Menuju konten utama

Agar Balita Tak Rewel dalam Transportasi Umum

Ada rewel pada anak yang tak bisa dikondisikan. Tapi, ada banyak hal-hal yang bisa diantisipasi.

Agar Balita Tak Rewel dalam Transportasi Umum
Ilustrasi mengajak Anak naik Transportasi Umum. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Membawa bayi atau balita berpergian menggunakan transportasi umum bisa menjadi hal dilematis bagi orangtua. Bukan cuma repot membawa tambahan barang, mereka juga harus berhadapan dengan ragam reaksi penumpang ketika anak mulai rewel dan tantrum. Rasa capek hingga tak enak hati sebisa mungkin mereka telan tatkala penumpang lain memandang kesal dan merasa terganggu atas polah sang anak.

Ketidaknyamanan saat menghadapi bayi di transportasi publik sempat ditunjukkan oleh kakak beradik selebgram Angela Panari dan Marco Panari. Mereka menyatakan keberatannya lewat cerita di akun Instagram-nya soal aturan yang memperbolehkan membawa bayi dalam pesawat. Menurut Angela dan Marco, tangisan bayi akan mengganggu perjalanan penumpang lain, sehingga baiknya orangtua baru mengajak anak bepergian ketika sudah cukup umur.

“Gue lebih setuju bolehin hewan peliharaan masuk pesawat dibanding bayi,” ungkap Angela.

"... mereka mulai nangis tanpa alasan ... karena itu bayi ga boleh naik pesawat. Bayi itu ga jelas,” tulis Marco, membela sang kakak.

Meski kedua orang itu sudah meminta maaf, tetapi mereka kadung menerima protes dari warganet, terutama para ibu yang sering membawa anaknya berpergian. Helena adalah salah satunya. Ibu dari dua orang anak ini ikut kecewa atas pernyataan kedua selebgram tersebut. Ia kemudian sedikit bercerita perjuangan membawa anak ketika perjalanan jauh agar penumpang awam dapat bertoleransi.

“Dari kereta, kapal laut, bus, angkot, sampai pesawat sudah pernah aku coba. Terakhir ke Bengkulu naik pesawat waktu anak pertama usianya tiga tahun, dan anak kedua baru dua bulan,” kata Helen.

Setiap perjalanan jauh menggunakan transportasi publik, Helen selalu melakukan perencanaan matang untuk mengantisipasi anaknya rewel. Setidaknya satu tas besar terisi penuh oleh mainan dan makanan kesukaan mereka. Namun, seringkali rewel pada anak-anak dan bayi tidak bisa diprediksi, meski orangtua sudah berusaha mengantisipasi.

“Ini yang terpenting, siapin hati dan mental karena pasti ada banyak reaksi orang.”

Sewaktu ke Bengkulu, Helen sempat menghadapi anak sulungnya rewel karena lapar dan hanya mau makan ayam. Camilan dan mainan yang ia bawa tak bisa mengalihkan perhatian sang anak, sementara sajian yang disediakan di pesawat hanya roti saja. Helen dan suaminya sudah siap banyak meminta maaf kalau-kalau ada penumpang yang tak memahami kondisi mereka.

“Sempat teriak-teriak, kami juga khawatir ada yang terganggu. Akhirnya diajak ngobrol pramugari, reda juga tantrumnya,” ujar Helen.

Sejauh pengalaman berpergian dengan anak kecil, Helen belum pernah mendapat teguran langsung dari orang yang merasa tak nyaman dengan anaknya. Namun, beberapa kali ia mendapati penumpang lain menatap sinis. Sekarang, ia memilih memberi obat anti-mabuk sebelum memulai perjalanan untuk menyiasati mabuk dan membuat anaknya lebih cepat tidur.

Mengantisipasi Anak Rewel dalam Perjalanan

Jika Helena berkisah soal repotnya membawa anak menggunakan pesawat, Desy Susilawati membagikan cerita lain soal perjalanan ke Jombang membawa dua orang balita, selama 13 jam menggunakan kereta api. Ia harus bolak-balik ke kamar mandi ketika anak-anaknya kebelet buang air. Belum lagi ketika mereka mulai bertengkar, atau malah terlalu aktif di kereta, lari ke sana ke mari, dan membikin kegaduhan.

“Anak rewel tentu bikin pusing ya. Kalau enggak bisa diem juga kita capek ngasih tahunya,” keluh Desy.

Tak beda jauh dengan Helen, sebelum berpergian, Desy juga punya sejumlah trik untuk mengatasi rewel pada anak. Sebelum berangkat, ia menginformasikan soal jenis transportasi, suasana, dan lama perjalanan sehingga anak memiliki persiapan dan tidak kaget saat di jalan. Ia juga melibatkan mereka ketika membeli camilan dan menyiapkan mainan.

Untuk minum dan makan, Desy membebaskan anaknya memilih menu favorit sebagai bekal. Selama perjalanan, ia juga berinteraksi, mengajak anak bermain tebak-tebakan, bernyanyi bersama, menjelaskan tempat-tempat yang dilewati, dan terakhir memberi kesempatan bermain gawai, dengan waktu yang dibatasi.

“Kalau anak rewel, kita harus tetap tenang, bujuk dan beri reward ketika dia mau berhenti rewel.”

Tips membawa anak dalam perjalanan jauh menggunakan transportasi publik juga diberikan oleh Psikolog dari RS Pondok Indah, Jane Cindy Linardi. Pertama, orangtua harus memastikan kondisi anak sehat untuk melakukan perjalanan. Baru setelahnya memilih moda transportasi dan waktu keberangkatan yang sesuai dengan jam tidur anak.

Infografik Tips Membawa Anak dalam Transportasi Umum

Infografik Tips Membawa Anak dalam Transportasi Umum. tirto.id/Sabit

Jika menggunakan pesawat dalam penerbangan dekat, pilih jam terbang siang, sesuai jam tidur siang anak. Sementara pada jarak jauh, pilihlah penerbangan malam agar anak bisa tidur di pesawat. Cek juga ketersediaan baby bassinet pada maskapai, dan pilih rute yang langsung sampai ke tujuan tanpa harus transit. Bila anak mulai rewel, deteksi faktor penyebabnya, atasi, lalu alihkan perhatian mereka atau tidurkan.

“Bayi rewel bisa macam-macam penyebabnya, karena bisa bicara tentu semua keinginan dan ketidaknyamanan diekspresikan melalui tangisan,” katanya kepada Tirto.

Laman NCT menyarankan orangtua menghindari periode sibuk dan padat ketika berpergian. Jika memungkinkan, pilih tempat duduk dekat jendela untuk mengantisipasi bosan, dan pilih yang lebih memiliki banyak ruang, biasanya berada di dekat toilet (untuk kereta dan bus). Terakhir, jangan takut meminta bantuan petugas transportasi atau orang sekitar.

Meski begitu, perlu digarisbawahi bahwa ada beberapa hal yang kadang kala tak dapat dikontrol dan membikin anak rewel dalam perjalanan. Salah satunya adalah tekanan udara saat terbang yang membikin telinga anak sakit atau suara mesin yang berisik. Jane menekankan, bayi atau anak yang menangis bukanlah tanda ketidakmampuan orangtua mengasuh anak.

“Bersikap empati sangat penting, terutama ketika menaiki transportasi umum. Kita tidak bisa mengontrol sekeliling kita, terutama respons bayi yang masih helpless dan belum bisa berbicara,” pungkas Jane.

Baca juga artikel terkait MUDIK 2019 atau tulisan lainnya dari Aditya Widya Putri

tirto.id - Kesehatan
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani