Agar Perceraian Tak Meruntuhkan Bisnis Bersama Pasangan

Ilustrasi perceraian [Foto/Shutterstock]
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 4 Maret 2017
Dibaca Normal 4 menit
Kuncinya ada pada sikap menghormati pasangan, membuat kontrak kerja yang jelas di awal berbisnis, dan jangan korbankan karyawan di perusahaan.
Nilam Sari dan Hendi Setiono sama-sama merintis usaha Baba Rafi. Empat belas tahun silam, mereka merintis bisnis keban Turki dengan merek Baba Rafi. Tidak butuh lama hingga waralaba tersebut tumbuh besar. Hendi Setiono pun semakin laris menjadi pebisnis dan kerap menjadi motivator para anak muda yang ingin membuka usaha sendiri.

Memasuki tahun 2016, biduk rumah tangga keduanya mulai bermasalah. Nilam Sari dan Hendi Setiono akhirnya berpisah pada tahun 2017. Nilam melaporkan mantan suaminya ke polisi atas tuduhan perselingkuhan dan dugaan zina. Usaha yang mereka rintis pun terancam, meski Nilam dalam akun Instagramnya memastikan bahwa bisnis Baba Rafi yang dirintisnya akan tetap berjalan semestinya. Ia meminta dukungan dari para penggemar agar tetap mendukung Baba Rafi yang kini sudah memiliki 1.000 karyawan itu.

Merintis rumah tangga sekaligus berbisnis memang tidak mudah. Namun, banyak pasangan yang mengambil pilihan ini untuk membangun hubungan yang berkualitas karena menjadi lebih sering berinteraksi, berdiskusi, dan saling menyemangati.

Banyak kisah inspiratif pasangan muda yang sukses menjalani rumah tangga dan bisnis hingga berusia senja. Mereka memulai bisnisnya dari nol, lalu dengan perjuangan tak kenal lelah, di usia yang mulai menua mereka mampu menghasilkan pundi-pundi keuntungan yang berlimpah.

Misalnya pasangan Stan Kroenke da Ann Walton Kroenke. Pasangan asal Israel yang hijrah ke Amerika Serikat ini sukses membangun bisnisnya, merentang dari kepemilikan di sejumlah klub seperti Los Angeles Rams, Kreonke Sports Enterprises, THF Realty, Colorado Mammoth, Colorado Rapids, Arsenal F. C. Total kekayaan mereka, merujuk pada data Forbes per 2 Februari 2017, sudah mencapai $13,6 miliar.

Kisah serupa dialami oleh pasangan asal Korea Selatan, Do Won dan Jin Sook Chan yang sama-sama mendapat berkah saat sudah pindah ke AS. Do Won adalah penemu dan pemilik Forever 21. Kolaborasi pasangan ini menghasilkan kekayaan sebesar $2,8 miliar. Demikian juga Marion dan Michael Iltich, pasangan wirausahawan, pemilik Detroit Tiger dan Detroit Red Wings, serta penemu Little Caesars Pizza yang total kekayaan $6 miliar. Ada pula pasangan Stewart dan Linda Resnick, wirausahawan, pemilik The Wonderful Company, POM Wonderful, FIJI Water, dengan kekayaan total kekayaan sebesar $4 miliar.

Ada juga Andrew dan Peggy Cherng. Pasangan keturunan Tionghoa ini adalah pendiri sekaligus pemilik Panda Restaurant Group Inc., dan Panda Express. Total kekayaan mereka kini sudah mencapai $3,1 miliar. Pasangan beruntung lainnya adalah Bharat & Neerja Sethi Desai, penemu dan pemilik Syintel Inc yang kini bergelingan harta kekayaan mencapai $2,5 miliar. Ada pula wakil Indonesia, Sehat Sutardja & Weilei Dai yang kini telah meraup keuntungan sebesar $ 1,2 miliar dengan menjadi penemu sekaligus pimpinan perusahaan Marvell Technology Group.



Meski terdengar menyenangkan, tetapi berbisnis dengan pasangan juga berisiko tinggi. Salah satunya adalah perceraian. Hancurnya biduk rumah tangga bisa berujung pada bubarnya usaha yang dirintis bersama. Misalnya kisah Agostino Ribeiro dan Valerie Calisto. Kepada New York Times, pasangan yang memiliki bisnis firma hukum di Danbury, Connecticut, AS, ini adalah contoh mereka yang menghabiskan masa muda dengan bergelut dengan bisnis bersama, tetapi pada akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Ribeiro dan Calistro bertemu di pertengahan tahun 1980-an di sebuah sekolah hukum, dan hubungan mereka bersemi sepanjang era 1990-an. Saat itu, mereka memiliki firma bernama Ventura, Ribeiro & Smith, dengan Ribeiro berstatus sebagai chief executive. Mereka menikah di tahun 1998 dan tak butuh waktu lama bagi Calisto untuk terlibat di banyak aktivitas firma. Bersama-sama, keduanya menjalankan bisnis yang sekarang terdiri dari 50 orang karyawan, berfokus pada proses pengadilan sipil.

Namun, pertumbuhan bisnis yang makin besar membuat bahtera rumah tangga keduanya makin oleng. Badai itu akhirnya menenggelamkan bahtera Robeiro dan Calistro. Pada tahun 2006, keduanya resmi bercerai. Pertanyaan pun muncul: apakah mereka melanjutkan bisnis bersama atau salah satu dari Robeiro atau Calistro harus mengundurkan diri?

“Orang-orang bilang, termasuk pengacara kami, bahwa kami tak semestinya bekerja bersama,” kata Ribeiro, 5 tahun silam. “Tapi kami telah berbicara di kantor selama dua jam dan kami putuskan untuk tetap melanjutkan bisnis bersama, semampu kami.”

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Cencus Bureau pada 2007 silam, kurang lebih 3,7 juta perusahaan di AS dimiliki oleh pasangan suami-istri. Jika disandingkan pada statistik perceraian yang tinggi, situasi serupa sebagaimana yang dialami Robeiro dan Calistro sesungguhnya terjadi lebih sering dari yang dibayangkan. Beruntung bagi Robeiro dan Calistro, struktur perusahaan yang bagus tak membuatnya kolaps usai keduanya resmi bercerai. Dalam kasus lain, ada yang justru bangkrut.

Lalu apa saja yang semestinya dilakukan dalam situasi pelik tersebut?

Hal pertama, perlunya pemahaman tentang pentingnya menghormati pasangan. Misalnya pada kasus pisahnya Stephanie Blackwell dan suaminya pada tahun 1991 yang juga diceritakan pada Bryan Borzykowski dari New York Times. Meski perceraian membuahkan kemarahan, akan tetapi ia masih peduli dan menghormati suaminya kala itu. Keduanya memiliki 4 anak dan tak bisa begitu saja dari perusahaan yang sudah dirintis bersama. Ia pun memilih untuk berkompromi di tengah segala perasaan tak enak.

Ivan Lansberg adalah CEO Lansberg Gersick & Associates, firma konsultasi di New Haven, New York, yang sering menangani masalah bisnis keluarga. Ia juga sepakat bahwa kunci utama dari perceraian tipe ini adalah dengan tetap menjunjung rasa hormat kepada pasangan. Jika salah satunya sudah tak bersikap demikian, maka yang dirugikan adalah pasangan dan sekaligus bisnis yang pernah dibangun bersama.

Menurut Lansberg, masa depan perusahaan tergantung keterbukaan dalam berkomunikasi, kemampuan memprediksi apa yang perlu dilakukan, dan konsistensi atas prinsip yang dulu dipegang saat bisnis mulai berkembang.

Langkah kedua, mencari pertolongan dari para ahli. Jika komunikasi buruk, maka tak usah segan untuk mencari terapis, sebagaimana yang dilakukan Teri Allen saat bercerai dengan suaminya pada 2010. Ketika itu, amarah masih menguasai keduanya sehingga saling tak bicara. Kepada Borzykowski dia bercerita tentang keberhasilan program terapi itu. Perceraian memang sesuatu yang sulit, dan pasangan yang mengalaminya tak diwajibkan untuk menyendiri. Orang kedua yang bahkan hanya berguna sebagai 'tong sampah' juga penting.

Allen kemudian memberikan saran ketiga, yakni membuat perjanjian. Ia dan suaminya dulu tak membuat kontrak perjanjian yang layak, sehingga kesulitan dalam pembagian saham perusahaan ketika masalah muncul di kemudian hari. Ia menyesalkan hal ini. Hal ini tak dialami Ribeiro dan Calistro, sebab saat pertama kali membuat perusahaan, mereka bersepakat bahwa Calistro tetap bisa bekerja selama tiga tahun. Calistro merasa harus mengamankan kariernya meski keputusan bercerai telah resmi.

Jika pun tak ada kontrak dan salah satu pasangan keluar dari perusahaan, berdasarkan saran pertama tentang rasa hormat, seorang pasangan semestinya tetap harus memastikan bahwa mantannya pasangannya tetap terpenuhi kebutuhan pokoknya hingga bisa bekerja sendiri. Tidak adil jika seseorang tak mendapat hasil yang pantas padahal dulu pernah ikut berjuang membesarkan perusahaan.

Satu hal lain yang tak boleh dilupakan adalah jangan sampai perceraian mengorbankan perusahaan, terutama nasib para karyawan. Lansberg menekankan bahwa meski telah bercerai, karyawan perusahaan bersama harus diyakinkan untuk tidak memilih salah satu kubu. Kenetralan dan profesionalisme kerja harus dijaga. Pemilik perusahaan, yakni sang suami-istri, harus segera menjelaskan tentang apa yang sedang terjadi dan perubahan-perubahan apa yang akan terjadi di kantor sebagai dampak dari perceraian itu. Tekankan bahwa perceraian tak mengubah apapun tentang perusahaan.

Allen menuruti saran Lansberg ini. Ia dan mantan suaminya langsung mendudukkan para karyawan di ruang rapat untuk diberi penjelasan tentang perceraian keduanya. Ia mengatakan kepada karyawannya bahwa perpisahan yang terjadi sejak dalam waktu yang cukup lama itu tak mengubah rasa hormat terkait hubungan sesama rekan kerja. Para karyawan, kata Allen, “sangat lega dengan pengumuman itu. Mereka senang sebab tahu bahwa mereka tak akan kehilangan pekerjaan.”

Ada satu kesamaan yang dirasakan oleh Allen dan mantan suaminya, maupun Ribeiro dan Calistro: meski bercerai, segala gundah hati akhirnya menghilang setelah melewati dua tahun pertama. Cerita-cerita ini diharapkan oleh mereka berempat agar bisa dijadikan pelajaran bagi pasangan yang punya bisnis bersama. Perceraian bukan akhir segalanya. Atau justru lebih baik lagi: pertahankan hubungan, hindari perpisahan. Dijamin bisnis juga lebih aman.

Baca juga artikel terkait KELUARGA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Akhmad Muawal Hasan
DarkLight