Menuju konten utama

Ada PHK Besar-Besaran, Bukalapak Disebut Masih Jauh Dari Bangkrut

Penyesuaian karyawan dinilai wajar karena mempertimbangkan kebutuhan yang terus berubah.

Ada PHK Besar-Besaran, Bukalapak Disebut Masih Jauh Dari Bangkrut
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Seskab Pramono Anung (kanan) dan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki (ketiga kanan) menerima pendiri sekaligus CEO Bukalapak.com Achmad Zaky (kiri) di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (16/2/2019). CEO Bukalapak tersebut beberapa hari ini menjadi sorotan setelah cuitan di akun Twitter pribadi mengenai dana riset dan pengembangan (research and development/R&D). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc.

tirto.id - Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, menilai PHK Karyawan yang dilakukan Bukalapak belum mengindikasikan perusahaan tersebut bermasalah secara finansial.

Ia menuturkan perlu pengamatan hingga beberapa bulan ke depan untuk melihat bilamana efisiensi ini berlanjut atau kembali dilakukan.

“Ini tahap awal ya. Kita tidak bisa terlalu prematur menyimpulkan di dalam Bukalapak. Kita perlu liat apakah ada gelombang PHK berikutnya. Ada atau gak. Kalau lebih dari sekali memang ada masalah,” ucap Heru saat dihubungi reporter Tirto, Kemarin (11/9/2019).

“Jadi belum tentu kesulitan keuangan atau bangkrut. Kita masih perlu clue lagi,” tambahnya.

Menurut Heru, efisiensi yang dilakukan Bukalapak saat ini memang bisa dianggap wajar. Status Unicorn yang melekat pada Bukalapak menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah melewati masa-masa sulit selama masih menjadi startup.

Ia juga melihat bahwa penyesuaian karyawan wajar belaka karena mempertimbangkan kebutuhan yang terus berubah. Banyaknya karyawan di awal-awal pendirian pun disesuaikan dengan tingkat kebutuhan untuk mempercepat pengembangannya saat itu.

Namun, kondisi perusahaan yang sudah stabil selalu menuntut adanya efisiensi untuk mencapai jumlah karyawan yang pas.

“Kalau saya lihat di Bukalapak ini mungkin sekarang dalam tahap efisiensi. Perusahaannya terlalu banyak mungkin. Misalnya engineeringnya sudah agak stabil mapan, jadi bisa dikurangi,” ucap Heru.

Ada pergeseran strategi

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda menilai, keputusan Bukalapak menandakan adanya perubahan strategi jangka panjang. Awalnya, kata Nailul perusahaan digital mengandalkan modal karena masih menggunakan skema “bakar uang”.

Namun, seiring waktu, model itu memang tidak cukup berkelanjutan sehingga pilihan jatuh pada pola bisnis konvensional yang mengharuskan adanya profit. Dengan ceruk pasar yang sudah berhasil diperoleh sampai hari ini, ia menilai Bukalapak dapat tetap bertahan.

Dalam perhitungan itu juga, Nailul yakin Bukalapak mampu menjaga diri dari potensi kerugian lebih besar dan kebangkrutan. Hanya saja, konsekuensinya, mereka perlu menjaga keuangannya yang sebelumnya relatif leluasa mengakomodir pengeluaran termasuk untuk karyawan.

“Siklus ini biasa terjadi dalam hal bisnis apalagi bisnis ekonomi digital yang perkembangannya sangat cepat. Efisiensi perusahaan menjadi penting ketika perusahaan sudah berusaha memperoleh profit alih-alih bakar duit. Jadi hal ini menurut saya pribadi hal yang lumrah,” ucap Nailul saat dihubungi reporter Tirto Rabu (11/9/2019).

Baca juga artikel terkait BUKALAPAK atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Bisnis
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Hendra Friana