Agnes Varda: Sutradara Perempuan Perintis Sinema Perancis Modern

Oleh: Faisal Irfani - 2 Januari 2019
Dibaca Normal 5 menit
"Tujuanku: dicintai sebagai pembuat film karena film-filmku berbagi emosi dan kesenangan."
tirto.id - Agnes Varda percaya bahwa film adalah medium untuk berinteraksi dengan orang-orang dan lingkungan sekitar. Baginya, film lebih dari sekadar gambar bergerak yang diputar di layar perak; film adalah cara membicarakan masyarakat.

Sejak awal, Varda tak peduli apakah filmnya bakal laku di pasaran atau tidak. Yang terpenting, film yang ia garap mampu merepresentasikan realitas manusia dan masyarakat.


“Film-filmku banyak disukai dan diingat,” kata Varda kepada The New York Times. “Ini [salah satu] tujuanku: dicintai sebagai pembuat film karena film-filmku berbagi emosi dan kesenangan.”

Sikap semacam itulah yang pada akhirnya menghantarkan Varda menjadi sineas besar di jagat perfilman dunia.

Peletak Dasar Nouvelle Vague

Varda lahir di Belgia. Ibunya orang Perancis dan ayahnya berasal dari Yunani. Masa kecil Varda dihabiskan di Sete, kota kecil di selatan Perancis yang dekat dengan Laut Tengah. Saat usianya menginjak angka 18, ia mengganti nama kecilnya, yang semula “Arlette” menjadi “Agnes.”

Memasuki usia remaja, Varda belajar sejarah seni dan fotografi di École de Louvre. Usai lulus, Varda bekerja sebagai fotografer di Théâtre Nationale Populaire. Pekerjaan ini dilakoni dalam waktu yang tak lama karena ia merasa tidak puas.

Di masa-masa itu pula, Varda berkenalan dengan sutradara Alain Resnais, Chris Marker, dan Jacques Demy. Kelak, orang-orang menyebut mereka bagian dari kelompok Rive Gauche, alias kelompok pembuat film yang beredar di wilayah sebelah kiri Sungai Seine, Paris.

Dalam dunia perfilman Perancis dan Eropa, kelompok Rive Gauche kerap dianggap sebagai salah satu kelompok yang cenderung terabaikan. Kendati menjadi bagian dari lahirnya gelombang “New Wave” di Perancis, kelompok Rive Gauche tidak seterkenal kelompok yang dimotori Godard dan Truffaut.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, karya-karya Rive Gauche dinilai lebih politis dan banyak bereksperimen dengan sastra. Berbeda dengan karya Godard dan konco-konconya yang lebih “sinematik”. Kedua, anggota Rive Gauche tidak terlibat dalam pengelolaan editorial Cahiers du Cinéma, sebuah majalah majalah film Perancis yang didirikan pada 1951 oleh André Bazin, Jacques Doniol-Valcroze, dan Joseph-Marie Lo Duca.

Istilah “New Wave” sendiri muncul dalam dunia sinema sekurang-kurangnya sejak 1960-an. Predikat yang awalnya dipakai oleh kritikus dan jurnalis film Anglo-Saxon untuk menyebut eksperimen-eksperimen sinematik di luar tradisi sinema tradisional Perancis pasca-Perang Dunia II yang berbasis adaptasi sastra. Istilah ini kelak juga digunakan untuk menandai generasi baru pembuat film di berbagai tempat yang juga berambisi mengubah wajah perfilman di masing-masing negara.

Di Inggris, pencarian para pembuat film baru akan gaya realis yang mampu mengartikulasikan kegelisahan sosial dan politik pada zamannya akhirnya melahirkan film-film yang kelak digolongkan sebagai British New Wave, yang kisahnya tak jauh-jauh dari kehidupan kelas pekerja. Beberapa tahun sebelum itu, masuknya pengaruh (sinematik) Amerika ke dalam perbendaharaan budaya Perancis menghasilkan French New Wave.


Para sutradara di Eropa Timur, khususnya Ceko dan Polandia, terpengaruh sineas-sineas muda Perancis dan mengangkat narasi-narasi di luar pakem realisme sosialis. Sementara di Jerman Barat, New German Cinema tumbuh sebagai respons atas industri film komersil yang mandek, berdirinya Tembok Berlin pada 1961, Perang Vietnam, musim terorisme sayap kiri, dan euforia gelombang revolusi di Dunia Ketiga.

Uniknya, di Perancis, film yang menandai lahirnya gerakan New Wave bukan berasal dari geng Godard, melainkan dari anak-anak Gauche. Dan yang melakukannya adalah Varda dengan filmnya berjudul La Pointe Courte (1955).

Film Varda muncul empat tahun sebelum 400 Blows garapan Truffaut dan Breathless karya Godard—dua film yang sering disebut-sebut sebagai pijakan New Wave Perancis. Untuk itu, sejarawan film Georges Sadoul menyebutnya, “film pertama Nouvelle Vague—nama lain dari gelombang New Wave di Perancis.”

Film debut Varda berlatarbelakang kehidupan masyarakat nelayan di kampung halamannya, Sete. Dibantu Resnais yang bekerja sebagai penyunting, La Pointe Courte berkisah mengenai sepasang pasangan asal Paris yang menghabiskan waktu beberapa hari di Sete untuk memutuskan apakah mereka tetap bersama atau tidak.

Yang membikin La Pointe Coutre dinilai sebagai peletak fondasi Nouvelle Vague ialah karena Varda mampu mengkombinasikan gaya fiksi dan neorealis dengan cara bertutur ala dokumenter. Inovasi lainnya—yang dianggap sebagai terobosan baru sinema Perancis awal 1950-an—adalah fakta bahwa La Pointe Coutre digarap sendiri oleh rumah produksi Varda, Ciné-Tamaris, yang sepenuhnya berada di luar industri film Perancis. Pendanaan untuk film diambil dari patungan teman dan warisan keluarga. Sedangkan untuk pemain, Varda melibatkan aktor profesional dan amatir.

Tak hanya menjadi pembuka film-film sejenis lainnya di jagat sinema Perancis, La Pointe Courte juga berperan sebagai titik tolak bagi karier Varda yang terbentang panjang.

Film Varda: Wajah Kenangan dan Perempuan

Varda selalu mengeksplorasi ruang-ruang kreasi sampai titik yang sebelumnya tak pernah dijamah. Karya-karyanya adalah representasi tentang realitas sekitar yang dibalut dengan hangat, politis, dan terkadang satir.

Tidak seperti teman sutradara lainnya, Varda mengaku bukan penggemar film pada mulanya. Sebelum ia menjadi sutradara, ia hanya menonton sekitar sepuluh film saja. Sebagai gantinya, ia mencari inspirasi sekaligus imajinasi dari sastra, seni, lukisan, musik, orang asing, sampai ... kucing.

“Aku suka membuat film tentang orang-orang nyata. Aku suka berhubungan dengan mereka yang tidak kita kenal dengan baik,” kata Varda perihal subyek-subyek yang ia tangkap dalam filmnya.

Dari situ, ia berupaya memahami masyarakat dan karakter manusia yang kelak jadi ciri khas di setiap filmnya. Karya Varda dapat bersifat refleksi diri, tetapi ada juga detail sejarah yang kaya dalam film-filmnya yang sangat empatik dan nakal.

Menurut Varda, film-filmnya adalah cinécriture, gabungan dari portmanteau cinéma (pembuatan film) dan écriture (tulisan). Pendekatan seperti ini sudah ia lakukan selama hampir selama 60 tahun berkarya. Kualitas di filmnya menyerupai esai; terbuka, eksperimental, personal, mengalir, dan penuh pesan di hampir semua bagian.

Maka, jadilah film-film seperti Cléo from 5 to 7 (1962) yang bercerita tentang bagaimana penyanyi perempuan bernama Cléo (Corinne Marchand) menyikapi ketakutan akan kematian, atau Le Bonheur (1965) yang bertutur mengenai cinta segitiga.

Puncak kelihaian Varda nampak dalam Vagabond (1985). Film ini berpusat pada karakter Mona (Sandrine Bonnaire), perempuan gelandangan yang bepergian dari satu lokasi ke lokasi lainnya, tanpa tujuan, dan pada akhirnya meninggal di parit.


Lewat Vagabond, Varda nampak sedang memancing reaksi emosional penonton sekaligus mempertanyakan tanggung jawab sosial mereka ketika menyaksikan petualangan Mona yang berujung tragis. Vagabond diganjar banyak penghargaan, salah satunya Golden Lion di Venice Film Festival.

Memasuki 1990-an, Varda memutuskan untuk fokus ke dokumenter, meski sebetulnya ranah ini bukanlah medan yang baru bagi Varda. Pada 1976, ia membikin dokumenter berjudul Daguerréotypes yang mengisahkan rutinitas di Rue Daguerre, salah satu ruas jalanan di Paris sekaligus tempat Varda menghabiskan banyak waktunya.

Banyak yang bilang bahwa perpindahan orientasi berkarya Varda didorong oleh upayanya menyembuhkan luka atas kepergian sang suami yang juga sutradara, Jacques Demy, karena AIDS.

“Aku tertarik dengan film dokumenter karena aku bisa lebih banyak belajar untuk berhubungan dengan orang,” katanya kepada Indiewire. “Aku pikir tujuan ini akan bisa tercapai dengan memanfaatkan gambar dan suara.”

Karya dokumenter Varda bisa disimak melalui Jacquot de Nantes (1991), yang ditujukan untuk menghormati mendiang Demy. Lalu ada The Gleaners and I (2000) yang mengkritik seni dan konsumerisme—terinspirasi lukisan minyak Jean-François Millet berjudul The Gleaners. Sementara di Beaches of Agnes (2008), ia menyelami perjalanan hidupnya yang terbentuk dari tiga hal: film, pantai, dan hal-hal remeh yang terlupakan.

Terbaru, Varda, bersama JR, seniman dan fotografer asal Perancis, membuat Faces Places, film dokumenter yang menyusuri pedesaan Perancis, menciptakan potret orang-orang yang mereka temui, dari petani lokal sampai Godard, yang tinggal menyendiri di Swiss.

Di saat bersamaan, film-film Varda juga tak lepas dari gagasan-gagasannya sebagai seorang feminis. Lewat film, Varda hendak menyuarakan pengalaman khas perempuan mulai dari diskriminasi, dipandang remeh, dan diperlakukan tak setara.


Infografik Agnes Varda
Infografik Agnes Varda



Gagasan semacam itu tentu tak lahir dari ruang kosong. Varda melihat sendiri bagaimana perempuan begitu dipinggirkan, sejak pertama kali ia terjun ke dunia film. Era 1950-an adalah masa di mana sinema Perancis didominasi oleh pria dengan segala hierarki dan birokrasi yang rumit.

Pada Desember 1962, Cahiers du Cinéma merilis edisi khusus tentang “Nouvelle Vague” dan hanya memasukan tiga sutradara perempuan eksponen New Wave di antara mayoritas sutradara laki-laki: Paula Deslol (La Derive), Francine Premysler (La Memoire Courte), dan Varda (La Pointe Courte).

Salah satu suara protes Varda yang paling kuat bisa dilihat dalam One Sings, the Other Doesn’t (1977). Berlatar tahun 1962, film ini mengisahkan persahabatan siswi pemberontak berusia 17 tahun dengan seorang ibu beranak dua yang sedang hamil dan menginginkan aborsi.


Kisah persahabatan kedua perempuan ini dibangun dengan begitu indah. Mereka saling menguatkan, mendukung satu sama lain, berpisah, hingga akhirnya berjumpa kembali dalam sebuah demonstrasi menolak larangan aborsi.

Untuk poin terakhir, Varda terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi pada 1972 ketika pengadilan di Bobigny, wilayah timur laut Paris, menjatuhkan vonis pada perempuan yang melakukan aborsi. Keputusan tersebut membuat Varda dan ratusan perempuan lainnya marah. Penolakan mereka lantas dituangkan lewat Manifesto Simone de Beauvoir. Tiga tahun berselang, Perancis melegalkan aborsi.

“Perempuan tidak pernah punya pilihan,” tuturnya mengenai latarbelakang One Sings, the Other Doesn’t. “[...] Dalam film, perempuan selalu menjadi ibu.”

Kehadiran Varda membuktikan bahwa film adalah medium yang bisa menyelami banyak ruang; dari kisah-kisah personal, cinta yang tersimpan, kenangan masa silam, hingga alat perlawanan.

Di usianya yang menyentuh kepala sembilan, Varda adalah legenda hidup. Akankah ia pensiun dalam waktu dekat? Nampaknya tidak.

Baca juga artikel terkait PERANCIS atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Film)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf