21 Februari 1995

95 Tahun The New Yorker Menyajikan Jurnalisme Sastrawi

Ilustrasi The New Yorker. tirto.id/Nauval
Oleh: Restu Diantina Putri - 21 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
The New Yorker mengubah lanskap jurnalisme dalam reportase dan gaya penulisan.
Harold Ross mendirikan The New Yorker pada dekade awal abad 20 dengan mengedapankan satir, humor, dan kritik—kebanyakan lewat karikatur. Ia hadir sebagai era baru jurnalisme dengan segala macam ciri khasnya.

Kaver perdana The New Yorker mengambil tokoh The Dandy Eustace Tilley lengkap dengan kacamata monokelnya. Eustace Tilly merupakan karakter dalam serial humor yang tayang di majalah tersebut selama satu tahun pertama mereka terbit. Karakter itu didesain Rea Irvin, penata artistik pertama mereka dan hingga saat ini menjadi maskot khas The New Yorker. Irvin pula yang menciptakan font khusus untuk The New Yorker.

Cikal bakal gaya penulisan The New Yorker ditakik dari esai dari E.B White yang berjudul Notes and Comment. Esai tersebut diedit oleh salah seorang editor yang mengampu rubrik fiksi, Katherine Angell, yang kelak menikah dengan White.

Namun, ketika itu The New Yorker belum terlalu vibran dalam mengembangkan jurnalisme sastrawi. Semua dimulai pada 1933, ketika Ross merekrut seorang editor untuk membangun sebuah sistem newsroom yang ajeg untuk majalahnya. Ross kemudian bertemu William Shawn yang datang ke The New Yorker sebagai penulis Talk of The Town.

Enam tahun berikutnya, Shawn menjadi redaktur pelaksana The New Yorker. Hingga 1951, pasca kematian Ross, Shawn maju sebagai pemimpin redaksi menggantikan pendiri The New Yorker itu.

Pada awal kemunculannya atau dalam periode kepemimpinan Ross, The New Yorker dikenal sebagai media pesolek dengan konten-konten gosip dan cerita-cerita pendek menengah ke atas. Di bawah kepemimpinan Shawn, ia mengembangkan sebuah pendekatan reportase dan gaya penulisan baru yang dikenal sebagai jurnalisme sastrawi.

Shawn memboyong sejumlah penulis baru seperti John Jersey, John McNulty, Geoffrey Hellman, Joel Sayre, Alva Johnston, St. Clair McKelway, Philip Hamburger, John Lardner, Brendan Gill, Berton Roueché, John Bainbridge, dan Lillian Ross.

Dalam buku John Mitchell and The New Yorker Nonfiction Writers, Norman Sims mengutip salah satu dari penulis baru tersebut, A.J Liebling yang pernah bilang, “aku masih berpikir laporan-laporan The New Yorker sebelum kami masuk cukup shoddy (jelek).”

Memperkenalkan Jurnalisme Sastrawi

Setelah Perang Dunia II berakhir, John Hersey bergegas ke Jepang untuk meliput kondisi terkait bom atom di Hiroshima. Ia pergi menemui para korban di rumah sakit, di sekolah, dokter-dokter yang merawat kendati juga menjadi korban, orangtua yang kehilangan anaknya, dan bagaimana warga Hiroshima bertahan pasca serangan bom atom pada 6 Agustus 1945.

Setelah mengulik dan mendiskusikannya tiap detil kejadian bersama sang editor, William Shawn, laporan itu menghasilkan sebuah magnum opus sepanjang 30 ribu kata dengan enam narasumber utama. Judulnya: Hiroshima

Ross kemudian menulis pesan kepada White yang saat itu sudah pindah ke Maine: “Hersey sudah menulis 30 ribu kata dengan cara baru yang mewah dan bertenaga. Kami penasaran apa yang bisa kami lakukan dengan itu. Shawn ingin membuat orang-orang tersadar dengan apa yang terjadi di sana. Kurasa hanya kami yang punya kesempatan untuk melakukan itu.”

Tadinya, laporan Hersey akan dipecah ke dalam empat edisi berturut-turut. Namun pada 31 Agustus 1946, di luar kebiasaan The New Yorker terbit tanpa Talk of The Town sebagai artikel pertama. Sebagai gantinya, esai Hiroshima yang ditulis Hersey diterbitkan satu edisi penuh dengan sebuah catatan dari para editor.

TO OUR READERS. The New Yorker this week devotes its entire editorial space to an article on the almost complete obliteration of a city by one atomic bomb, and what happened to the people of that city. It does so in the conviction that few of us have yet comprehended the all but incredible destructive power of this weapon, and that everyone might well take time to consider the terrible implications of its use; The Editors.”

Yang diterjemahkan bebas menjadi:

“UNTUK PARA PEMBACA. The New Yorker edisi minggu ini mendedikasikan ruang editorial kami sepenuhnya untuk sebuah artikel tentang penghancuran suatu kota oleh satu bom atom, dan apa yang terjadi pada orang-orang di kota tersebut. Hal ini kami lakukan dengan keyakinan bahwa beberapa dari kita belum paham sepenuhnya kekuatan destruktif dari senjata ini dan setiap orang mungkin perlu waktu untuk mempertimbangkan implikasi mengerikan dari penggunaannya.”

Hersey menulis dengan pendekatan sastra, sehingga laporan yang ia tulis tak seperti produk jurnalisme kebanyakan, namun condong kepada novel fiksi. Semua dengan sudut pandang orang ketiga yang merupakan para korban bom atom Hiroshima, sehingga pembaca mendapat gambaran deskriptif dan terasa lebih dekat dengan peristiwa.

Laporan itu menjadi perbincangan banyak orang di seluruh dunia, terutama publik Amerika Serikat. Banyak yang memuji, namun tak sedikit pula yang mengkritiknya. Mengingat pada waktu itu, banyak pihak yang menjustifikasi keputusan Presiden AS, Harry S. Truman, menjatuhkan dua bom atom ke dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki.

Kendati demikian, esai Hiroshima Hersey mau tak mau menjadi pembaharu dan mengubah lanskap jurnalisme dalam reportase dan gaya penulisan yang hingga kini banyak diadopsi media-media, terutama mereka yang berfokus pada long-form reporting.


Diakuisisi Newhouse

Pada November 1984, Sam Newhouse, seorang taipan media pemilik Advance Publication, merogoh 25 juta dolar AS demi mendapatkan 17 persen kepemilikan saham The New Yorker. Dua tahun berikutnya, pada Februari 1986, Newhouse memutuskan membeli keseluruhan saham majalah tersebut dan beberapa majalah lainnya.

Akuisisi yang dilakukan Newhouse cukup mengagetkan mengingat industri media cetak seperti majalah, tengah menghadapi kelesuan pasca munculnya platform media-media baru seperti televisi. Alhasil, keputusan pembelian saham The New Yorker tidak dianggap sebagai bijak dari segi finansial.

Tak hanya itu, banyak kekhawatiran independensi majalah yang sudah berdiri sekitar 60 tahun tersebut akan terusik dengan kehadiran Newhouse di kursi pemilik. Terutama karena ia juga memecat Shawn setelah 32 tahun memimpin newsroom.

Newhouse jelas bukan anak bau kencur di industri media. Ia melihat peluang lain dalam keputusannya mengakuisisi The New Yorker. Ketika semua orang meragukannya, ia bilang kepada Geraldine Fabrikant dari New York Times bahwa “The New Yorker adalah hal paling hebat dalam sejarah jurnalisme”.

Sebab itulah, membawanya bangkit kembali ketika sudah banyak orang beralih ke televisi merupakan tantangan menarik bagi Newhouse. “Ketika mereka punya basis pembaca setia, maka para pengiklan juga akan mengikuti,” jelas Newhouse seperti dikutip Pop History Dig dalam artikel Newhouse Empire.

Ia tak asal ucap. Integritas dan kualitas The New Yorker juga tak berubah. Di tangan Newhouse, majalah tersebut justru mencatat kenaikan penjualan hingga 72 persen. Dengan kata lain, apa yang dikhawatirkan publik tidak terbukti.

Sejak didirikan Harold Ross pada 21 Februari 1925, tepat hari ini 95 tahun silam, The New Yorker tetap diminati pembaca setianya. Dan hingga kini Tuan Eustace Tilley tetap membagikan perspektif dari balik kacamata monokel ciri khasnya.

Baca juga artikel terkait JURNALISME atau tulisan menarik lainnya Restu Diantina Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight