Agar Pertengkaran Orang Tua Tak Berdampak Buruk pada Anak

Oleh: Nindias Nur Khalika - 13 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Pertengkaran orang tua yang terjadi berkali-kali, intens, dan tak kunjung selesai memengaruhi kesehatan mental anak.
tirto.id - Marilyn Wedge adalah seorang terapis keluarga yang telah berpengalaman membantu anak, remaja, dan keluarga selama 27 tahun. Di situs Psychology Today, nenek tiga cucu ini menceritakan salah satu kasus yang pernah ia tangani selama menjadi psikolog. Ia berkisah tentang Emma, gadis berusia 17 yang memiliki problem kejiwaan.

Emma remaja yang pintar. Wedge mengatakan bahwa Emma pernah mendapatkan nilai A untuk semua pelajaran di sekolah. Tapi, prestasi Emma lambat laun mulai menurun. Ia bahkan didiagnosis menderita Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Belakangan, Emma juga hendak menjalani tes autisme dengan fungsi tinggi (high functioning autism).

Saat sesi konseling berlangsung, Wedge bertanya masalah apa yang menyebabkan Emma mengalami persoalan tersebut. Anak perempuan itu lantas menjawab dengan cepat, ”Orang tua saya bertengkar. Mereka berbicara soal perceraian.” Wedge pun menanyakan berapa lama pertengkaran ayah dan ibu Emma berlangsung. Gadis pemalu itu menjelaskan bahwa perselisihan orang tuanya sudah lama terjadi.


Wedge kemudian menyampaikan apa yang dikatakan Emma kepada orang tuanya. Sang ibu dengan keras hati mengatakan bahwa pertengkaran bukanlah penyebab utama masalah Emma. “Ini lebih dari sekadar sifat pemalu Emma dan perselisihan kami. Ia punya gangguan mental. Yang ia lakukan hanyalah mengunci diri dalam kamar,” katanya.

Setelah empat bulan konseling, dugaan ibu Emma terbukti salah. Remaja tersebut menunjukkan perubahan seiring adanya usaha dari orang tuanya untuk menjaga agar Emma tak mendengar pertengkaran mereka. Nilai di sekolahnya membaik. Wedge juga mengatakan bahwa Emma menjadi sosok yang lebih tangguh.

Hindari Pertengkaran Destruktif

Menurut hasil penelitian Early Intervention Foundation (EIF) yang diketuai Gordon Harold dan Ruth Sellers dari University of Sussex (PDF), anak yang hidup dengan orang tua yang gemar berkonflik memang rentan terkena masalah psikis negatif saat usia bayi, anak-anak, dan remaja. Dalam hal ini, konflik orang tua yang diekspresikan lewat perasaan benci yang terjadi secara intens, berkali-kali, dan tak menemukan solusi akan memengaruhi kesehatan mental anak.

Penelitian itu juga menyatakan bahwa anak memperlihatkan kesedihan melalui cara yang berbeda-beda tergantung usia. Pada bayi berumur 6 bulan, denyut jantung yang berdetak cepat adalah tanda yang muncul. Saat beranjak dewasa hingga usia di bawah lima tahun, emosi negatif diperlihatkan dengan cara menangis, menarik diri, berperilaku tak pantas, atau mencoba campur tangan pada konflik orang tua. Sementara itu, tanda seperti gangguan emosi dan perilaku ditunjukkan oleh anak berumur 6 hingga 12 tahun dan remaja berusia 13 sampai 17 tahun.


Terkait problem psikis akibat perselisihan orang tua, EIF membagi persoalan tersebut menjadi enam bagian, yakni masalah yang tereksternalisasi, masalah yang terinternalisasi, masalah pendidikan, masalah kesehatan fisik, serta masalah sosial dan interpersonal.

Masalah yang terkesternalisasi berkaitan dengan perilaku negatif pada anak. Sikap agresi, perilaku tak patuh dan mengganggu, serta kekerasan verbal dan fisik adalah gejala yang timbul saat anak mengalami masalah yang tereksternalisasi. Di sisi lain, anak yang mempunyai persoalan yang terinternalisasi akibat konflik orang tua menunjukkan tanda depresi, panik, tak percaya diri, sedih, takut, dan menarik diri.

Persoalan kesehatan fisik seperti kelelahan, sakit kepala, dan sakit perut juga rentan menyerang anak yang tinggal dengan orang tua yang gemar berkonflik. Sementara itu, persoalan sosial dan interpersonal mulai dari tak mampu berinteraksi dengan sesama, susah menyelesaikan konflik, dan sulit bersosialisasi turut bisa dialami anak.

EIF mengatakan bahwa semua problem tersebut dapat menyebabkan berkurangnya kesempatan seseorang untuk bersosialisasi apabila dibiarkan menumpuk. Selain itu, juga berpengaruh dalam berhubungan degan generasi selanjutnya. Karena itu, orang tua mesti menghindari pertengkaran yang destruktif di depan anak agar terhindar dari masalah psikis negatif.


Infografik Kenapa papa mama berantem

Melatih Manajemen Konflik

Menurut theAsianparent Indonesia, menjauh untuk menenangkan diri kala emosi tak terkendali bisa dijadikan solusi. Orang tua pun bisa melampiaskan amarah dengan cara berolahraga atau tidur.

theAsianparent Indonesia lantas menjelaskan bahwa orang tua mesti menghindari kalimat yang berpotensi menyinggung saat sedang berselisih. Kemauan untuk mendengarkan, terbuka, dan menerima kemungkinan jika melakukan kesalahan juga bisa menjadi cara supaya perselisihan lekas selesai.

Apabila orang tua mampu menerapkan manajemen konflik yang konstruktif tersebut, tak menutup kemungkinan anak akan mendapatkan manfaat dari perselisihan orang tuanya. Hal ini diungkapkan Olena Kopystynska dari University of Arizona. Berdasarkan penelitiannya yang berjudul “Patterns of Interparental Conflict, Parenting, and Children’s Emotional Insecurity: A Person-Centered Approach” (2017), ia menjelaskan bahwa tingkat kegelisahan emosional anak cenderung rendah apabila orang tua menangani konflik dengan konstruktif.

Adanya temuan di atas, menurut Kopystynska, menunjukkan bahwa orang tua tak perlu menghindari perselisihan. “Mengingat bahwa anak-anak akan menghadapi konflik di dunia nyata, penjelasan terhadap perselisihan dapat bermanfaat. Namun, hal itu bergantung pada bagaimana orang tua menangani konflik yang membuat anak merasa aman dan lebih jauh mendorong pembentukan sikap manajemen konflik saat anak menghadapi perselisihan mereka sendiri,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait HUBUNGAN ANAK ORANG TUA atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Ivan Aulia Ahsan