Ada Cinta di Antara Yahudi dan Muslim

Oleh: Dea Anugrah - 14 November 2016
Dibaca Normal 4 menit
Hubungan Yahudi dan Islam sering dibayangkan serba seram dan berdarah-darah. Gambaran konflik menjadi narasi utama. Padahal ada gambaran lain yang memperlihatkan sangat bisa, bahkan sudah biasa, jika komunitas Yahudi dan Muslim hidup bersama dalam damai, tanpa binasa-membinasai.
tirto.id - Di Stamford Hill, London utara, komunitas Yahudi Haredi terbesar di Eropa dan kaum Muslim yang minoritas, saling berbagi jalan, penerangan umum, taman, dan fasilitas publik lain-lain. Mereka bertetangga, tetapi bukan sekadar hidup berdekatan.

Rabi Herschel Gluck, salah seorang pendiri forum Muslim-Yahudi di kawasan itu, mengatakan kepada Al Jazeera: "Ada rasa hangat yang berlimpah saat kau melihat anggota kelompok lain wara-wiri di jalanan atau mengerjakan urusan-urusan untuk kepentingan bersama."

Menurut Rabi Gluck, golongan Muslim dan Yahudi di Stamford Hill bukan hanya saling menoleransi—mengakui hak untuk beriman serta menjalankan budaya dan cara hidup satu sama lain, tetapi juga bersama-sama mengupayakan lingkungan yang nyaman, aman, dan menggembirakan.

Kini, di Eropa, kebencian terhadap Yahudi dan Muslim sedang mendidih. Pada 2012, sekelompok teroris bersenjata menyerang sekolah dasar Yahudi di Toulouse, Perancis selatan. Kemudian, dua hari setelah Pembantaian Charlie Hebdo pada 7 Januari 2015, toserba kosher Hyper Cacher di Paris, juga kena gempur.

Orang-orang Yahudi ketakutan, sedangkan Muslim dipersekusi seakan-akan mereka semua harus bertanggungjawab atas kejahatan-kejahatan tersebut.

"Persoalan itu tak dapat dipisahkan menjadi 'urusan kami' dan 'urusan mereka'," ujar Munaf Zeena, ketua North London Muslim Community Centre. Ia mengumpamakan komunitas Yahudi dan Muslim Inggris sebagai dua penumpang dalam sebuah perahu. "Kami ingin mereka tak merasa sendirian. Kami harus memberi dukungan moral dan mendampingi mereka sekuat kami," ia melanjutkan.

Sebuah larik puisi Sutardji Calzoum Bahri seakan-akan bergema di sana: yang tertusuk padamu berdarah padaku.

Komunitas Muslim dan Yahudi Stamford Hill bersama-sama menyokong Shomrim, sebuah badan keamanan sipil alias pasukan ronda beranggotakan orang-orang Yahudi.

Berkat informasi dari Shomrim, polisi menangkap sejumlah pelaku vandalisme, mulai dari tukang gambar swastika sampai perusak ban mobil. Shomrim juga melindungi masjid-masjid dan kantor lembaga-lembaga keislaman dari ancaman kelompok-kelompok pengusung kebencian.

Hubungan kedua komunitas di Stamford Hill itu mempunyai akar yang dalam. Pada 1950an, ketika para imigran Muslim dari Asia Selatan tiba di London, salah satu kelompok yang menyambut serta membantu mereka menetap ialah orang-orang Yahudi.

"Waktu kami datang kami tak punya apa-apa," kata Eusoof Amerat, seorang anggota komunitas Muslim. "Kami tidak melupakan orang-orang yang telah menolong kami, dan hubungan itu terus tumbuh dan berbunga."

Perdamaian, Kerja Sama, dan Pengorbanan

Situasi di Stamford Hill terasa ganjil bagi kebanyakan orang yang menganggap konflik sebagai hal alami dalam hubungan Yahudi dan Muslim. Pandangan itu punya dasar, memang, mulai dari perang Muslim generasi awal melawan beberapa suku besar Yahudi Madinah hingga kemelut menahun Israel-Palestina di era modern. Hanya, gambaran itu tak lengkap.

Bila dipandang agak jauh, sehingga amatan jadi lebih luas, kesan serba seram dan berdarah-darah itu sebenarnya hanya menggambarkan sebagian kenyataan saja. Sialnya, gambaran konflik menjadi narasi yang utama. Padahal ada gambaran lain yang memperlihatkan sangat bisa, bahkan sudah biasa, jika komunitas Yahudi dan Muslim hidup bersama dalam damai, tanpa binasa-membinasai atau yang satu menista dan yang lain jadi gila.

Shelomo Dov Goitein, pakar etnografi yang meneliti kehidupan orang-orang Yahudi di bawah kekuasaan Islam, menulis bahwa Islam adalah "perwujudan kasih Tuhan." Bermula dari kebijakan Khalifah Umar Bin Khattab, orang-orang Yahudi di wilayah-wilayah Islam mendapat jaminan keamanan serta hak beribadah, berdagang, menyelenggarakan pendidikan, dan memiliki harta.

Sekalipun kebaikan itu mesti diimbali dengan pajak dalam jumlah besar (jizya) serta kepatuhan terhadap larangan menyebarkan Yudaisme, kehidupan orang-orang Yahudi di bawah kekuasaan Islam jauh lebih tenang dan bebas ketimbang di bawah raja-raja Kristen.

Keadaan damai memungkinkan kemakmuran, dan kemakmuran ialah lahan yang subur bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Ketika Baghdad, ibu kota kekhilafahan Abbasiyah, dan Cordoba, pusat kekhalifahan Umayyah baru di Spanyol, berkembang menjadi kota-kota yang makmur, para ilmuwan, musisi, arsitek, dan penyair terbaik dari pelbagai tempat berbondong-bondong datang dan bekerja di sana.

Infografik Yahudi Islam


Dalam sejarah pemikiran dan kebudayaan Yahudi, keadaan itu justru menjadi titik balik. Para pemikir Yahudi mengadopsi bahasa Arab sebagai bahasa tulis dalam sains dan filsafat. Mereka juga menerjemahkan karya-karya besar di bidang-bidang itu, baik yang ditulis para pemikir Muslim maupun terjemahan Arab karya-karya Yunani, ke dalam bahasa Ibrani.

Dengan demikian, kata-kata dan gagasan-gagasan dari dunia Islam meresap ke alam pemikiran Yahudi. Mustahil memahami pemikiran Saadia Ga'on, misalnya, tanpa mempelajari pengaruh Islam dan kebudayaan Arab, sebab ia adalah anak kandung dialog kultural tersebut.

Di wilayah yang lebih praktis, ada pula orang-orang Yahudi yang mendapat kedudukan utama dalam pemerintahan golongan Muslim, antara lain Hasdai bin Shaprut (882-942), penasehat Khalifah Cordoba Abdurrahman III, dan Samuel bin Naghrillah yang menjadi jenderal di Taifa Granada pada 1027.

Dari masa yang lebih lampau lagi, pada masa kehidupan Nabi Muhammad, ada kisah tentang seorang rabi Yahudi yang menjadi martir bagi golongan Muslim.

“Beberapa cerita sudah jarang sekali disampaikan para imam kepada umatnya, termasuk kisah Mukhayriq, seorang rabi dari Madinah. Saya sudah beratus-ratus kali mendengar cerita Perang Uhud, salah satu pertempuran terbesar antara Nabi Muhammad dan musuh-musuhnya dari Mekah, tetapi tak sekali pun orang-orang yang bercerita itu menyebut Mukhayriq yang gugur di pertempuran itu, di tangan musuh-musuh Islam,” tulis Dr. Muqtedar Khan, pengajar di Departemen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional sekaligus direktur Program Studi Keislaman di University of Delaware, Amerika Serikat.

Mukhayriq adalah anggota suku Yahudi Tha'labah yang menyetujui Piagam Madinah, kontrak sosial yang diajukan Nabi Muhammad untuk mengatur kehidupan di kota tersebut. Menurut artikel 2 piagam itu, seluruh suku yang meneken perjanjian terhitung sebagai bagian dari sebuah kesatuan politik dan mereka, menurut artikel 37, berkewajiban memerangi musuh satu sama lain.

Pada suatu hari Sabtu pada Maret 625, perang Uhud berkobar. Rabi Mukhayriq meminta sukunya ikut angkat senjata bersama kaum Muslim, tetapi mereka menolak. Umat Yahudi dilarang membunuh pada hari Sabbath, ia tentu paham. Namun, menurutnya, ibadah itu punya makna yang lebih dalam dari sekadar mematuhi larangan ini-itu; salah satunya ialah menepati janji.

Maka, Mukhayriq berangkat ke medan tanpa saudara. Ia berangkat untuk menebas musuh-musuh Muhammad, demi memenuhi janji puaknya. Sebelum itu, ia berwasiat kepada orang-orang yang tinggal: kalau ia mati, hendaknya seluruh hartanya diberikan kepada orang-orang Islam.

Setelah dentang senjata dan jerit manusia tinggal gema, hak atas tujuh kebun serta pelbagai harta lain milik Mukhayriq yang gugur berpindah ke kaum Muslim. Kita tahu istilahnya: wakaf. Namun, seberapa sering kita mendengar bahwa pemberi wakaf pertama di dunia ini ialah seorang rabi Yahudi?

Kisah dari Zaman Modern

Mari kembali ke era modern. Sekitar 10 tahun sebelum kedatangan orang-orang Islam di Stamford Hill, London Utara, tentara fasis Jerman dan Italia (yang diilhami dan diperintah oleh Hitler dan Mussolini) menguasai sebagian besar wilayah Afrika Utara. Mereka menghabisi sekitar 4 hingga 5 ribu orang Yahudi di kawasan itu. Tragedi adalah tragedi, tentu, tetapi jumlah itu tak melebihi satu persen dari populasi Yahudi di sana. Sebagai perbandingan, Holocaust menyebabkan populasi Yahudi Eropa berkurang hingga 50 persen.

Salah satu faktor utama yang menghambat kerja mesin-mesin fasisme di Afrika Utara ialah rakyat yang sebagian besarnya beragama Islam dan ber-ras Arab. Memang tak ada satu pun negara dudukan Jerman-Italia yang bebas dari keterlibatan genosida terhadap Yahudi. Namun, di Aljazair, misalnya, rakyat menolak tawaran pemerintah pendudukan buat merampas harta kaum Yahudi. Di ibukota Aljir, ulama-ulama Muslim bahkan secara terang-terangan menentang ide tentang perampasan.

Meski ada sejumlah orang Arab yang berada di pihak rezim fasis dan bekerja sebagai penjaga di kamp-kamp konsentrasi, sebagaimana orang-orang lokal di berbagai negara yang menjadi komprador NAZI, selalu ada saja pribadi yang rela mempertaruhkan hidup demi menyelamatkan orang-orang Yahudi. Kepada kaum yang diburu itu, mereka menyediakan tempat bernaung dan makanan dan selimut; juga mencarikan jalan supaya orang-orang Yahudi bisa berpindah ke tempat-tempat yang lebih baik.

Jika menengok sejarah, kita akan menyadari bahwa pertolongan dan pengorbanan oleh kaum Yahudi untuk Muslim dan sebaliknya bukan barang langka. Khalayak, termasuk di Indonesia, lazim menganggap sejarah hubungan kedua kelompok itu adalah sejarah pengkhianatan, kekerasan, dan darah yang tertumpah. Itu benar, tetapi ia juga sejarah di mana kasih berkelimpahan.

Sebagaimana hujan menyuburkan tanah negeri-negeri tropis dan menjadikannya gemah ripah loh jinawi, kasih menyuburkan hubungan antar manusia—menjadikannya damai. Kedamaian memungkinkan kemakmuran. Dan yang datang setelah kemakmuran tentu bukan anak-anak dengan kening dan pipi berdarah, bukan kedegilan, dan bukan pula pemimpin yang mengangkut otak seekor beruk oranye dalam batok kepalanya.

Baca juga artikel terkait YAHUDI atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Politik)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Zen RS