Ada Masalah di Balik Panggilan "Cantik"

Ilustrasi. Panggilan cantik tak selalu baik. Foto/iStock
Oleh: Patresia Kirnandita - 23 September 2017
Dibaca Normal 4 menit
Ada yang berpendapat bahwa memanggil “cantik” mengisyaratkan sesuatu yang negatif.
tirto.id - “Kau cantik hari ini dan aku suka. Kau lain sekali dan aku suka…”

Bagi sebagian perempuan, petikan lagu yang dilantunkan Lobo ini bisa mengundang senyum atau membikin tersipu. Ada juga yang lantas menganggap lirik ini hanyalah seloroh atau rayuan gombal ketika dinyanyikan laki-laki yang mencoba mendekati mereka.

“Kau Cantik Hari Ini” dari Lobo bukan satu-satunya tembang yang memuat pesan pujian untuk tampilan fisik seseorang. Ia hanyalah satu dari ribuan lagu yang menyebut kata “cantik” dalam liriknya. Lagu-lagu seperti “You’re Beautiful” lantunan James Blunt, “Wonderful Tonight” yang dibawakan Eric Clapton, “Beautiful Girl” oleh Jose Mari Chan, dan “Cantik” dari Kahitna juga menyimpan pesan senada.

Jika sederet lagu yang disebutkan tadi berfokus pada kekaguman seseorang terhadap kecantikan perempuan, Christina Aguilera mencoba mengambil perspektif lain ketika mengusung tema penampilan fisik.

Lewat “Beautiful”, ia menyampaikan pesan penerimaan tubuh kepada setiap orang, bagaimanapun bentuk tubuh atau rupa mereka. Lagu yang dirilis pada 2002 ini tidak hanya ia tujukan kepada perempuan saja, tetapi juga kaum Adam sebagaimana tersirat dalam video klipnya.

Baca juga: Belajar Mencintai Tubuh Sendiri itu Seksi

Menyebut seseorang “cantik” adalah hal yang dianggap normal oleh mayoritas orang. Bahkan, ada yang sempat membuat eksperimen sederhana untuk menemukan dampak positif dari kata yang diasosiasikan dengan pujian ini. Adalah Shea Glover, seorang pengguna Youtube yang mengunggah dokumentasi eksperimen terkait pujian “cantik” yang ia lakukan di SMA-nya, Chicago High School for the Arts. Tujuannya simpel: memotret reaksi orang-orang begitu dibilang “beautiful” (cantik atau tampan).

“Pada dasarnya, saya sedang membuat proyek seni berbentuk video dan saya hanya mengambil gambar hal-hal yang menurut saya cantik,” demikian kalimat pembuka yang Shea utarakan setiap kali menemui partisipan-partisipan eksperimennya.

Tak butuh waktu lama bagi para partisipan untuk mencerna maksud Shea. Malahan, setelah Shea mengucapkan hal itu, mayoritas partisipannya tersenyum, tersipu malu, kaget, berterima kasih, atau tertawa kecil. Hanya segelintir orang yang tampak merasa acuh tak acuh, tidak percaya dengan pernyataan Shea, atau merasa itu sebagai singgungan dalam video yang telah 16.919.486 kali ditonton tersebut.

Partisipan-partisipan yang dipilih dalam eksperimen Shea datang dari macam-macam latar belakang gender, usia, ras, dan memiliki ragam pilihan gaya berpenampilan. Dari dokumentasi tersebut, tersirat pesan bahwa kecantikan ditemukan dalam pribadi-pribadi yang berbeda dan Shea tidak ingin menetapkan standar kecantikan universal.

Baca juga: Perawatan Muka dan Obsesi Cantik ala Eropa

Upaya menanggalkan konsep kecantikan seperti pakem di media-media arus utama juga dilakukan oleh penyanyi Pink. Ketika menerima Michael Jackson Video Vanguard Awards dalam ajang MTV Video Music Awards (VMA) 2017, perempuan bernama asli Alicia Beth Moore ini membuat pidato kemenangan yang kemudian viral di berbagai media.

Pada acara itu, ia mengisahkan pengalaman mendidik anak yang dianggap inspiratif, khususnya mengenai pemahaman konsep kecantikan. Ceritanya berawal dari saat Willow, putrinya yang berusia 6, mengaku merasa menjadi anak perempuan paling jelek dan terlihat seperti laki-laki. Pink lantas menyuguhkan gambar sejumlah rock stars berpenampilan androgini. Mereka tidak takut berpenampilan tak normatif, kadang-kadang membuat lelucon dari pilihannya, bahkan sampai bisa menginspirasi banyak orang.

“Kenapa kamu berpikir kamu jelek?” tanya Pink kepada Willow.

“Karena aku terlihat seperti laki-laki.”

“Kamu pikir bagaimana penampilanku?” Pink menunjuk dirinya yang sering kali berpenampilan tomboi.

“Tapi kamu cantik.”

“Terima kasih. Tetapi saat orang mengejekku, kata-kata seperti yang kamu terimalah yang mereka gunakan. Aku dibilang seperti laki-laki, terlalu maskulin, tubuhku terlalu kuat.”

Lewat contoh yang diambilnya dari pengalaman orang-orang dan dirinya sendiri, Pink ingin mengutarakan kepada Willow bahwa kecantikan itu tidak melulu terpatok pada femininitas mainstream. Tak selalu perempuan harus memanjangkan rambut, memakai rok atau gaun, tampak lemah lembut, atau bersolek habis-habisan supaya dibilang cantik.

Spektrum kecantikan itu begitu luas, banyak ragamnya, dan fisik hanyalah secuil yang diukur. Malah kalau bisa, aspek fisiklah yang paling pertama mesti diabaikan bila ingin menakar kecantikan seseorang.

Kritik di Balik Sebutan Cantik

“Beautiful” dari Christina dan pidato Pink dalam MTV VMA adalah sedikit contoh usaha mendefinisikan ulang konsep kecantikan. Serupa Christina dan Pink, Dove pun sempat melakukan kampanye-kampanye penerimaan tubuh dan kecantikan yang beragam.

Pada saat mayoritas produsen produk perawatan tubuh dan kosmetika mencoba menggiring khalayak untuk mengikuti standar kecantikan ideal, Dove berusaha mendulang simpati perempuan berbagai kalangan dengan kampanyenya. Satu di antaranya ialah kampanye #ChooseBeautiful.

Dalam kampanye yang mereka buat, Dove mendokumentasikan pengalaman sejumlah perempuan dari berbagai kota di dunia: San Francisco, Shanghai, Delhi, London and Sao Paulo. Tampak dua pintu dalam tayangan kampanye #ChooseBeautiful tersebut, masing-masing dengan tulisan “cantik” dan “rata-rata”.

Dari tangkapan gambar Dove, lebih banyak perempuan melenggang melalui pintu bertuliskan “rata-rata”. Dove memperkuat bukti bahwa jumlah perempuan yang merasa diri mereka cantik sangat kecil dengan menyertakan hasil studi mereka. Hanya 4 persen perempuan yang memilih “cantik” untuk mendeskripsikan penampilan mereka. Mendapati “fakta” ini, Dove pun mendorong perempuan untuk mengakui kecantikan mereka yang berbeda satu sama lain.

Apakah kampanye yang dilakukan Dove ini seratus persen direspons secara positif?

Dilansir Fortune, sejumlah perempuan merasa ada yang salah dengan #ChooseBeautiful. Kat Gordon—penggagas 3% Conference misalnya, berpikir bahwa kampanye tersebut terkesan manipulatif. Sementara, Jean Kilborne, pembuat film Killing Us Softly: Advertising’s Image of Women, menyebut #ChooseBeautiful sangat merendahkan perempuan.

Bagi orang-orang sepemikiran Gordon atau Kilborne, Dove telah sukses melakukan simplifikasi deskripsi perempuan, yakni berdasarkan kecantikan semata. Kenapa tidak berfokus pada kecerdasan, kemampuan emosional, atau keterampilan lain yang bisa jadi keunggulan perempuan?

“Kamu tidak perlu menjadi cantik, dan tidak menjadi cantik bukan berarti kamu rata-rata. Merasa cantik merupakan kewajiban dan tekanan—kadang memang mendatangkan kesenangan, tetapi tidak melulu. Merasa cantik adalah pekerjaan besar: pekerjaan yang dilakukan perusahaan untuk terus meraup untung dan mengeksploitasi,” begitu petikan salah satu opini di Buzzfeed terkait kampanye Dove ini.

Baca juga: Pesan Terselubung dalam Iklan Tanpa Editan

Dove menambah deretan institusi yang melanggengkan glorifikasi konsep kecantikan. Media-media massa lainnya sering kali menampilkan perempuan dengan label “cantik”,“seksi”, atau memotret laki-laki dengan embel-embel predikat “terganteng” atau “paling hot”. Tidak banyak yang menyadari bahwa hal ini merupakan bentuk obyektifikasi atau usaha mereduksi nilai seorang individu berdasarkan tampang atau tubuhnya.

“Seorang polisi cantik…” atau “Seorang dokter tampan…” adalah contoh judul-judul berita yang sengaja dipasang di media massa guna menarik perhatian khalayak. Cantik atau tampan menurut siapa? Tolok ukur mana yang dipakai? Kenapa memilih tolok ukur itu? Lalu kalau mereka (dikatakan) cantik atau tampan, apa relevansinya dengan peristiwa yang diberitakan? Kenapa orang terobsesi dengan konsep cantik?

Pertanyaan-pertanyaan ini sayangnya cuma menjadi desir di tengah hiruk pikuk selebrasi kecantikan.

Renee Engeln, profesor Psikologi dari Northwestern University dan penulis Beauty Sick: How the Cultural Obsession with Appearance Hurts Girls and Women, menganggap kebiasaan memanggil “cantik” ini adalah permasalahan budaya. Penampilan menurutnya adalah topik paling mudah diperbincangkan di kalangan perempuan. Namun, bukan berarti hal ini harus menjadi keutamaan.

“Percakapan terkait penampilan memaksa setiap perempuan untuk memikirkan tentang penampilan mereka sendiri. Cobalah membantu mereka untuk mengalihkan diri dari percakapan seperti itu dengan mengangkat topik lain,” ujar Engeln sebagaimana dikutip dari Chicago Tribune.

Kesadaran untuk tidak lagi memanggil “cantik” kepada perempuan juga sempat diisyaratkan Rupi Kaur dalam buku kumpulan puisinya, Milk and Honey (2014). Di sana, ia menuliskan demikian,

“i want to apologize to all the women
i have called pretty
before i’ve called them intelligent or brave
i am sorry i made it sound as though
something as simple as what you’re born with
is the most you have to be proud of when your
spirit has crushed mountains
from now on i will say things like
you are resilient or you are extraordinary
not because i don’t think you’re pretty
but because you are so much more than that”.


Menjadi Cantik Tak Melulu Menyenangkan

Selain merasa normal-normal saja memuji seseorang dengan sebutan “cantik”, banyak orang yang juga berpikir bahwa orang-orang cantik atau tampan lebih sering mendulang keuntungan atau kesenangan. Benarkah demikian?

Ketika seseorang dianggap cantik atau tampan, mereka cenderung dilekatkan dengan ekspektasi tinggi dari sekitarnya. Hal ini bisa mendatangkan beban dan kecemasan sendiri bagi si penerima label kalau-kalau mereka gagal memenuhi ekspektasi orang-orang. Ada yang menganggap, orang cantik atau tampan pasti kompeten. Begitu yang terjadi sebaliknya, yang ada orang tersebut menjadi tertekan dan terus menyalahkan diri atas ketidakmampuannya.

Meski kerap dibayangkan sebagai sosok sempurna, baik secara fisik maupun dari segi kemampuan, orang-orang cantik atau tampan juga bisa mendapat pandangan sebaliknya. Beberapa perempuan mengungkapkan pengalamannya sebagai orang yang dianggap cantik dalam Reddit. Irisan kisah mereka terletak pada pengalaman tak dianggap serius oleh rekan kerja. Hanya karena mereka cantik, mereka justru dipandang tak berotak cemerlang.

Dalam kehidupan kencan pun, tidak melulu mereka yang cantik dan tampan beruntung. OKCupid, salah satu aplikasi kencan online, melaporkan bahwa pengguna-pengguna yang cantik atau tampan lebih sulit mendapat teman kencan. Hal ini bisa dikarenakan para pengguna lain yang melihat foto profil mereka merasa lebih “terintimidasi” dengan tampang mereka yang rupawan.

Menyebut seseorang cantik tidak ubahnya dengan menggenggam sekeping koin. Di satu sisi, sebagai suatu pujian, hal ini potensial mendongkrak penilaian diri seseorang atau menciptakan mood baik. Namun yang tidak boleh terabaikan, predikat “cantik” yang dilekatkan bisa jadi pertanda eksploitasi sisi emosional orang-orang tertentu, melanggengkan obsesi pada penampilan fisik, serta mengerucutkan kualitas individu dengan pagar-pagar standar rupa.

Baca juga artikel terkait CANTIK atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight