Misbar

Ad Astra: Belajar Jadi Cowok Peka dari Bumi ke Neptunus

Brad Pitt di film Ad Astra (2019). foto/imdb
Oleh: Yulaika Ramadhani - 29 September 2019
Dibaca Normal 4 menit
Ad Astra bukan tentang astronomi alih-alih soal sulitnya belajar peka.
tirto.id - “Yang kulakukan itu karena ayahku. Dia pahlawan. Dia menyerahkan hidupnya untuk pengetahuan.”

Kalimat Brad Pitt dalam trailer Ad Astra tersebut membuat saya menebak film ini bakal berkisah soal relasi bapak-anak yang terpisah puluhan tahun dalam bingkai cerita tentang astronot penyelamat Bumi.

Rupanya bukan cuma itu.

Ad Astra menceritakan perjalanan astronot Roy McBride (diperankan Brad Pitt) melintasi tata surya membawa misi menyelamatkan Bumi dari dampak "The Surge". Material bermasalah dari “Lima Project” ini menyebabkan pesawat-pesawat berjatuhan dan menimbulkan kebakaran di banyak tempat di Bumi.

“Lima Project” adalah proyek penjelajahan luar angkasa ayah Roy, Clifford McBride (diperankan Tommy Lee Jones), yang hilang di Neptunus dan tak kembali selama 16 tahun.

Roy ditugaskan Space Command untuk menghentikan kekacauan di Bumi akibat ‘The surge” tersebut dengan melakukan perjalanan ke Neptunus, mencari Clifford, meledakkan pesawat “Lima Project” dengan nuklir, termasuk pilihan melenyapkan Bapaknya sendiri.

Film yang disutradarai James Gray ini tidak mengkhususkan diri mendedah perkara astronomi serinci mungkin. Tak banyak bahasan soal pekerjaan astronot atau teknis-teknis njelimet seputar pesawat luar angkasa, seperti yang kita jumpai di film Gravity (2013) garapan Alfonso Cuaron. Tak ada ulasan teori relativitas atau obrolan blackhole yang luar biasa kompleks dan terus diperdebatkan usai film rampung seperti dalam Interstellar (2014).


Susahnya Jadi Manusia

Judul film yang digarap sekaligus ditulis James Gray ini nampaknya terinspirasi frasa latin per aspera ad astra yang artinya "bersusah payah menuju bintang". Gray bersetia dengan frasa magis itu. Ia menempatkan tokoh utama dalam film ini berjalan di koridor “melampaui kesulitan menuju semesta”.

Itu semua bisa Anda lihat melalui perkembangan karakter Roy dalam perjalanan dari Bumi menuju jangkauan terjauh tata surya: Neptunus.

Roy dikenal sebagai astronot dengan latar belakang dan kualifikasi bagus. Ia putra Clifford McBride, astronot legendaris yang tersohor sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di Uranus, Saturnus, dan Neptunus. Berkat Clifford, kehidupan baru di luar di Bumi bisa terkuak. Lowongan kerja astronot pun bertambah.

Penggambaran karakter Roy tersebut terbentuk oleh banyak monolog dari voice over si karakter utama. Bahkan sejak menit-menit awal, penonton bisa mendengarkan Brad Pitt yang terus meracau tentang kehidupannya.

Perhatikan juga mesin yang sering dipakai Roy untuk memeriksa kejiwaannya. Mesin itu bertugas meminta Roy menceritakan apa yang ia pikirkan, kemudian menganalisisnya. Di sini Gray berhasil mengolah voice over dan mesin kejiwaan itu untuk menggambarkan betapa sulitnya Roy membangun relasi wajar dengan orang sekitarnya.

“Aku selalu ingin jadi astronot. Untuk masa depan umat manusia. Ayahmu mewujudkan mimpiku menjadi astronot,” tutur rekan Roy.

Selain punya latar belakang pesohor, Roy juga terkenal karena BPM-nya yang sempurna, tak pernah di atas 80.

BPM atau Beats per Minutes adalah ukuran denyut jantung manusia yang dipakai sebagai standar kejiwaan dan kestabilan emosi astronot. Detak jantung istirahat manusia dewasa sekitar 88-95 BPM.

Ajaibnya, degup jantung Roy tak pernah di atas 80 BPM, bahkan usai jatuh dari satelit setinggi atmosfer, parasut terkoyak, gagal mendarat mulus, dan tertumbuk tanah dengan dahsyat sekalipun.

Kualitas fisik di atas rata-rata Roy ini selaras dengan karakternya yang stabil, tak mudah terdistraksi. Ia sosok yang tak sudi memikirkan hal-hal remeh dan berusaha agar tak pernah melakukan kesalahan. Karakter dingin Roy itulah yang mengawal pribadinya yang tidak peka, tega menepikan perasaan pasangan, hingga bisa mengimani kenangan gelap seputar sang ayah sebagai inspirasinya untuk menjadi astronot.

Di titik itu, Roy bukan manusia, atau setidaknya jauh dari ciri fisik dan sifat emosional manusia kebanyakan. Di titik ini juga, sutradara James Gray menarik-ulur, membentur-benturkan karakter Roy dengan apa pun yang ditemuinya sepanjang perjalanan menuju neptunus.

Dalam perjalanan ke Neptunus, Roy melewati Bumi, bulan, dan Mars.

Bumi adalah tempat pengolahan karakter awal Roy, rumah manusia yang ironisnya membuat Roy terlihat tak manusiawi. Tempat transit pertamanya, Bulan, mengajarkan hal lain. Sesaat selepas mendarat, ia diserang berandalan bulan yang mengakibatkan satu rekannya tewas dan rekan ayahnya yang tahu soal Lima Project terluka sehingga tak bisa meneruskan perjalanan.

Kericuhan di bulan tersebut menjadi ujian hidup Roy. Ia selamat dari kematian, tapi harus merelakan orang yang benar-benar ia harapkan.

Sebelum sampai Mars, pesawatnya Cepheus diserang monyet-monyet lab luar angkasa. Satu rekan lagi tewas. Roy berhasil menarik keluar seorang awak kapal yang sekarat, meski kemudian tewas juga. Satu kematian yang mungkin tak akan terjadi jika ia lebih sigap.

Setibanya di Mars, ujian Roy semakin kompleks. Ia harus berkomunikasi dengan Clifford melalui pesan suara yang dikirimkan tim Mars ke Neptunus. Dari pesan suara kedua yang Roy kirimkan, penonton bisa melihat perubahan Roy dari sosok yang stabil menjadi begitu emosional, terutama saat ia menuturkan berbagai kisah bersama ayahnya.

Pesan suara emosional yang ia kirimkan itu pula yang membuat BPM-nya naik dan tidak stabil. Walhasil, ia tak bisa melanjutkan perjalanan.

Keputusan menyusup di Cepheus yang terbang dari Mars ke Neptunus membuat situasi dalam pesawat makin runyam. Semua tim menolak kehadiran Roy, bahkan melawannya. Nahasnya, upaya pembelaan diri Roy mengakibatkan seluruh awak pesawat terbunuh.

Ia seorang diri menuju Neptunus, menuju ayahnya.

Setibanya di tujuan, Roy mendapati kekecewaan yang lain: bertemu sang bapak yang rupanya telah sengaja melupakan Bumi, ibu, dan dirinya. Lenyap sudah konsep 'pulang' dari benak Clifford.

Ad Astra Memeriksa Perkara Maskulinitas

Sutradara James Gray mendudukkan dua laki-laki ini sebagai cowok tidak peka, tak sudi terdistraksi, sekalipun mengorbankan perasaan pasangan. Keduanya merasa berhak meninggalkan pasangan demi masa depan Bumi.

Menariknya, cerita Ad Astra berhasil mempertanyakan sikap maskulin semacam itu itu melalui perspektif tokoh laki-lakinya.

Clifford selalu melihat ke depan, menemukan intelligent life demi masa depan ilmu pengetahuan, meski harus menjauhi Bumi, rumah, dan anaknya. Tak ada kata pulang dan keluarga lagi di benaknya. Termasuk pilihan Clifford mati ditelan tata surya, terbang di antara bintang-bintang.

“Bagaimana kalau takdir kita adalah melampaui kemustahilan, melampaui sains,” kata Clifford kepada Roy.

Sosok Clifford ini seolah menjelaskan bahwa semakin jauh dari rumah (Bumi), semakin nyaman pula Anda dengan kesendirian, kehampaan. Anda akan melupakan perasaan pribadi. Anda menjadi seonggok daging bernyawa. Kehilangan kemanusiaan.


Hal ini pula yang membuat Roy tak ingin menyerupai ayahnya. “Aku tak ingin menjadi seperti ayahku,” racaunya.

Di sinilah Roy menemukan dirinya sebagai manusia yang rentan, bisa merasa kehilangan begitu berjumpa dengan kematian. Manusia yang bisa marah saat disisihkan dan dianggap tidak penting oleh rekan kerja. Seorang yang peka, yang menerima kekecewaan atas orang paling menginspirasinya sendiri. Seorang yang merelakan perpisahan dan tetap memilih pulang.

Tugas Roy selanjutnya adalah pulang ke rumah (Bumi) dan merawat luka lahir-batinnya.

“Aku tak tahu masa depan dan aku tidak khawatir,”

“Aku ingin mencintai orang-orang di dekatku. Aku ingin berbagi beban denganmu, dan kamu berbagi beban denganku. Aku memilih untuk hidup,” tutur Roy di ujung film.



Jarak>Waktu

James Gray mengajak Hoyte Van Hoytema, sinematografer Interstellar (2014), untuk terlibat di film ini. Meski demikian, Ad Astra memang tak semewah Interstellar. Gray memilih untuk tidak berumit-rumit membahas black hole di sini. Anda juga tidak akan menjumpai adegan-adegan dengan visual canggih seperti Interstellar.

Penonton pun tak diberi keterangan waktu yang jelas soal kapan kisah Ad Astra dimulai. Gray memilih menghadirkan gambar-gambar penjelas yang menunjukkan lembaga antariksa yang sudah terbangun di bulan serta keberadaan hunian di Mars, atau transportasi Bumi ke Bulan yang tak spesial-spesial amat (kamu harus bayar untuk pakai selimut).

Meminimalisir penjelasan tentang waktu mungkin adalah cara Gray untuk mengajak penontonnya fokus pada jarak, entah itu jarak fisik, jarak sosial, atau jarak emosional. Dus, penjelajahan tata surya bukan selalu soal waktu, tak melulu soal kapan cita-cita futuristik umat manusia tinggal di luar Bumi tercapai.

Perkara jarak dan kaitannya dengan latar tempat ini jamak dipakai dalam narasi kisah-kisah personal dan keluarga, misalnya Armageddon (1998), Deep Impact (1998), hingga Interstellar (2014). Banyak film tentang penjelajahan luar angkasa pada dasarnya adalah cerita keluarga atau relasi personal lainnya.

Jarak dalam Ad Astra juga berfungsi sebagai konteks dan mediator untuk membicarakan banyak hal. Dalam Interstellar jarak melatarbelakangi--sekaligus menjadi problem--relasi intim ayah dan anak perempuan. Dalam Ad Astra, jarak adalah wahana Roy untuk merefleksikan dirinya di tengah kehidupan sosial dan semesta.

Bukankah orang memang lebih sering berpikir tentang relasi sosial ketika jauh dari kampung halaman, rumah, atau tempat kerja atau lingkaran sosial yang sehari-hari diakrabi?



Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Film)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight