A. Riyanto, Setangkai Anggrek Bulan di Blantika Musik Pop Indonesia

Oleh: Petrik Matanasi - 27 November 2020
Dibaca Normal 2 menit
A. Riyanto adalah putra dari pencipta lagu "Bintang Kecil". Ia sempat kuliah arsitektur di Bandung, tapi memilih musik sebagai jalan hidup.
tirto.id - Lagu "Bintang Kecil" digubah oleh Gerardus Johannes Daldjono alias Pak Dal. Lagu yang liriknya sederhana, mudah dihafal, dan gampang dinyanyikan ini pernah dibawakan oleh Koes Bersaudara dalam film berjudul Bintang Ketjil (1963). Film tersebut disutradarai oleh Wim Umboh dan skenarionya ditulis Misbach Yusa Biran.

Selain sebagai musikus, Daldjono juga berprofesi sebagai guru. Ia menikah dengan Cecilia Siti Subandiatun dan mempunyai sembilan orang anak. Anak keempat mereka bernama Aloysius Riyanto (A. Riyanto) alias Kelik.

Setelah lulus dari SMA Colese De Britto, A. Riyanto pindah ke Bandung untuk kuliah Arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Parahyangan. Namun, kuliahnya tak selesai. Ia hanya sampai tingkat dua, dan lebih tertarik menekuni musik seperti ayahnya. Apalagi ia pandai memainkan banyak alat musik.

Suatu kali, seperti diceritakan dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984 (1984:687-688), adik sepupunya yang masih SMP, yaitu Tetty Kadi, mendapat tawaran dari perusahaan rekaman Republic Manufacturing Company Ltd. (Remaco), tapi dengan syarat harus membawakan lagu-lagu baru. A. Riyanto yang saat itu ikut band mahasiswa Renata, kemudian ambil bagian dalam menciptakan lagu untuk sepupunya itu.

Pada tahun 1966, A. Riyanto sudah menciptakan sejumlah lagu seperti "Teringat Selalu", "Pulau Seribu", "Bunga Mawar", "Si Kura-kura", dan "Si Kancil". Sebelum direkam, lagu-lagu itu diperdengarkan dulu kepada Yanuar Ishak dan Zaenal Arifin selaku wakil Remaco. Sambil duduk di lantai, A. Riyanto memainkan gitar dan menyanyikan lagu ciptaannya. Remaco menerima lagu-lagu itu dan segera dinyanyikan sepupunya untuk direkam. Berkat lagu-lagu ciptaannya, Tetty Kadi naik daun.

Dua tahun setelah debutnya sebagai pencipta lagu, seperti diceritakan dalam Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage, Volume 1 (2005:45), A. Riyanto bergabung dengan Zainal Combo dan membentuk band Empat Nada. Band ini merupakan band pengiring rekaman di Remaco milik Eugene Timoty. Empat Nada mengiringi banyak penyanyi terkenal, dari Titiek Sandhora hingga Mus Mulyadi.


Setelah sukses menggubah sejumlah lagu untuk rekaman Tetty Kadi, A. Riyanto menciptakan lagi beberapa lagu, seperti "Angin Malam", "Mimpi Sedih", "Mawar Berduri", "Hanya Untukmu", "Setangkai Anggrek Bulan", "Senandung Rindu", dan lain-lain. Lagu-lagunya banyak dibawakan sejumlah penyanyi terkenal Indonesia, seperti Emilia Contessa, Broery Marantika, Mus Mulyadi dan masih banyak lagi.

Perkenalan A. Riyanto dengan Mus Mulyadi berlanjut dan cukup memengaruhi karier musik keduanya. A. Riyanto tidak puas dengan band Empat Nada yang hanya jadi band pengiring. Ia ingin mempunyai band seperti Koes Plus, yakni band yang memiliki vokalis tetap. Empat Nada pun kemudian bubar. Bersama Mus Mulyadi sebagai vokalis dan pembetot bass, pada tahun 1972 mereka membentuk band baru yang bernama Favourite Group.

Dari 1972 hingga 1975, Favourite Group merekam empat album. Album perdana mereka antara berisi lagu-lagu seperti "Angin Malam", "Seuntai Bunga Tanda Cinta", "Setitik Embun" dan "Mawar Berduri". Sementara dalam album berikutnya antara lain terdapat lagu "Mimpi Sedih", "Aku yang Kau Tinggalkan" dan "Cintaku Suci". Album Volume III memuat lagu "Teratai Putih", "Oh Kasian", "Mengapa Marah", dan "Tetes Hujan di Bulan April". Dan pada album Volume IV terdapat lagu "Aku Tak Berdosa", "Bukan Milikmu" dan "Selamat Berpisah".

Setelah album keempat, Mus Mulyadi keluar dari band. Posisinya digantikan oleh Mamiek Slamet. Namun, Mus Mulyadi balik lagi pada 1978 dan tetap dikenal sebagai pentolan Favourite group. Formasi band ini yang paling terkenal adalah ketika terdiri dari A. Riyanto, Mus Mulyadi, Is Haryanto, Harry Tos, dan Tommy.


Infografik A Riyanto
Infografik A. Riyanto. tirto.id/Quita


Lagu-lagu Favourite Group kebanyakan digubah oleh A. Riyanto dan dinyanyikan Mus Mulyadi. Lirik-liriknya yang melankolis disukai banyak pendengar sehingga album-albumnya laris manis di pasaran. Maka itu, Favourite Group sempat bersaing dengan band sebesar Koes Plus. Jika di Koes Plus terdapat Tonny Koeswoyo yang rajin membuat lagu, maka Favourite Group mempunyai A. Riyanto yang tak kalah produktif.

Lagu-lagu Favourite Group di dua album pertamanya, terdapat pula dalam film berjudul Akhir Sebuah Impian (1973) yang bintangi Broery, Emilia Contessa, dan Benyamin S. Dalam film itu, A. Royanto menjadi penata musiknya. Menurut JB Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005 (2005) A. Riyanto juga menjadi penata musik dalam film Hostes Anita, Titienku Sayang, Jauh di Mata, Belas Kasih, dan Malam Pengantin.

Prestasi A. Riyanto juga diakui juga di luar negeri. Dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 (1981:541) disebutkan bahwa lagu Hanya Untukmu—yang dinyanyikan Rafika Duri menang dalam Festival Lagu Pop Asia di Seoul pada 1978. Atas gubahannya, A. Riyanto mendapat hadiah Kayakeum Award.

Memasuki era 1980-an, ia menjadi produser yang mengorbitkan banyak penyanyi muda, seperti Trie Utami, Vina Panduwinata, Endang S. Taurina, dan Maharani Kahar. Penyanyi terakhir sempat membawakan lagu "Desember Kelabu" yang kemudian dinyanyikan ulang oleh Yuni Shara. A. Riyanto juga adalah pencipta jingle Indomie. Ia pernah bekerja sebagai supervisor di Musica Studio pada 1980. Selain itu, ia mendirikan CV A. Riyanto & Co di garasi rumahnya, di Cipete. Warsa 1990-an, putra-putrinya, yakni Lisa, Ari, dan Doni, ikut meramaikan blantika musik Indonesia.

Baca juga artikel terkait MUSIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Musik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight