Menuju konten utama

Abai dan Mencelakakan, Tanda Orangtua Tak Siap Punya Anak?

Menjadi orangtua bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng atau dilakukan “untuk bersenang-senang", ini sesuatu yang butuh tanggung jawab besar.

Abai dan Mencelakakan, Tanda Orangtua Tak Siap Punya Anak?
Ilustrasi Pelukan. foto/Istockphoto

tirto.id - Pada 19 September 2022, seorang bocah 3 tahun asal Lampung tewas setelah terjatuh dari lantai tiga Hotel Grand Central, Kota Pekanbaru, Riau. Peristiwa nahas di pagi pukul 03.30 WIB itu terjadi setelah orangtuanya berkaraoke di lantai dasar hotel dengan kondisi jendela kamar tak terkunci.

Dua bulan sebelumnya (7/7), publik juga dibuat prihatin dengan kematian remaja disabilitas (15 tahun) yang tenggelam saat menemani ayahnya mencuci motor di bantaran Sungai Kalimalang, Jakarta Timur.

Masih di tahun yang sama (03/04), kakak-beradik umur 3 dan 4 tahun tewas tenggelam di kolam renang Villa Bellevue, Lembang, Bandung Barat. Keduanya masuk ke area kolam tanpa sepengetahuan orangtua maupun penjaga villa.

Menurut data teranyar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), salah satu penyebab kematian terbanyak penduduk dunia kelompok umur 1–24 adalah tenggelam. Tiap tahunnya, sekitar 236 ribu jiwa terenggut.

Laporan Global Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada 2014 juga menyebutkan bahwa umur menjadi faktor risiko tertinggi pemicu insiden kematian akibat tenggelam.

Hal ini terkait dengan kelalaian dalam pengawasan. Korban tenggelam paling banyak adalah anak umur 1–4 tahun, disusul 5–9 tahun. Bahkan, di Kawasan Pasifik Barat Daya, anak umur 5–14 tahun lebih sering meninggal karena tenggelam ketimbang penyebab lainnya.

Sekian banyaknya kasus kecelakaan yang merenggut nyawa anak-anak sudah sepantasnya menjadi perhatian publik, utamanya terkait pengawasan orangtua dalam proses tumbuh-kembang buah hati.

Anak sebenarnya sudah memahami konsep sederhana “kecelakaan” lewat hubungan sebab-akibat. Misalnya, benda tajam berpotensi menyebabkan luka.

“Setelah hubungan sebab-akibat dibuat, anak akan bisa membedakan situasi, apakah aman atau tidak,” tulis Nina M. Coppens.

Nina adalah peraih doktor bidang psikologi anak. Ia menulis penelitian mengenai keselamatan dan pencegahan bahaya terhadap 54 anak pra-sekolah yang terdaftar di pusat penitipan anak New Hampshire, Amerika Serikat (AS). Penelitiannya ini diterbitkan dalam Journal of Applied Developmental Psychology (1985).

Walau begitu, pemahaman anak akan keselamatan tak terlepas dari keterbatasan kognitifnya. Anak-anak belum mampu menggunakan sudut pandang orang lain, sehingga mempertimbangkan sesuatu hanya dari sudut pandangnya, termasuk soal keselamatan.

Keterbatasan Anak Picu Risiko Keselamatan

Tindakan yang anak anggap aman untuk dilakukan, belum tentu aman dari sudut pandang orang dewasa. Keterbatasan ini membuat mereka rentan terhadap bahaya. Di tengah situasi demikian, tugas orangtua yang paling utama adalah memastikan keselamatan mereka.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk “menjauhkan” anak dari bahaya yang mengancam keselamatan jiwa adalah dengan meningkatkan pemahaman mereka akan bahaya itu sendiri (termasuk cara mengatasinya) lewat pendidikan keselamatan diri sejak dini.

Namun kita tak boleh berhenti hanya di sana. Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. tak menyarankan orangtua lepas tangan. Anak, apalagi di usia dini, masih membutuhkan pendampingan.

“Betul, penting sekali mereka harus tahu, tapi karena keterbatasan pemahaman dan pengalaman tentang situasi bahaya, anak usia dini belum bisa diandalkan begitu saja menjaga keselamatannya sendiri,” kata Vera, dilansir dari Kompas.com. “Yang mereka tahu hanya hal itu menarik minatnya, sehingga tertarik untuk mendekat atau menyentuh.”

“Karena ketergantungan anak-anak pra-sekolah kepada orang dewasa, orangtua mungkin juga punya pengaruh terhadap pemahaman anak-anak tentang keselamatan dan pencegahan,” Nina menambahkan.

Apalagi, selain perkara kognitif, faktor yang mempengaruhi pemahaman anak akan keselamatan diri adalah situasi keluarga. Misal, semakin banyak anggota keluarga, perhatian orangtua ke anak semakin berkurang sehingga risiko bahaya kian besar.

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga kurang harmonis pun cenderung minim pengawasan. Kesibukan atau terbaginya fokus orangtua membuat anak tak mendapatkan cukup perhatian, apalagi kesempatan menjalani pendidikan keselamatan diri.

Punya Anak Bukanlah Proses Mekanis

Persoalan keselamatan anak hanyalah satu dari sekian banyak tantangan besar yang bakal dihadapi orangtua ketika memutuskan untuk memiliki anak. Jika tak punya kesiapan matang, maka momen penuh makna ini justru bisa menjadi bumerang bagi kebahagiaan rumah tangga.

Mayoritas pasangan menikah memasukkan anak dalam daftar keinginan yang—cepat atau lambat—ingin diwujudkan. Padahal, memiliki anak tak sekadar impian yang ketika berhasil digapai, pasangan lantas bisa “melanjutkan petualangan” ke daftar impian berikutnya.

Seringkali, kita memandang pernikahan dan anak sebagai paket lengkap, satu kesatuan dalam urutan mekanis. Padahal, mengutip psikolog klinis dewasa Sri Juwita Kusumawarhdani, M. Psi, menikah dan punya anak adalah dua hal yang berbeda.

Pernikahan melibatkan dua orang dewasa yang saling mengurus, bertanggung jawab, dan bertoleransi. Sementara itu, ketika menjadi orangtua, kita dituntut untuk mengurus, merawat, dan melindungi anak yang “lemah”.

Karena itu, pasangan menikah belum tentu siap punya anak, apalagi hanya karena tuntutan keluarga, tekanan dari lingkungan, sekadar mengikuti proses alami daur hidup manusia, atau karena kegagalan alat kontrasepsi.

“Harus ada kesepakatan, sudah siap belum untuk memiliki anak. Jangan sampai yang suaminya mau memiliki anak, istrinya belum mau. Jadi orangtua memang tidak ada sekolahnya, tapi memiliki anak itu butuh persiapan yang sangat matang,” tutur Psikolog klinis keluarga Monica Sulistiawati, seperti dikutip dari Antara.

Dua tahun lalu, pendiri sekaligus kepala editor Risi Writes Consultancy, Dr. Risi Darxshinni, mengungkap keputusannya dan suami untuk tak memiliki anak sampai mereka siap—atau mungkin tak akan pernah.

Bagi Risi, menjadi orangtua bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng atau dilakukan “untuk bersenang-senang”. Pasangan boleh memiliki anak jika yakin mampu membesarkannya dengan sepenuh hati.

“Kamu harus siap secara mental, emosional, fisik, dan finansial agar bisa memberi keterampilan, nilai-nilai, dan fasilitas penunjang untuk beradaptasi dan berkembang,”ujarnya.

Infografik Punya Anak Kok Coba Coba

Infografik Punya Anak Kok Coba Coba. tirto.id/Fuad

Tak Berarti Harus Perfeksionis

Namun bukan berarti juga kita harus menjadi orangtua yang perfeksionis. Sangat manusiawi jika orangtua juga melakukan kesalahan, sehingga muncul ungkapan bahwa ‘menjadi orangtua adalah sebuah proses belajar tanpa akhir’.

Untungnya, saat ini ilmu parenting bisa didapat dari mana saja karena akses informasi yang kini terbuka luas: dari buku, seminar, diskusi dengan orangtua lain, dan juga dari kejadian-kejadian di sekitar kita atau di pemberitaan media massa.

Tiap membaca berita tentang musibah yang menghilangkan nyawa anak, Maria—ibu dua balita—merasakan kesedihan yang luar biasa.

“Anak adalah komitmen jangka panjang. Sepenat dan selelah apa pun, tak ada yang bisa ‘meliburkan diri’ dari tanggung jawabnya sebagai orangtua. Walau begitu, kita juga nggak berhak beropini apalagi menyalahkan siapa pun.”

“Ada satu unggahan di Instagram yang sepintas aku baca tapi diingat sampai sekarang karena relate banget dengan peranku sebagai ibu. Kalau soal anak, tanpa disalahkan pun orangtua sudah sering merasa bersalah. Belum lagi orangtua mesti menanggung duka kehilangan. Jadi, cukup pembelajarannya yang kita ambil dari kisah-kisah pilu itu,” tutup Maria.

Idealnya, seperti kata Risi, orang-orang menanti kehadiran anak dalam keluarga karena benar-benar ingin mengabdikan diri—tanpa syarat dan ketentuan—untuk mencintai, membesarkan, dan mengasuh buah hati.

Demikian juga dengan menyediakan lingkungan kondusif dan sumber daya yang diperlukan untuk memastikan lingkungan dan situasi yang aman bagi tumbuh-kembang anak. Jika tujuanmu berbeda dari hal tersebut, wacana untuk memiliki anak ada baiknya ditinjau ulang.

Baca juga artikel terkait ANAK-ANAK atau tulisan lainnya dari Yemima Lintang

tirto.id - Humaniora
Penulis: Yemima Lintang
Editor: Nuran Wibisono