Agar Sains Populer, Ilmuwan Perlu Belajar Komunikasi Publik

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 16 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Di zaman internet, akses dan medium informasi sains bukan lagi kendala. Masalah terbesarnya justru terletak pada cara mengkomunikasikannya ke publik awam.
tirto.id - Salah satu faktor penyebab tingginya jumlah korban dan kerugian material akibat gempa Palu-Donggala adalah minimnya pengetahuan masyarakat setempat terhadap potensi bencana di sekitar sesar Palu-Koro. Rendahnya kesadaran akan potensi bencana itu kian membahayakan karena pendidikan mitigasi bencana di Sulawesi Tengah tak berjalan maksimal.

Ketua LSM Perkumpulan Skala Trinirmalaningrum menuturkan, selama melakukan Ekspedisi Sesar Palu-Koro di awal 2018 lalu, ia menemukan banyak warga yang tidak mengetahui keberadaan sesar Palu-Koro beserta bahayanya. Ia juga menyebut minimnya sosialisasi dari pemda ihwal sesar Palu-Koro dan sejarah gempa di Donggala atau Sulawesi Tengah.

Pegiat LSM yang bergerak di bidang bencana itu menyebut, selama ini masyarakat di Sulteng hanya mengandalkan insting saat menghadapi bencana. Saat gempa besar 1968 lalu, warga di Donggala dan Sulteng menyelamatkan diri tanpa mengandalkan panduan dari pejabat pemerintah setempat.


Ironisnya pemerintah daerah bersikap pasif. Ketika Trinirmalaningrum mengingatkan potensi itu kepada pemerintah daerah, ia malah dituduh menakut-nakuti.

“Mereka takut investasi enggak jadi masuk ke Sulawesi Tengah karena ada sesar. Padahal, kami bukan mau menakut-nakuti, tetapi mau memberi tahu bagaimana kesiagaan perlu dibangun. Masyarakat perlu sekali informasi ini,” ujar Trinirmalaningrum.

Pengalaman Trinirmalaningrum bisa jadi contoh betapa tidak efektifnya komunikasi sains. Padahal, banyak hal dalam kehidupan sehari-hari kita berhubungan dengan sains. Masyarakat membutuhkan informasi sains dan terapannya yang akurat, tetapi sering kali komunikasi antara ilmuwan, pemerintah, dan publik awam tidak nyambung.

Masyarakat umum pun menganggap sains sebagai sesuatu yang jauh di awang-awang. Sains hanya dipelajari orang-orang pintar, yang hanya mereka sendiri yang mengerti bahasanya. Padahal, kealpaan pemahaman yang baik tentang sains dalam kehidupan sehari-hari memperbesar potensi penyebaran hoaks.

Kendala


Menurut Kepala Bagian Humas LIPI Dwie Irmawaty Gultom, peneliti punya beberapa masalah dalam mengkomunikasikan hasil penelitian mereka atau isu-isu sains secara umum. Masalah pertama yang paling sering ditemui adalah soal persepsi. Kebanyakan peneliti terlalu fokus pada cara menyajikan fakta-fakta sains yang akurat ketimbang soal keterbacaan informasinya.

It’s fine, memang seharusnya seperti itu. Tapi, masyarakat awam itu umumnya hanya ingin tahu apa manfaat hasil satu penelitian bagi mereka. Inilah perbedaan fokus antar masyarakat dan ilmuwan,” tutur Irma, sapaan akrab Dwie Irmawaty Gultom, dalam forum Wallacea Week 2018, Kamis (11/10/2018).

Publik awam selalu mengharapkan agar ilmuwan bisa menjelaskan riset mereka dalam bahasa yang mudah dicerna. Sementara, ilmuwan selalu mengharapkan publik untuk memahami sendiri hasil riset mereka dan bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Irma mengatakan, jurang persepsi itu muncul karena kesenjangan wawasan dan defisitnya model komunikasi.

Masalah kedua adalah bahasa. Perbedaan bahasa tentu menjadi kendala mempopulerkan sains ke publik. Ini juga terkait kemampuan menulis para ilmuwan. Menerjemahkan kerumitan sains menjadi tuturan yang mudah dicerna kalangan awam butuh kecakapan tersendiri.


Tulisan di jurnal-jurnal akademik, misalnya, memuat data, statistik, teori, dan rumus-rumus ditampilkan tanpa membedakan audiensnya. Untuk keperluan akademis atau forum ilmiah, hal ini tak jadi soal. Namun, masyarakat umum dengan tingkat pengetahuan yang beda-beda tentu sulit memahaminya.

“Hasilnya, ibarat ilmuwan bicara tentang apel tetapi masyarakat umum memahaminya sebagai jeruk,” kata Irma yang punya spesialisasi komunikasi kebencanaan.

Persoalan-persoalan inilah yang membikin riset-riset sains Indonesia sering tak terjangkau pembuat kebijakan, apalagi masyarakat awam.

Pahami Audiens


Di zaman yang serba terhubung dengan internet dan media sosial seperti saat ini, sebenarnya ilmuwan diuntungkan dengan medium komunikasi sains yang tak terbatas. Publikasi sains kini tak terbatas pada buku atau jurnal ilmiah. Aksesnya pun lebih luas dengan memanfaatkan media sosial.

Menurut jurnalis Kompas Aris Prasetyo, media grafis saat ini menjadi medium yang sangat potensial untuk mempopulerkan sains. Generasi milenial, konsumen informasi sains terbesar saat ini, adalah generasi yang akrab dengan teknologi. Karenanya, akses bukan lagi kendala. Namun, harus diakui, Ketahanan membaca mereka terbilang rendah.

Aris menjelaskan bahwa kultur generasi muda hari ini lebih visual. Jadi, medium grafis dan video adalah jalan keluar yang tepat. Penyebaran informasi sains juga kian cepat dan luas dengan memanfaatkan media sosial. Intinya: medium dan akses bukanlah kendala.

“Kalau dari perspektif jurnalistik, masalah terbesar dalam mempopulerkan sains memang berkisar pada bagaimana pesan bisa dipahami pembaca,” tutur Aris dalam forum Wallacea Week 2018.

Infografik Pentingnya komunikasi sains


Menurut Marshall Shepherd, komunikator sains yang juga kontributor Forbes, keadaan ini menuntut para ilmuwan membekali diri dengan kecakapan komunikasi publik. Hal pertama yang penting diperhatikan untuk memulai adalah dengan memahami siapa audiensnya.

“Buta akan siapa yang jadi audiens sama saja seperti main dart di ruangan gelap,” tulis Marshall Shepherd di laman Forbes.

Langkah kedua, seperti yang sudah sering disinggung, adalah menggunakan bahasa yang sederhana dan lugas untuk kalangan non-ilmuwan. Di bangku kuliah dan laboratorium, ilmuwan dilatih untuk berpikir dan menulis hasil riset secara metodik. Mereka bicara dari A ke Z secara runtut.


Ketika menghadapi publik awam, cara itu perlu dibalik: poin-poin kunci atau temuan riset harus disampaikan paling awal. Seperti sudah disinggung pula, masyarakat awam hanya ingin tahu apa manfaat hasil satu penelitian bagi mereka.

Lebih lanjut Marshall Shepherd juga menyarankan penggunaan analogi dan metafora yang berkaitan langsung dengan keseharian masyarakat awam.

“Saya menemukan bahwa analogi itu bekerja dengan baik. Meskipun tak sempurna. Ketika menjelaskan tentang beda cuaca dan iklim, saya menggunakan analogi ‘cuaca adalah suasana hati Anda, iklim adalah kepribadian Anda’,” jelasnya.

Baca juga artikel terkait KOMUNIKASI atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Pendidikan)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Windu Jusuf