas pusar).

Ia terlihat sering tampil dengan gaya busana tersebut saat tinggal di Amerika Serikat untuk menjalankan beberapa proyek kolaborasi dengan musisi seperti Timbaland dan Chris Brown. Gaya pakaian Agnes berubah sesuai aliran musik yang ia garap. Dalam klip "Overdosed", selebritas yang sempat bermain dalam serial Lupus ini nampak mengenakan jaket kedodoran, anting dan gelang-gelang emas besar. Dua benda ini bisa dibilang ialah benda yang menandakan gaya busana yang banyak dipakai musisi hip-hop.


Gaya busana tersebut lahir pada tahun 1980-an saat hip-hop muncul di kalangan Afro Amerika di Amerika Serikat. Los Angeles Times mengutip pernyataan Sacha Jenkins yang menyebut bahwa fesyen selalu jadi bagian penting dari identitas hip hop karena fesyen adalah bagian penting dari identitas kaum kulit hitam di Amerika.

“Ketika Anda tidak punya kuasa terkait peran Anda dalam masyarakat, tak punya kendali terhadap situasi finansial dan edukasi; maka satu-satunya hal yang bisa Anda kendalikan ialah cara Anda berpenampilan,” kata Sascha.

Oleh karena itu, kaum penikmat hip hop menggunakan busana atau aksesori yang bisa memunculkan kesan mencolok baik itu dari sisi ukuran, motif, atau cara pemakaian. Pada masa itu, keinginan untuk tampil mencolok juga tertuang lewat penggunaan barang fesyen dari label premium. Gucci adalah label fesyen mewah pertama yang diminati banyak musisi hip-hop. Another Man mengungkap bahwa lini busana tersebut jadi indikator kelas dan tingginya selera para penikmat hip hop.

Memakai barang dengan label berbentuk dua huruf ‘G’ ini kemudian jadi keinginan banyak penggemar hip-hop. Hasilnya, terciptalah benda fesyen serupa dengan Gucci. Penciptanya adalah Dapper Dan, seorang penjudi yang membuka jasa pembuatan busana dan aksesori di kawasan Harlem. Ia mendesain sendiri benda-benda fesyen dan menaruh logo lini busana premium tersebut dalam benda yang ia buat. Ada kalanya, logo tersebut bersanding dengan nama label Dapper Dan. Toko Dapper Dan buka 24 jam dan tidak terbuka untuk umum. Para pelanggannya ialah sosok-sosok pecinta fesyen yang sebagian berasal dari kalangan selebritas. Kustomer Dan di antaranya Mike Tyson, LL Cool J, Sean Combs, Eric B & Rakim.


Infografik Hip Hop Fesyen


GQ menyebut Dapper sebagai sosok yang memberi karakter khas bagi gaya busana para musisi dan penikmat hip hop. Toko tersebut tutup pada awal tahun 1990-an setelah terbukti melanggar hukum lantaran mencantumkan sejumlah logo lini busana premium seperti Fendi, Louis Vuitton, dan MCM, tanpa izin.


Toko Dapper yang tutup seolah memberi semangat pada lini busana premium untuk mendekatkan diri pada ranah hip-hop. Tahun 1991, Chanel mengeluarkan koleksi busana wanita yang terinspirasi dari budaya hip hop. Selain itu, Versace juga jadi lini yang menarik para musisi hip-hop tahun 1990an- 2010an. Label busana asal Italia tersebut jadi penanda tren motif barok yang meliuk. Versace mampu mewakili kesan mencolok yang hendak ditampilkan oleh para praktisi musik hip hop. Penggunanya ialah Notorious B.I.G, Tupac, Drake, dan Kanye West. Desainer Marc Jacob juga pernah mengeluarkan koleksi bertema hip-hop lantaran ia merasa aliran musik tersebut ialah bagian penting dari masa mudanya.

Seiring waktu, perhatian lini busana premium terhadap hip-hop semakin besar seiring aliran musik tersebut tumbuh jadi genre paling laris di Amerika Serikat. Hal itu berpengaruh pada keinginan orang untuk bergaya ala penyanyi hip-hop.

Potensi pasar penikmat hip hop ini turut dilirik Alessandro Michele, direktur kreatif Gucci. Ia bahkan berani mengajak Dapper Dan berkolaborasi untuk membuat koleksi. Michele tak merasa terganggu dengan kabar buruk masa lalu. Ia hanya percaya bahwa Dan masih punya pengaruh kuat terhadap penentuan gaya para pecinta hip hop.

Koleksi tersebut tersedia di pasaran sejak Juli 2018. Agnes tidak terlihat mengenakan benda fesyen rilisan Gucci. Ia terlihat nyaman dalam Balenciaga, busana siap pakai karya Demna Gvasalia yang punya kesan kasual- sporty. Ia nampak nyaman tampil dalam kemeja terusan yang nampak kebesaran. Mungkin bagi Agnes, tampil mencolok tak harus dengan memakai baju penuh motif. Ia punya definisi gaya hip-hop tersendiri.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono