Ada Rasisme dan Rock N Roll di Balik "Malam Penghancuran Disko"

Lebih dari 7.000 penggemar dari 50.000 penonton di Chicago White Sox park menyerbu lapangan setelah pertandingan pertama dari seorang doubleheader yang dijadwalkan melawan Detroit Tigers, 12 Juli 1979. Pertandingan kedua harus dibatalkan ketika wasit menguasai lapangan. tidak layak untuk bermain. Huru-hara mengikuti pembakaran catatan disko di lapangan oleh stasiun radio anti-disko. (AP Photo/Fred Jewell)
Oleh: Faisal Irfani - 22 Oktober 2019
Dibaca Normal 4 menit
Dalihnya atas nama musik rock, kenyataannya justru rasisme. Inilah gambaran ketika musik disko pernah 'dihancurkan' di era 1970-an.
tirto.id - Musik adalah perkara selera yang, antara satu dan lainnya, tak bisa disamakan. Saya menyukai jazz, belum tentu Anda mengalami hal serupa. Anda mencintai folk-kopi-senja, bisa jadi saya membencinya. Semua berputar seperti siklus yang tak berkesudahan.

Perkara selera ini lahir dari bermacam faktor. Mungkin karena kualitas musik itu sendiri, mungkin juga sebab dorongan sosial-politik. Seperti yang terjadi di Amerika Serikat pada akhir 1970-an manakala kehadiran disko dirisak banyak anak-anak muda.

Kebencian terhadap disko di era itu berlangsung secara masif. Propaganda anti-disko digaungkan sekeras mungkin yang berpuncak pada lahirnya malam penghancuran disko—atau biasa disebut dengan “Disco Demolition Night”.


Musik Pembebasan


Nicky Siano, salah satu penggerak disko di AS, pernah mengatakan bahwa lagu-lagu disko adalah tentang “menyebarkan cinta, bergembira ria, dan membuat dunia jadi tempat yang lebih baik.” Disko, tambah Siano, "menyatukan orang di lantai dansa."

Musik disko lahir dari subkultur urban pada awal 1970-an, terutama di kota-kota besar di AS seperti New York maupun San Francisco. Gagrak musik ini dibentuk dari dua elemen: lagu bertempo upbeat yang diputar di sepasang turntable serta jogetan di lantai dansa.

Mulanya, disko hanya berkembang di bawah tanah, di tengah gemuruh popularitas rock, serta di klub-klub malam yang jumlahnya tak seberapa. Namun begitu, ketenaran disko perlahan menanjak ketika lagu berjudul “Soul Makossa” garapan Manu Dibango, komposer berkebangsaan Kamerun, meledak.

Nama disko kian melambung tatkala film Saturday Night Fever (1977) yang dibintangi John Travolta serta disutradarai John Badham dirilis ke pasar. Film ini memperkenalkan lagu-lagu berwarna disko yang dibawakan Bee Gees, Kool & the Gang, hingga Yvonne Elliman dalam soundtrack-nya.

Sejak saat itu, disko tak lagi sama. Ia dirayakan anak-anak muda. Musisi maupun penyanyi disko pun kian mudah dijumpai—dari MFSB, First Choice, ABBA, sampai Hamilton Bohannon. Tak sekadar musik, disko juga sudah berubah jadi gaya hidup dan memperoleh tempat secara khusus di The Loft dan Studio 54—dua klub malam yang terletak di New York.

Kendati punya popularitas yang cukup tinggi, disko tetap dianggap musik di luar pop arus utama. Ada tiga hal yang mendasarinya. Pertama, disko hanya populer di kota-kota besar. Kedua, disko tak punya tempat di stasiun radio pop. Ketiga, disko tak memiliki ikon yang mudah dikenali masyarakat.

Satu hal yang tak bisa dilepaskan dari eksistensi disko adalah musik ini punya akar kedekatan dengan kelompok minoritas seksual, atau LGBT, di AS.

Diana Mankowski dalam Gendering the Disco Inferno: Sexual Revolution, Liberation, and Popular Culture in 1970s America (PDF, 2010) menerangkan kehidupan kelompok LGBT di AS, terutama gay, pada masa itu tidaklah ideal. Mereka harus hidup dalam gelembung ketakutan maupun persekusi massa. Histeria anti-gay masih tinggi di tengah masyarakat. Kelompok LGBT dianggap jahat, sakit, dan menyimpang.

Kondisi ini membikin gerak orang-orang LGBT terbatas. Mereka tak leluasa mengekspresikan orientasi seksualnya dan terpaksa bersembunyi dalam senyap. Tempat yang bisa dituju hanyalah bar-bar bawah tanah yang jarang terdeteksi radar aparat.

Peristiwa nahas terjadi pada pertengahan 1969 tatkala polisi melakukan penggrebekan serta penangkapan kaum gay di sebuah bar yang terletak di Greenwich. Aksi represif aparat tersebut berujung rusuh. Kejadian ini kelak dikenal sebagai “Kerusuhan Stonewall” (“Stonewall Riot”).

Tindak brutal aparat seketika membangkitkan kesadaran kelompok LGBT untuk memperoleh hak setara dari pemerintah. Organisasi advokasi macam Gay Liberation Front (GLF) dan Gay Activist Alliance (GAA) mulai mencuri panggung—meminta kekerasan dan persekusi terhadap kelompok minoritas seksual dihentikan.

Upaya itu, masih mengutip makalah Diana, memperlihatkan hasilnya ketika pemerintah kota New York mengeluarkan undang-undang perlindungan terhadap gay di ruang publik seperti bar dan diskotek. Dari sinilah diskotek dan musik disko menjelma sebagai medium pembebasan bagi kelompok LGBT atas segala isolasi yang selama ini mereka terima.

Dengan disko dan lantai dansa, orang-orang LGBT dapat mengekspresikan perasaannya secara leluasa tanpa harus takut dipersekusi. Bar menjadi pusat berkumpul, menjalin relasi, dan sosialisasi. Sementara tarian disko digunakan sebagai sikap politik—bahwa mereka juga berhak menikmati kebebasan semacam itu sama seperti masyarakat pada umumnya.




Dirusak Atas Nama Rock and Roll


Tapi, perjalanan disko untuk diterima masyarakat luas tak selalu mudah. Melambungnya ketenaran disko dibarengi dengan kebencian yang ditujukan terhadapnya.

Laporan The New York Times mencatat bahwa oleh para kritikus, disko dikecam sebagai musik murahan, mengabaikan estetika, dan cenderung mengejar kesuksesan komersil belaka. Sementara bagi para fans musik rock kebanyakan, yang kala itu terancam tengah popularitasnya, disko adalah sampah.

Dalam tulisannya berjudul “Disco Demolition: The Night They Tried to Crush Black Music” (2019), jurnalis The Guardian, Alexis Petridis, menyatakan ketidaksukaan sebagian publik AS terhadap disko disebabkan beberapa hal.

Pertama, dominasi disko yang merajai berbagai tangga lagu maupun penjualan album seperti sulit untuk dikikis. Dalam daftar tangga lagu 1979, misalnya, hanya tiga lagu saja—dari total 16 buah—yang bukan disko. Setahun sebelumnya, single disko duduk di peringkat pertama tangga lagu dalam 37 minggu. Situasi ini, mau tak mau, mendorong popularitas rock ke tepi jurang.

Kedua, disko—yang lekat dengan kulit hitam—membuat orang-orang kulit putih, terutama yang konservatif dan kanan, jadi insecure. Orang-orang ini menilai disko bakal menggerus identitas “kulit putih” Amerika. Di Detroit, sekelompok DJ (Disc Jokey) membikin narasi tandingan lewat Disco Dux Klan—terilhami Ku Klux Klan.

Kebencian yang sama juga dirasakan Steve Dahl, seorang DJ asal Chicago. Dahl adalah penggemar rock—Led Zeppelin sampai Black Sabbath—yang militan. Dahl, sebagaimana diwartakan VICE, menyebut disko sebagai “penyakit.”

Kebencian Dahl kian menjadi-jadi selepas dirinya dipecat dari radio tempatnya bekerja karena program yang dibawakannya—memutar musik rock—kalah pamor dengan siaran musik-musik disko.

Dan yang terjadi setelahnya adalah bencana. Dahl, memanfaatkan reputasinya sebagai penyiar radio ternama, kemudian membakar massa dengan retorika kebencian terhadap disko. Propaganda pun disebar: mengajak masyarakat menyingkirkan disko.

Puncak kebencian itu muncul pada Juli 1979 di Stadion Comiskey Park, markas klub baseball Chicago White Sox. Mulanya, Dahl diundang petinggi klub untuk menghibur penonton di masa jeda pertandingan. Tujuan mengundang Dahl, tulis The Economist, guna “meningkatkan jumlah penonton dari kelompok miskin.”

Oleh Dahl, undangan itu dilihat sebagai momentum untuk memperlihatkan kepada publik bahwa disko adalah musik sampah. Sebelum acara dimulai, Dahl lebih dulu memasang pengumuman: “Bawa kaset dan rilisan disko. Kita akan akhiri nasib disko malam nanti.”

Tak dinyana, penonton yang datang lebih dari perkiraan, alias membludak. Alih-alih cuma 20 ribu seperti yang direncanakan, sekitar 50 ribu orang justru memadati stadion. Kericuhan sudah muncul selama babak pertama berlangsung. Piringan hitam dilemparkan dari segala penjuru.

Kondisi menjadi chaos saat jeda pertandingan. Ribuan orang menginvasi lapangan. Tak cuma membuang rilisan disko, mereka juga membakarnya secara beramai-ramai, diiringi teriakan “Disco Sucks!” yang menggema di sudut-sudut stadion.

Vince Lawrence, salah satu saksi mata yang saat itu bekerja di Comiskey, menyebut para penonton tak sekadar membawa—kemudian membakar—rilisan disko saja, melainkan juga rilisan funk, jazz, sampai soul. Artinya, kebencian penonton tak lagi ditujukan kepada musik, tapi rasial—dalam hal ini kulit hitam.

Vince sempat meminta bosnya bertindak. Namun, sang bos menolak dengan alasan penonton “sudah beli tiket.” Keributan di dalam lapangan memaksa polisi huru-hara ambil sikap. Mereka segera menertibkan para penonton. Pertandingan pun urung dilanjutkan.

Peristiwa “Malam Penghancuran Disko” sontak mendatangkan kritik keras dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka menilai bahwa acara itu adalah bentuk lain dari penyerangan terhadap kelompok minoritas: LGBT, Latin, sampai kulit hitam. Aksi pembakaran rilisan disko merupakan simbol kebencian orang-orang kulit putih.

“Rasanya, bagi kami, seperti [peristiwa] pembakaran buku oleh Nazi,” terang gitaris Chic, Nile Rodgers, kepada Rolling Stone. “Ini Amerika, rumah jazz dan rock. Orang-orang sekarang bahkan takut untuk mengatakan kata ‘disko.’”

Sementara Dahl, selaku inisiator, menolak disebut bertindak rasis dan homofobik ketika ia mengajak orang-orang untuk membakar rilisan disko. Dalam bukunya, Disco Demolition: The Night Disco Died (2016), Dahl mengatakan bahwa acara itu merupakan bentuk perlawanannya, sebagai pecinta rock, terhadap invasi disko.

Di benaknya, disko adalah musik yang kehadirannya tak pernah diinginkan oleh anak-anak muda sepertinya. Dan oleh sebab itu, melawan—dengan membakar rilisan disko—menjadi hal yang bisa dilakukan.

Terlepas dari pembelaan Dahl, yang jelas peristiwa tersebut telah memukul telak popularitas disko. Radio-radio kembali memutar rock. Panitia Grammy menghapus penghargaan untuk kategori album disko terbaik. Pada paruh kedua 1979, hanya ada satu lagu disko saja, “Don’t Stop ‘Til You Get Enough” (Michael Jackson), yang nangkring di tangga lagu AS.

Walaupun begitu, upaya ‘membunuh’ disko rupanya tak berhasil. Seiring bergulirnya waktu, disko terus berkembang dalam berbagai wujud, dari house hingga EDM (Electronic Dance Music). Sayangnya, yang terus bertahan tak hanya disko, tapi juga rasisme maupun diskriminasi terhadap kelompok minoritas, yang wajahnya sekarang bisa dilihat dari pemerintahan Donald Trump di AS.

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Politik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight