Korban Rusuh 21-22 Mei 2019

Adam Nooryan: Tewas Ditembak Tanpa Keterangan di Surat Kematian

Oleh: Haris Prabowo - 26 Juni 2019
Dibaca Normal 6 menit
Ada 9 orang tewas dalam kericuhan pada 21-22 Mei 2019. Tapi, publik belum tahu informasi rinci: bagaimana dan mengapa mereka meninggal.
tirto.id - Selasa bakda magrib, 21 Mei 2019, Adam Nooryan tiba di rumah di Jalan Sawah Lio Gang III, Jembatan Lima, Tambora. Raut mukanya letih. Ia baru saja pulang kerja sebagai barista di salah satu kedai kopi di Pluit, Jakarta Utara. Selepas salat, Adam di kamar. Ayahnya, Nur Warsito, menghampiri untuk berbasa-basi kapan gaji pertama anak sulungnya berusia 19 itu cair.

“Perasaan gajian lama amat?” canda Nur, 42 tahun.

“Iya, Yah, Adam juga nungguin. Pengin beliin baju koko lebaran buat Ayah satu, sama adik satu. Yang seragamlah. Kan, lebaran kurang empat belas hari lagi. Warnanya apa yang bagus? Putih?” Nur menirukan ucapan Adam.

“Jangan putih. Cepet kelihatan kotor. Hitam, sih, bagus,” kata Nur.

“Masak hitam, sih?”

Adam adalah sulung dari empat bersaudara. Usia adiknya, Muhammad Noorfaros, hanya terpaut dua tahun. Nur tak pernah menyangka obrolan mereka di kamar itu menjadi saat-saat terakhirnya bertemu dengan Adam.

“Itu ucapan terakhir dia,” kenang Nur kepada saya, menampakkan wajah lesu di rumahnya, Jumat pekan lalu.


Informasi dari Grup WhatsApp

Usai berbincang, Nur beranjak ke Masjid Al-Mansur—masjid yang dikenal warisan kakek Ustaz Yusuf Mansur—untuk salat tarawih. Sekitar pukul 21.00, usai salat tarawih, Nur masih melihat Adam di kamar. Begitupun saat Nur hendak tidur, sekitar pukul 23.00.

Nur baru menyadari Adam tak ada di kamar saat bersiap sahur, sekitar pukul 03.00.

Tanpa sepengetahuan Nur, Adam ternyata pergi pada pukul 23.30. Adam menemui Dilah, sahabatnya (bukan nama sebenarnya), di salah satu warung bubur kacang hijau dekat rumah.

Dilah berkisah ia dan Adam berbincang tentang berbagai hal, termasuk informasi "kerusuhan" di bilangan Tanah Abang, yang menyebar melalui grup WhatsApp.

“Kami juga cek keadaan di grup [WhatsApp] tongkrongan, ternyata di grup lagi rame tentang aksi demo. Nah, kami lanjut ngobrol-ngobrol, saya sembari [melihat] live streaming aksi demo pakai HP,” kata remaja 16 tahun ini kepada saya di kawasan Tambora, Senin malam lalu.

Malam saat Adam bertemu Dilah, bilangan Tanah Abang dan Sarinah dalam suasana mencekam gara-gara bentrokan antara massa dan polisi. Versi resmi polisi, bentrokan dilakukan "perusuh" yang tidak terkait massa pengunjuk rasa di depan kantor Bawaslu sejak Selasa siang, 21 Mei.


Sekitar pukul 00.30, kericuhan masih berlangsung. Dilah dan Adam, yang menerima informasi dari grup WhatsApp, kian penasaran dan sepakat menuju lokasi. Sekitar pukul 01.10, mereka berangkat ke Tanah Abang mengendarai sepeda motor milik Adam. Mereka tiba sekitar pukul 01.30 di perempatan lampu merah Cideng-Tanah Abang.

Sepeda motor diparkir di lajur menurun ke arah Tanah Abang, berjarak sekitar 30 meter dari lajur datar. Kata Dilah, selain mereka, banyak sepeda motor milik orang lain.

“Akhirnya, saya dan Adam jalan ke samping kiri underpass Tanah Abang. Di sana kami ketemu Rifki, salah satu temen kami. Kami jalan terus menuju Bawaslu [Jalan Wahid Hasyim]. Hanya nonton-nonton. Kira-kira sampai jam 02:30. Karena mengingat waktu sahur, saya, Adam, Rifki, dan Arif akhirnya pulang,” cerita Dilah.

Tak Sekadar Menonton

Puas menonton, mereka memutuskan pulang. Namun, setiba di SPBU Jembatan Lima, mereka bertemu 13-an kawan. Dilah berkata saat itu Adam dan seorang kawan lain mengajak ke lokasi ricuh di Tanah Abang untuk terlibat bentrokan.

“Lu yakin, Dam?” kata Dilah.

“Udah, tenang aja,” balas Adam. “Kita modal nekat aja. Ikut anak-anak. Ramai ini.”

Setiba di perempatan jalan layang Cideng-Tanah Abang, mereka memarkir sepeda motor di lokasi yang sama. Para remaja ini lantas berpencar, tapi Dilah dan Adam tetap bersama. Berdua, menurut Dilah, sempat berada di barisan terdepan melawan polisi. Namun, setelah polisi merangsek massa dengan motor trail dan tembakan gas air mata, Dilah dan Adam terpisah.

"Akhirnya, saya sendiri balik ke parkiran,” kata Dilah.

Di lokasi motor terpakir, Dilah bertemu seorang teman bernama Diboy, yang mengajaknya pergi menjauhi lokasi. Tapi, Dilah menolak. Adam belum kembali, ujarnya. Sekitar pukul 03.30, Dilah menelepon Adam, tapi tak ada respons. Selang beberapa menit, Adam akhirnya kembali ke parkiran.

“Yang lain pada ke mana?” tanya Adam.

“Enggak tahu gue,” jawab Dilah.

“Ya, udah, lu tunggu sini aja jagain motor. Gue nyariin anak-anak,” kata Adam.

Dilah menurut. Tak lama, Dilah melihat rombongan kawan-kawannya berlarian ke arah jalan pulang menuju Jembatan Lima. Salah satu dari mereka ialah Rifki, yang tangannya terkena luka tembak peluru karet. Mereka berencana menuju ke RSUD Tarakan. Namun, dalam rombongan itu, Dilah tak melihat Adam.

“Ini Adam ke mana ya?” Dilah bertanya-tanya.


Susah Dihubungi dan Hilang

Kegelisahan Dilah dirasakan ibu Adam, Yuliana, 40 tahun. Kata Nur Warsito, istrinya sempat mengirim pesan WhatsApp ke Adam pukul 03.45.

“Dam, di mana?”

“Di sini,” balas Adam, tanpa memberitahu lokasi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00. Dilah mencoba berkali-kali menghubungi Adam. Telepon Dilah diangkat Adam sekitar pukul 04.10, tapi Dilah mengaku tak mendengar suara siapa pun.

“Lu di mana, Dam? Di mana?”

“Cuma dia enggak menyahut, enggak jawab. Cuma kayak suara angin aja. Cuma ‘sssrrrrtt’ gitu aja, kayak suara angin. Suara tembakan pun enggak ada."

Pukul 04.12, Dilah mencoba mengirim pesan WhatsApp ke Adam, tapi hasilnya hanya tanda centang satu—artinya, pesan tak sampai, entah karena ponsel Adam mati atau sinyal buruk. Tak lama kemudian, Diboy—kawan yang semula mengajak Dilah untuk pergi—datang membawa kunci sepeda motor milik Adam. Kepada Dilah, Diboy berkata melihat Adam di RSUD Tarakan dalam keadaan bersimbah darah.

“Akhirnya, saya dengan Diboy berangkat ke RSUD, lihat kondisi Adam. Saya sampai RSUD itu jam 04:30. Saya ke dalam RS," ujar Dilah. "Dan benar, saya melihat Adam sudah bersimbah darah. Saya langsung menangis."


Ditembak saat Menolong Orang

Menurut kronologi versi Nur Warsito, malam itu anaknya tertembak saat mencoba menolong lelaki bernama Rozak. Pria 21 tahun itu, kata Nur, datang ke rumah pada 25 Mei—tahlilan tiga harian—untuk berbelasungkawa dan mengucapkan terima kasih karena ditolong oleh Adam. Nur mendengar cerita dari Rozak bahwa Adam sempat berbicara selepas menolong Rozak dan tertembak.

“Bang ... Abang, enggak apa-apa, kan?” kata Adam, sepenuturan Rozak, diceritakan oleh Nur.

“Enggak, enggak apa-apa,” jawab Rozak.

“Setelah itu langsung lemes dan pingsan anak saya, kata Rozak. Si Rozak enggak luka, cuma kena gas air mata aja, makanya ditolongin Adam karena jatuh. Akhirnya, sama warga dan relawan dibawa ke RSUD Tarakan," ujar Nur.

"Kalau kata polisi sih di CCTV, memang benar [anak saya] lagi nolongin orang."

Jelang Ajal Menjemput

Pukul 04.50, Dilah melihat Adam berjuang bertahan hidup dengan mulut menganga dan kelopak mata setengah tertutup, sembari ditangani empat petugas medis RSUD Tarakan. Dilah meyakini Adam masih bernapas saat itu.

Beberapa kali petugas medis mengangkat tubuh Adam miring ke sebelah kiri, karena ada luka lubang di punggung sebelah kanan. Saat itu Dilah ditemani satu kawannya bernama Deri. Salah satu petugas medis berbicara kepada Deri.

“Mas, ini bukan luka tembak. Tapi luka senjata tajam,” kata petugas medis.

“Lah, bukan luka tembak gimana?" ujar Deri. "Dilah, ini luka tembak atau luka senjata tajam?"

“Luka tembak, Bang. Bolong saya lihat,” kata Dilah.

“Ya, sudah, nanti kita tunggu data forensik saja,” kata petugas medis.

Tak lama berselang, salah satu petugas medis memberikan ponsel dan dompet milik Adam ke Dilah. Dilah segera mengontak Yuliana. Dilah mengabarkan Adam di RSUD Tarakan terkena gas air mata. Keadaannya tak parah, ujar Dilah berbohong.

Dilah berkata ia terpaksa tak mengungkapkan kondisi Adam sebenarnya untuk menenangkan Yuliana.


Diterjang Peluru Tajam

Sebelum kedatangan Nur Warsito dan Yuliana di RSUD Tarakan, Samsuddin—bukan nama sebenarnya—datang lebih dulu. Ia adalah salah satu senior yang dekat dengan Adam, dan menganggap Adam sebagai adik sendiri. Ia menceritakan bagaimana keadaan Adam pada saat-saat kritis.

“Dok, adik saya kenapa?” tanya Samsuddin setelah tiba di RSUD Tarakan.

“Kamu siapa?”

“Saya kakaknya.”

“Sedang ditangani," ujar si dokter. "Sabar.”

“Iya, tolong dibantu dan diusahakan.”


Sama dengan Dilah, Samsuddin meyakini saat itu keadaan Adam masih bernapas tetapi kritis. “Darahnya sudah bercucuran banyak banget, sampai di [pelapis] kasur itu modelnya kulit, jadi ada darah atau air pasti tergenang, bukan rembes. Saya lihat itu banyak banget,” kata Samsuddin kepada saya, Jumat pekan lalu.

Pukul 05.10, Nur dan Yuliana tiba di RSUD Tarakan. Mereka kaget. Yuliana menangis. Nur langsung berbicara kepada salah satu dokter. Samsuddin melihat bagaimana Nur berbisik pelan ke telinga Adam yang sekarat.

“Ayah Adam datang itu Adam masih bernapas. Sekitar 05.30, ayah Adam masih di situ, Adam meninggal pun ayahnya tahu. Saya sempat melihat alat-alat sudah dilepas, mungkin memang sudah enggak ada—meninggal,” kata Samsuddin.

Sembari menangis, di dekat jenazah Adam, Samsuddin melanjutkan membaca surat Yasin.

Selepas kabar Adam meninggal, keluarga dan kerabat mengurusi segala hal, di rumah sakit maupun di rumah. Pukul 08.00, ketika keluarga dan kerabat mengurusi Adam di ruang jenazah RSUD Tarakan, datang seorang anggota TNI dengan tiga orang tak dikenal berpakaian sipil. Samsuddin berkata anggota TNI itu bertanya kepada salah satu dokter.

“Ini [jenazah Adam] yang nanganin siapa?”

“Saya, Pak,” kata salah satu dokter.


Samsuddin melihat anggota TNI itu berbicara kepada salah satu dokter. Dokter itu menyerahkan sebuah dokumen dan mempersilakan anggota TNI itu memeriksa beberapa lembar.

“Ini masih ada proyektilnya di dalam badan, Pak. Sengaja. Orangtua korban tak mau dibedah,” kata dokter.

Tak lama, anggota TNI itu menelepon seseorang; ketika menerima jawaban, ia memberikan semacam laporan.

“A1, Pak. Peluru tajam,” kata anggota TNI. Ia lalu menutup ponselnya. Tak lama, anggota TNI itu berkata ke semua orang di dalam ruangan: “Jangan omong ke media dulu, ya.”

Samsuddin berkata bukan hanya dia yang mendengar anjuran itu, "Ayah Adam, dan beberapa orang lain pun dengar percakapan itu. Ada bapak saya, saya, ayah Adam, dan Dilah juga, yang lagi menangis."

Samsuddin memperlihatkan sebuah foto anggota TNI itu, yang diambil secara diam-diam, kepada saya. Dari pakaian seragam loreng hitam-hijau, dengan topi berwarna senada, kemungkinan besar anggota TNI itu berasal dari Angkatan Darat.

Rabu siang, 22 Mei, sekitar pukul 11.00, jenazah Adam dimandikan di depan rumah oleh ayahnya, Samsuddin, Dilah, dan beberapa kerabat lain. Saat memandikan itulah Samsuddin melihat luka tembak di bagian punggung kanan tubuh Adam.

Tak Ada Keterangan Sebab Kematian

Usai zuhur hingga pukul 2 siang, Adam dimakamkan di TPU Puri Kepa, Jakarta Barat.

Nur berkata pihak RSUD Tarakan mengaku bahwa luka yang dialami Adam adalah luka tembak, kendati tak ada keterangan sebab kematian Adam dalam surat yang diterima keluarga.

Nur memperlihatkan surat kematian itu kepada saya. “Enggak ada nih, polos [enggak ada kategorinya]. Tapi kalau kata dokter bilang, ini memang luka tembak,” katanya

“Kami memang ditawarin untuk diautopsi. Saya bilang enggak mau. Saya ikhlasin saja. Kasihan anaknya, nanti prosesnya lama. Namanya juga sebagai muslim."

"Kalau masalah itu [luka tembak], udah biarin aja. Saya keluarga sudah ikhlas. Kalau memang takdirnya di situ, ya, mau gimana lagi?”

“Tapi polisi, sih, katanya mau tetep diautopsi. Karena itu buat penyelidikan lebih lanjut, katanya. Saya, mah, enggak bisa apa-apa kalau memang aparat hukum yang omong, terserah juga."

Pihak RSUD Tarakan menolak memberi keterangan saat saya bertanya mengapa sebab kematian Adam dikosongkan dalam surat kematian.

"Langsung ke Dinas Kesehatan, ya," kata Dian Ekawati, Direktur RSUD Tarakan. "Soalnya satu pintu. Semua informasi di Dinas Kesehatan."

Dian terdiam saat saya berkata bahwa Dinas Kesehatan hanya bertugas menginput data, sedangkan materi data adalah tanggung jawab pihak rumah sakit.


Jangan Ditutup-tutupi

Rivanlee Anandar dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mendesak kepolisian Indonesia tidak menutup-nutupi akses pendampingan bantuan hukum dari pihak mana pun kepada keluarga korban. Sebab, kata Rivanlee, para keluarga korban memiliki hak mendapatkan ruang keadilan sebagai warga negara.

Rivanlee meminta polisi bersikap kooperatif jika memang ada anggota kepolisian yang diduga terlibat dalam bentrokan 21-22 Mei.

“Harus diproses hukum secara adil siapa pun yang diduga menembak para korban, termasuk anggota Polri itu sendiri,” kata Rivanlee, 18 Juni lalu.

Baca juga artikel terkait AKSI 22 MEI atau tulisan menarik lainnya Haris Prabowo
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Haris Prabowo
Penulis: Haris Prabowo
Editor: Jay Akbar
Artikel Lanjutan