9 Negara Berikut Terancam Bangkrut seperti Sri Lanka

Reporter: Selfie Miftahul Jannah, tirto.id - 13 Jul 2022 17:55 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Berdasarkan laporan Crisis Response Group pada Juni 2022, PBB memprediksi akan ada lebih banyak negara terancam mengalami kebangkrutan seperti Sri Lanka.
tirto.id - Sri Lanka menderita krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaannya dari penjajahan Inggris pada 1948. Pemadaman listrik selama berbulan-bulan, kekurangan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan membuat Sri Lanka akhirnya dinyatakan bangkrut.

Mengutip AP News, berdasarkan laporan Crisis Response Group pada Juni 2022, PBB memprediksi akan ada lebih banyak negara yang terancam mengalami kebangkrutan seperti Sri Lanka. Kebanyakan negara tersebut merupakan negara termiskin di dunia.

Kondisi tersebut terjadi karena, adanya kondisi dimana negara tersebut terlilit utang dan berisiko tinggi. Krisis di negara itu terjadi karena korupsi, perang saudara, kudeta, dan bencana lainnya.

Negara negara tersebut diantaranya Afganistan. Kondisi ekonomi Afganistan mengalami permasalahan usai adanya alih kuasa yang dilakukan Taliban dari tangan AS pada tahun lalu. Berbagai bantuan dari asing terganggu bahkan layanan transfer antarbank sempat terhenti dan membuat sektor perdagangan lumpuh.

Dari permasalahan itu ada 39 juta penduduk rawan mengalami krisis pangan. Hal tersebut dipicu oleh tenaga kerja seperti guru, dokter, perawat hingga PNS tidak mendapatkan upah selama berbulan bulan.

Negara lainnya ada Argentina, berdasarkan laporan tersebut empat dari 10 orang di Argentina merupakan orang miskin. Sudah lama Argentina mengalami krisis ekonomi, sampai ada jutaan orang yang bertahan hidup mengandalkan dapur umum.

Awal dari krisis ekonomi yang menimpa Argentina terjadi usai bank sentral kehabisan cadangan devisa usai terjadinya pelemahan mata uang peso. Dari permasalahan yang berkepanjangan itu, inflasi Argentina di tahun ini diprediksi mencapai 70 persen.

Mesir menjadi negara ketiga yang terancam mengalami kebangkrutan. Pemicu utamanya adalah tingginya inflasi di negara tersebut yang mencapai 15 persen pada April 2022. Imbas dari tingginya inflasi yang terjadi, ada 103 juta penduduk jatuh miskin.

Masyarakat Mesir yang saat ini menghadapi inflasi tinggi tambah menderita dengan adanya program reformasi ambisius pemerintah dengan membuat mata uang mengambang. Selain itu untuk melakukan penghematan anggaran, pemerintah malah memangkas subsidi untuk bahan bakar, air hingga listrik.

Belum selesai sampai di sana, kebijakan bank sentral mesir dengan menaikan suku bunga demi membatasi laju inflasi telah membuat pemerintah kesulitan untuk membayar utang luar negeri yang menumpuk.

Negara lainnya adalah Laos, pemicu utama dari krisis yang terjadi di Laos yaitu adanya utang yang melonjak selama masa pandemi. Kondisi ini sama seperti apa yang terjadi pada Sri Lanka, Laos juga terpaksa harus melakukan restrukturisasi utang senilai miliaran rolar AS.

Kondisi tersebut diperparah dengan tergerusnya devisa Laos yang hanya tersisa untuk memenuh kebutuhan dua bulan impor. Selain itu mata uangnya juga mengalami penurunan sampai 30 persen. Kondisi tersebut semakin membuat kondisi keuangan laos menjadi lebih terpuruk.

Negara selanjutnya adalah Lebanon. Krisis ekonomi yang terjadi di Lebanon terjadi karena jatuhnya mata uang hingga 90 persen. Selain itu adanya lonjakan inflasi memicu adanya krisis pangan dan energi. Lebanon mengalami krisis ekonomi imbas perang saudara yang berkepanjangan. Hal tersebut menghambat pemulihan ekonomi di negaranya.

Kondisi tersebut diperparah dengan gagalnya pembayaran utang yang jatuh tempo. Lebanon gagal membayar utang sebesar 90 miliar dolar AS. Kondisi tersbeut membuat rasio utang Lebanon mengalami lonjakan sampai 170 persen terhadap PDB.

Negara lainnya adalah Myanmar. Pandemi membuat negara Myanmar mengalami ketidakstabilan ekonomi. Selain itu permasalahan politik yaitu kudeta militer yang terjadi pada awal 2021 juga memperparah stabilitas ekonomi Myanmar. Imbas dari dua faktor tersebut, perekonomian Myanmar terkontraksi sampai 18 persen di 2021 dan diperkirakan tidak tumbuh pada tahun ini.

Kondisi tersebut membuat Bank Dunia tidak mengeluarkan prediksi pertumbuhan ekonomi untuk Myanmar sampai 2024.

Negara selanjutnya adalah Pakistan. Kebangkrutan membayangi Pakistan usai lonjakan harga minyak mentah memicu kenaikan komoditas lain di dalam negeri. Lonjakan minyak dan bahan pangan membuat inflasi di Pakistan melonjak menjadi 21 persen.

Selain itu mata uang rupe milik Pakistan juga melorot 30 persen terhadap dolar AS di 2021. Kondisi ini juga diperparah dengan cadangan devsa yang turun menjadi hanya 13,5 miliar dolar AS atau hanya cukup untuk 2 bulan impor.

Kondisi ini membuat Pakistan meminta dana talangan dari IMF untuk mencairkan dana talangan sebesar 60 miliar dolar AS.

Selain itu, ada Zimbabwe yang pada 2008 pernah mengalami status hiperinflasi dimana saat itu mereka mengalai inflasi sampai 500 miliar persen. Permasalahan ekonomi di Zimbabwe terjadi selama bertahun-tahun. Kondisi ini terjadi karena adanya korupsi dan rendahnya investasi yang masuk. Kondisi ini juga diperparah dengan adanya tumpukan utang.

Negara terakhir yang tercatat terancam bangkrut adalah Turki. Turki terjebak krisis ekonomi imbas terjadi inflasi sebesar 60 persen. Selain itu mata uang Turki yatu lira jatuh ke posisi terendah. Kondisi ini diperparah dengan utang luar negeri Turki yang mencapai 54 persen dari PDB.


Baca juga artikel terkait SRI LANKA BANGKRUT atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Anggun P Situmorang

DarkLight