24 Maret 2008

Acara 'Dahsyat' di RCTI: Dipuja Penonton 'Alay', Ditutup karena TNI

Ilustrasi Mozaik Acara Musik Dahsyat. tirto.id/Nauval
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 24 Maret 2020
Dibaca Normal 4 menit
KPI menilai para pembawa acara Dahsyat kadang berkata atau berlaku merendahkan manusia lain
Lalala! Yeyeye!

Radja baru selesai membawakan lagu Bulan. Penonton Synchronize Fest masih bertepuk tangan. Oomleo selaku pemandu acara tiba-tiba menyambar mikrofon dan berkata:

“Gilaa.. Gila gila gila.. Mampuslah lu anak-anak indie segala macem, yang dulu suka ngehina-hina Inbox, suka ngehina-hina Dahsyat, siapa aja coba?”

Ratusan, atau bahkan ribuan, lelaki-perempuan yang memadati Gambir Expo Jakarta Pusat bersorak sorai.

Mungkin sebagian menyoraki diri mereka sendiri. Mereka yang dulu mencibir acara musik televisi karena dianggap alay. Tapi pada malam 5 Oktober 2019 itu, mereka berjingkrak-jingkrak hingga singalong di hadapan Radja, Andika-Dodhy eks Kangen Band, Setia Band (ST 12), dan Wali Band.

Band-band ini adalah punggawa pop melayu Indonesia era 2000-an.


Ekosistem Tersendiri

Karier mereka dan musisi arus utama lain sedikit banyak terdongkrak berkat Dahsyat—program musik pagi di RCTI yang pertama kali ditayangkan pada 24 Maret 2008, tepat hari ini 12 tahun silam.

Perlu digarisbawahi: Dahsyat bukan pelopor. Inbox di SCTV rilis lebih awal pada 3 Desember 2007. Dahsyat muncul dengan meniru formatnya. Tapi RCTI mencoba menawarkan kebaruan dengan syuting di ruangan tertutup (indoor).

Formasi pembawa acara pada edisi perdana Dahsyat adalah Luna Maya, Raffi Ahmad, dan Olga Syahputra. Ketiganya memperkenalkan dan mewawancarai bintang tamu, membanyol, menampilkan video klip serta tangga lagu, dan kadang diselingi gosip.

Bayangkan melakukan itu setiap hari selama dua jam. Dan model siaran inilah yang menurut kurator musik Dimas Ario menjadi sumber permasalahan.

Permulaan abad ke-21 menyuguhkan tantangan-tantangan baru bagi pelaku industri musik. Mereka menderita karena penjualan album fisik menurun drastis.

Internet belum jadi kanal streaming atau jualan materi lagu secara resmi, namun jadi sarana unduhan ilegal. Apalagi pembajakan melalui compact disc makin marak karena tidak pernah ditangani secara serius oleh pemerintah Indonesia.

Solusi muncul ke permukaan sekitar tahun 2007 lewat RBT atau Ring Back Tone (entah kenapa istilah ini lebih jamak digunakan ketimbang Nada Dering Pribadi/NSP).

Meski konsepnya aneh karena orang membayar nada berdurasi 30-40 detik untuk didengar orang yang menelponnya, RBT amat diminati masyarakat Indonesia.

Saking larisnya, beberapa pengamat menyebut RBT sebagai penyelamat industri musik tanah air. Band-band arus utama kemudian berlomba mempromosikan single terbaru dalam format RBT. Dan tempat yang paling tepat untuk melakukannya ialah acara musik di televisi nasional.

“Televisi masih menjadi saluran utama, sebenarnya hingga saat ini, apalagi untuk masyarakat di luar Jawa,” kata Dimas Ario kepada Tirto melalui sambungan telepon, Selasa (17/3/2020).

Sayangnya, kembali ke problem siaran harian, Dimas mengamati band-band tidak tampil dengan maksimal. Bahkan banyak di antaranya yang lip-sync.


Kesimpulan yang saya ambil usai menonton ulang beberapa episode Dahsyat di kanal YouTube: alih-alih manggung secara serius, kehadiran mereka memang seperti formalitas belaka.

Band terkenal sering diajak membanyol atau bergosip oleh pembawa acara atau membincang hal-hal di luar eksplorasi seni para anggota. Mereka pada dasarnya tidak diperlakukan sebagai musikus, tapi selebritas.

“Jadi kalo ditanya apa Dahsyat punya dampak ke industri musik pop, ada. Memang jadi tempat cari popularitas , tapi dari segi kualitas mungkin lebih ke negatif. Apalagi acara seperti itu terbantu oleh penonton bayaran,” kata Dimas.

Dimas kemudian menjelaskan Dahsyat dan acara musik sejenis adalah ekosistem tersendiri. Penggeraknya adalah kapitalisasi genre arus utama, yang kebetulan saat itu didominasi pop melayu.

“Makanya saat ada yang sukses banget, seperti Kangen Band atau ST 12, yang lain mengikuti genre yang sama. Gaya panggung sampai cara berpakaian juga. Kenapa? Agar kesempatan tampil di Dahsyat juga makin terbuka.”

Pengamat musik Denny Sakrie mengungkap kritik serupa dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2015).

Band-band yang rajin tampil di acara musik televisi ia sebut menciptakan lirik-lirik “yang hanya berkutat dari soal selingkuh dan selingkuh.” Meski demikian, ia akui “pengungkapan yang dangkal” memang lumrah dalam musik pop.

Denny turut menyebut semuanya tidak lepas dari major label. Mengendus band yang tengah diminati khalayak dan membawanya ke bilik rekaman ia sebut sebagai “jalan pintas”, lalu menggunakan “selera pasar” sebagai kambing hitamnya.

“Akhirnya pasar yang menentukan. Meski tidak semua bercita-cita ke Dahsyat, ya. Band-band independen, misalnya. Selain tidak mau, ya, memang musiknya bukan yang dicari produser acara,” imbuh Dimas.

Tapi, toh, tidak semua band-band yang populer lewat Dahsyat bisa berumur panjang. Sebagian meraup popularitas instan berkat satu-dua tembang hits, kemudian tenggelam atau malah bubar.

Band-band yang dipandu Oomleo di Synchronize Fest 2019 adalah pengecualian. Mereka memang tampil di Dahsyat dan acara sejenis, tapi di sisi lain mereka matang di panggung serta produktif dalam berkarya.

Band-band itu punya kans untuk menjadi abadi, minimal di benak generasi yang tumbuh di era 2000-an. Mereka punya modal untuk membius penonton melalui nostalgia.


Dibayar untuk Alay, Ditegur agar Taat Norma

Apa itu penonton alay?

Sineas Ardi Wilda mendapat jawaban menarik dari Ali, koordinator penonton Dahsyat, yang ia rekam untuk film dokumenter Menonton Penonton (2014).

“Penonton alay itu setengah publik figur, karena tingkah lakunye di tivi kadang kebawa ke rumah, tetangga nyontoh itu. Lagi pada jalan, terus ada yang nongkrong bilang ‘alay, alay, alay’ digituin, publik figur kan gitu, dikata-katain.”

Deskripsi ini boleh dibilang upaya pembelaan Ali terhadap anak-anak muda yang bekerja untuknya. Ia tahu label “alay” punya konotasi negatif. Meski demikian, sebagaimana istilah gaul lain, definisinya juga tidak jelas.

Apa para penonton alay karena dandanan mereka? Atau tingkah mereka selama syuting? Mungkin karena mereka tidak datang ke studio secara sukarela dan menampilkan perilaku yang orang-orang golongkan norak?

“Kadang-kadang kalo kita digituin kita giniin lagi, MBL! Masalah Buat Lo?!” ujar Pendi, kawan Ali, mantan penonton bayaran dan penggemar Kangen Band.

Ibarat pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu, penonton bayaran terus ada sejak Dahsyat pertama kali muncul. Format serupa bahkan dilestarikan berbagai program di stasiun televisi swasta hingga hari ini.

“Program semacam Dahsyat sudah eksis sejak dulu, namun baru pada Dahsyat dan acara-acara sejenislah penonton memperoleh derajat penampakan yang lebih besar,” tulis Windu Jusuf dalam ulasan Alay di Balik Layar untuk Remotivi.

Dahsyat tidak meletakkan penonton sebagai konsumen yang pasif di depan televisi. Mereka justru diajak berpartisipasi membentuk kenyataan yang sehari-hari mereka nikmati dan imani, persis seperti yang dikatakan Ali.

Windu menyatakan keunikan film Ardi bukan pada estetikanya, melainkan karena Menonton Penonton barangkali film pertama dan satu-satunya yang mengulik “penonton alay”.

Dan sebagaimana Dahsyat menjelma sebagai satu ekosistem tersendiri, kebanggaan terhadap titel “penonton alay” seharusnya bukan sesuatu yang mengejutkan.


Motif mereka sesederhana mendapatkan pendapatan tambahan yang halal, bertemu artis, dan meluaskan lingkaran pertemanan. Mereka tutup kuping dengan opini orang lain, termasuk kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang berkali-kali menyemprit Dahsyat.

Dasar peringatan kerap didasarkan pada pelanggaran norma. KPI menilai para host kadang berkata atau berlaku merendahkan manusia lain.

Makian lokal memang sering berseliweran. Misalnya pe’a, ular kadut, pangeran sawan, atau jenglot. Kebiasaan ini berdampak pada merebaknya kasus yang dianggap menghina lambang negara hingga kematian idol KPop.

Sesi hiburan pun tak jauh berbeda. Mereka pernah menggelar sesi tebak-tebakan yang melibatkan adegan mencium kain pel atau sesi terapi fobia yang bagi KPI tidak ramah untuk penonton anak-anak.

Niat itu semua adalah bercanda, tentu saja, namun KPI tetap khawatir penularannya. Selama ini publik juga cenderung satu suara dengan KPI.

Puncaknya terjadi pada Jumat, 26 Januari 2018. Acara pagi itu mengandung adegan permainan yang dianggap melecehkan TNI-AD. Buntutnya, setelah mengudara selama satu dekade, Dahsyat diputuskan berhenti tayang.

Tanpa kasus pun Dahsyat sebenarnya berhadapan dengan situasi lain: acara musik di televisi makin tidak diminati.

Maka, ketika Dahsyat ditayangkan kembali pada 29 April 2019 dengan nama Adu Dahsyat, formatnya sudah bukan lagi acara musik, melainkan perlombaan antarkelompok penonton.

Pertanyaannya: saat “lalala yeyeye” telah menghilang dan joget kucek-jemur tinggal kenangan, apakah ke-alay-an program masih dipertahankan?

Baca juga artikel terkait ACARA TELEVISI atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight