Ada Apa dengan Pink?

Kontributor: Eyi Puspita, tirto.id - 10 Sep 2022 09:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Tren Barbiecore dan kehadiran film Barbie tahun depan membuat publik memaknai ulang warna pink.
tirto.id - Margot Robbie memakai busana serba pink. Atasan halter pink berleher V membalut tubuhnya, dipadukan dengan celana cutbrai pink beraksen bintang-bintang. Selembar bandana pink melilit lehernya yang jenjang.

Inilah yang tampak dalam foto-foto viral dari lokasi syuting film Barbie arahan sutradara Greta Gerwig. Karakter ciptaan perusahaan mainan Mattel itu memang identik dengan warna pink. Dari busana, rumah impian Barbie, sampai mobil konvertibelnya, semua pink. Warna “Barbie Pink” telah didaftarkan Mattel sebagai merek dagang untuk seratus lebih kategori produk Barbie.

Gairah menyambut hadirnya film Barbie semakin meramaikan dunia fashion yang tahun ini memang sedang dilanda demam pink atau Barbiecore. Sejak Pierpaolo Piccioli –creative director rumah mode Valentino—mengeluarkan 48 potong koleksi musim gugur 2022, busana serba pink telah muncul di red carpet berbagai perhelatan. Ariana Grande, Glenn Close, sampai Anne Hathaway memakai koleksi pink Valentino ke Cannes, Coachella dan Met Gala. Piccioli ingin membuktikan bahwa pink bisa dipakai untuk beragam acara, mood dan gaya, tapi tetap akan selalu menonjol.


Tentu saja, tren pink tidak hanya terjadi tahun ini. Pink telah berkali-kali mengambil peran penting dalam sejarah budaya pop dan fesyen. Namun seperti halnya boneka Barbie yang kerap menuai kontroversi, pink juga dipandang berbeda dari masa ke masa. Selama puluhan tahun, pink dianggap sebagai warna yang tidak serius, kekanak-kanakkan, dan identik dengan posisi submisif. Tetapi stereotipe ini rupanya sedang mengalami perubahan. Untuk kesekian kalinya, pink bertransformasi lagi.


Melawan dengan Pink... atau Tidak?

Pada 21 Januari 2017, ratusan ribu demonstran turun ke jalan di Washington DC dalam aksi yang dinamakan Women’s March. Tujuan utamanya, menyatakan penolakan pada Presiden Donald Trump yang baru saja dilantik serta kemungkinan terancamnya pelaksanaan HAM, hak-hak sipil, dan hak reproduktif yang menyertainya.

Di antara kerumunan demonstran, banyak yang terlihat menonjol karena memakai pussyhats – topi rajut berwarna pink dengan dua ujung runcing menyerupai kuping kucing. Gagasan pussyhats berasal dari Jayna Zweiman –seorang arsitek— dan Krista Suh, penulis skenario. Mereka berniat menciptakan lautan topi pink saat Women’s March sebagai pernyataan visual yang kuat dan berani. Pussyhats sengaja dibuat pink karena identik dengan perempuan.

Nama pussyhats dipilih sebagai protes terhadap ucapan vulgar Donald Trump dalam rekaman tahun 2005 yang beredar saat kampanye kepresidenan Trump pada 2016. Dalam rekaman itu, Trump membual bagaimana ia dengan leluasa bisa meraba-raba genital perempuan, bahkan tanpa persetujuan mereka, karena ia seorang selebritas. “Grab ‘em by their pussies”, begitu ucapnya.

Namun ternyata tak semua perempuan sepakat akan penggunaan pink dalam gerakan ini. Sebelum Women’s March, jurnalis Petula Dvorak menulis di The Washington Post, “Saudari-saudariku, mohon jangan memakai pink! Permasalahan yang dihadapi perempuan sangat serius. Topi pink yang manis berisiko membuat isu perempuan terlihat remeh.”

Setahun setelahnya, Women’s March 2018 digelar lagi dengan tujuan berbeda. Bertajuk Power to the Polls, para demonstran mengimbau agar lebih banyak perempuan menggunakan hak pilih, serta memilih sesama perempuan dan kandidat progresif untuk menempati jabatan publik. Tetapi tahun ini, sekelompok feminis justru menolak memakai pussyhats karena menganggapnya menyinggung perempuan kulit berwarna yang vulvanya tidak berwarna pink.

Selain Women’s March, pink juga dipakai dalam beberapa gerakan perlawanan lain. Pink adalah warna kain sari yang dipakai anggota Gulabi Gang di India – sekumpulan perempuan bersenjata tongkat yang siap menghajar pemerkosa dan pelaku kekerasan seksual. Pita pink adalah simbol internasional kesadaran dan solidaritas pada pengidap kanker payudara. Pink juga menjadi simbol aktivisme komunitas LGBTQ pada 1970-an.

Transformasi dan Kontroversi Pink

“Semua warna punya komplikasi, tapi memang pink yang paling kontroversial,” kata Valerie Steele, editor buku dan kurator pameran “Pink: The History of a Punk, Pretty, Powerful Color" di New York 2018. Selain itu, pink juga warna yang paling memecah belah. Banyak yang suka, tapi tidak sedikit yang menolaknya. Pink membangkitkan emosi yang kuat, baik, maupun buruk.

Sementara, Signe Pierce –seniman dan fotografer AS—pernah berkata, “Seberapa sering kita melihat pink dipakai untuk arsitektur atau mesin? Seberapa sering kita melihat pink dipresentasikan di luar perspektif gender? Bagi saya, mengidentifikasi perempuan dengan warna yang tidak eksis di ‘dunia nyata’ adalah bukti hierarki patriarki untuk menempatkan perempuan dalam posisi submisif dalam kehidupan sehari-hari.”

Namun stereotipe ini tidak selamanya menempel pada warna pink. Dahulu, pink dipakai oleh masyarakat India kuno, Dinasti Cina, begitu pula kelas atas Eropa abad ke-18 sebagai simbol status. Pasalnya, pewarna yang digunakan untuk kain mewah mereka diimpor dari Asia Tengah dan Amerika Selatan melalui ekspedisi yang memakan biaya besar.

Selama berabad-abad, pink juga diasosiasikan dengan maskulinitas. “Ibu” pink adalah merah yang melambangkan gairah dan agresivitas. Karena merah sering dipakai pria dewasa dan militer, maka pink dianggap cocok dipakai anak laki-laki.

Kapan dan mengapa pink mulai diasosiasikan dengan perempuan, ada beberapa versi. Salah satunya, pada awal abad 20, produsen busana ingin menjual lebih banyak baju anak dengan memakai kode warna. Pada 1920-an, toserba besar di AS masih belum kompak. Sebagian mengkategorikan pink untuk perempuan tapi sebagian lagi mengkategorikan pink justru untuk laki-laki. Barulah pada 1950-an, berkat pemasaran yang gencar, pink dijadikan simbol hiper-kefemininan.

Apalagi setelah first lady AS Mamie Eisenhower memakai gaun pink yang anggun ke acara pesta dansa inaugurasi presiden Dwight D. Eisenhower pada 1953. Surat kabar dan desainer langsung terpikat pada gaya Mamie yang seorang ‘lady’ dan sangat domestik. Ini dianggap angin segar bagi perempuan yang semasa Perang Dunia II harus bekerja di pabrik sehingga gaya berbusananya sangat simpel.


Pink dan Tren Barbiecore

“Masyarakatlah yang menentukan makna sebuah warna,” kata Valerie Steele. “Ketika ada pembagian khusus (pink untuk perempuan, biru untuk laki-laki), ini menguatkan persepsi pink sebagai warna yang superfisial dan dangkal, karena diasosiasikan dengan perempuan yang –dalam budaya tradisional—dipandang lebih rendah dari laki-laki.”

Namun pandangan ini jelas sedang mengalami pergeseran, karena perempuan –juga sebagian laki-laki—kini merengkuh pink sebagai warna yang keren dan membebaskan. Tahun ini, salah satu pengaruhnya tentu berkat film Barbie.



Infografik Pinky Pink
Infografik Pinky Pink. tirto.id/Quita


Boneka Barbie yang telah berusia 63 tahun telah berevolusi. Kerap dikritik karena dianggap mempromosikan standar kecantikan kaukasia dan bentuk tubuh yang tidak realistis, produsen menciptakan Barbie yang lebih inklusif dengan menghadirkan boneka Barbie dalam ras, warna kulit, bentuk tubuh, dan profesi yang beragam. Bahkan kabarnya, film Barbie mendatang juga akan menyinggung isu sosial dan kesetaraan gender.

Walaupun baru hadir tahun depan, tapi tren Barbiecore sudah terasa sejak sekarang. Para selebritas dengan bentuk tubuh dan warna kulit berbeda-beda ikut mendorong tren ini. Pada Agustus 2022, tagar #barbiecore di TikTok telah mencapai 26,5 juta views. Di Pinterest, pencarian “barbiecore” melonjak 75% pada Juli 2022. Perusahaan fintech Klarna mencatat peningkatan 97% dalam pencarian gaun mini pink serta peningkatan 682% untuk produk pink sejak Februari 2022.

Menurut Saisangeeth Daswani –head of advisory perusahaan trends-intelligence Stylus—Barbiecore atau fashion ultrafeminin yang didominasi warna pink fusia ini adalah pembangkit dopamin yang bisa meningkatkan semangat melalui warna elektrik dan cerah. Para pegiat fashion rupanya setuju dengan pernyataannya. Setelah masa pandemi dua tahun yang melelahkan, busana serba pink menawarkan ‘pelarian’ yang dibutuhkan. Rumah mode Valentino bahkan menyatakan bahwa warna pink adalah “pembebasan dari kebutuhan kita akan kenyataan”.

Cayo Gamber, profesor George Washington University AS yang fokus pada gender dan seksualitas memandang fashion sebagai ruang performatif. Menurutnya, kita bisa memakai fashion pink ala Barbie yang heboh dan ultrafeminin hari ini, lalu esoknya memakai celana overall yang santai dan maskulin. Fashion adalah ruang untuk mengklaim kembali, untuk bisa memandang diri kita dalam berbagai cara, dan menolak didefinisikan dalam satu cara saja.

“Pink selalu menjadi warna favorit Barbie,” kata Kim Culmone, SVP of Design untuk Barbie. “Ia bahkan punya warna Pantone khasnya, yakni Barbie Pink, PMS 219. Bagi Barbie, pink mewakili potensi tak terbatas dan simbol pemberdayaan perempuan.”

Baca juga artikel terkait FESYEN atau tulisan menarik lainnya Eyi Puspita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Eyi Puspita
Penulis: Eyi Puspita
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight