Agar Indonesia Berjaya di Udara Melalui Sukhoi

Tiga pesawat Sukhoi SKM27 dan MK30 melakukan atraksi Smoke Drill, di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Antara foto/Jojon
Oleh: Petrik Matanasi - 8 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Meski rangking Indonesia tertinggi di Asia Tenggara versi Globar Fire Power, namun perkara di udara, jika dilihat luasnya wilayah Indonesia bisa dibilang lemah. Itulah mengapa jumlah pesawat militer Indonesia ditambah pelan-pelan.
tirto.id - Pemerintah Indonesia bersiap mengganti F-5 Tiger dengan Su-35 Sukhoi. Jika pesawat pertama yang sudah uzur itu buatan Amerika, maka pesawat kedua adalah buatan Rusia. Setelah robohnya Orde Baru, ini bukan kali pertama Indonesia membeli pesawat tempur Rusia. Di era pemerintahan Megawati, pada 22 April 2003, Indonesia mulai membeli empat unit pesawat tempur Sukhoi dan helikopter MK dengan nilai pembelian 193 juta dolar Amerika. Menteri Perdagangan dan Perindustrian Rini Soewandi ketika itu ikut serta mendampingi Presiden Megawati.

Saat ini, Indonesia telah memiliki 16 unit pesawat tempur Sukhoi, terdiri dari 11 pesawat Sukhoi tipe Su-30 dan 5 tipe Su-27 Flanker. Pesawat-pesawat buatan Rusia itu berpangkalan di Makassar, tepatnya di lapangan udara Hasanudin, Mandai. Sebelas Sukhoi itu masuk ke dalam kesatuan Squadron Udara 11 TNI Angkatan Udara.

Rencana konversi dari F-5 Tiger ke Su-35 Sukhoi berikutnya akan dialami Squadron Udara 14 yang berpangkalan Lanud Iswahyudi, Madiun. Dari squadron tersebut, empat perwira berpangkat Mayor dikirim ke Squadron 11 Makassar. Mereka dilatih menerbangkan Su-27 dan Su-30.

Sukhoi Su-35 punya kemampuan jelajah mencapai 3.600 km, cocok untuk Indonesia yang punya panjang wilayah 5.000 km lebih. Nantinya Indonesia akan memiliki tambahan pesawat lagi sebanyak 9 atau 10 pesawat Su-35 ini.

Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Ryamizard Ryachudu, sedang bernegosiasi soal pembelian pesawat tempur jenis Sukhoi ini. Jika hal itu terealisasi, Indonesia akan menambah 9 Sukhoi. Ditambah 16 yang sudah ada, Indonesia akan punya 25 armada Sukhoi.

Pesawat-pesawat buatan Rusia itu diniatkan menjaga wilayah Indonesia seluas 1.904.569 km2. Saat ini, menurut Global Fire Power 2016, Indonesia memiliki 420 pesawat. Dari jumlah tersebut hanya 93 pesawat tempur saja. Masih menurut Global Fire Power 2016, Indonesia menempati rangking 14 dalam kekuatan militer dunia, Indonesia yang terbesar di Asia Tenggara. Sementara itu, negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Vietnam menempati ranking 17, Thailand di urutan 20, Myanmar urutan 33, Malaysia di 34, Filipina di 51, Singapura di 64, Kamboja di 88 dan Laos di 121.

Ranking tersebut tidak mencerminkan negara mana yang memiliki armada udara terbanyak. Indonesia memang paling tinggi rankingnya versi Global Fire Power 2016, ke 14 dari 126 negara dunia. Namun dalam perkara armada udara, Vietnam justru dianggap paling kuat pada 2015 versi Global Fire Power. Vietnam menjadi negara terkuat di udara untuk kawasan Asia Tenggara karena memiliki pesawat tempur terbanyak di tahun itu. Pesawat tempur yang dimaksud adalah pesawat yang digunakan untuk pertempuran, baik pesawat pemburu maupun pembom.



Menurut Global Fire Power 2016, dalam perkara kekuatan militer, Vietnam di urutan 17 dari 126 negara dunia. Pada 2016, dengan wilayah hanya seluas 332.698 km2, Vietnam memiliki armada 289 pesawat terbang. Global Fire Power 2016 mencatat 161 di antaranya pesawat angkut, 146 pesawat tempur, 26 pesawat latih dan 175 helikopter. Jika wilayah Vietnam luasnya 332.698 km2, jumlah 289 pesawat itu berarti tiap 1,15 ribu km2 dijaga satu pesawat.

Indonesia yang berada di urutan 14 menurut Global Fire Power 2016 memiliki 108 pesawat latih, 170 pesawat angkut pasukan dan hanya 93 pesawat tempur. Untuk pergerakan jarak dekat hanya terdapat 157 helikopter. Sementara wilayah Indonesia, luasnya 1.904.569 km2. Dengan total 420 pesawat, versi Global Fire Power 2016, tiap pesawat yang dimiliki Indonesia harus menjaga 4.534 km2.

Rasio jumlah pesawat dengan wilayah Indonesia tak baik lebih dari Malaysia. Dengan luas wilayah hanya 329.847 km2 dan 227 pesawat yang dimilikinya, tiap pesawat militer Malaysia menjaga 1.453km2 saja. Menurut Global Fire Power 2016, Malaysia memiliki 68 pesawat latih, 96 pesawat angkut, 97 pesawat tempur dan 79 helikopter. Jumlah pesawat tempur Malaysia, yang wilayahnya tak seluas Indonesia, lebih banyak jumlahnya.

Dengan Singapura, Indonesia jelas kalah armada. Singapura, meski negara kecil, punya 238 pesawat militer. Belum ditambah 63 pesawat angkut dan 45 pesawat latih. Dengan wilayah yang hanya 716 km2, tiap pesawat Singapura hanya perlu menjaga 2,7km2 saja. Problem Singapura adalah wilayah yang justru terlalu kecil. Wilayah Singapura yang kecil, namun punya jumlah armada udara yang banyak, membuat mereka membutuhkan lahan untuk latihan pesawat tempurnya.

Selain dengan Malaysia, Vietnam dan Singapura, rasio pesawat militer untuk pertahanan dengan wilayah, Indonesia juga tak lebih baik ketimbang Brunei, Filipina, Thailand bahkan Burma. Brunei yang negara kecil, rasionya 1 pesawat untuk 151 km2. Filipina rasionya 1 pesawat untuk 2.222 km2. Thailand 1 pesawat untuk 931km2. Dan Burma alias Myanmar 1 pesawat untuk 2.764km2. Padahal negara terakhir, Burma, dianggap lebih terbelakang dari Indonesia. Soal pertahanan udara, Indonesia hanya melampaui Laos yang rasionya 1 pesawat untuk 13.929 km2 dan Kamboja dengan 1 pesawat untuk 8.620km2.

Terlalu luasnya wilayah Indonesia memang menjadi tantangan tersendiri. Dengan jumlah pesawat militer yang terbatas, itu pun terbagi dalam beberapa jenis, mulai untuk memburu armada musuh maupun angkutan personil militer, tentu menimbulkan banyak masalah. Bukan melulu masuknya pesawat asing ke wilayah Indonesia, tapi dalam soal menghalau kapal-kapal nelayan berbendera asing yang sering mangkal dan mengeruk ikan di perairan Indonesia. Tidak terjaganya perairan berakibat tercurinya kekayaan laut Indonesia.

Bukan rahasia umum, kepemilikan pesawat tempur yang memadai, bahkan kuat jumlahnya, mampu menegakkan wibawa negara. Banyak yang percaya armada udara Indonesia pernah jaya ketika memiliki beberapa pesawat pemburu dan pembom buatan Rusia pada era Sukarno. Meski hanya beberapa squadron saja, Indonesia menjadi menjadi negara yang ditakuti di Asia Pasifik.

Tapi itu hanya cerita lama dari zaman Sukarno. Pembelian Sukhoi Su-35 harapannya bisa merubah peta kekuatan armada udara di antara negara-negara ASEAN. Tak hanya pengubah statistik saja tapi demi kedaulatan dan wibawa Republik Indonesia.

Baca juga artikel terkait MILITER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
DarkLight