Menuju konten utama

8 Juni Kisah Wafatnya Nabi Muhammad SAW, Apa Penyebab Kematiannya?

Kisah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 8 Juni 832 M dan penyebab wafatnya Rasulullah SAW.

8 Juni Kisah Wafatnya Nabi Muhammad SAW, Apa Penyebab Kematiannya?
Ilustrasi Muhammad. foto/IStockphoto

tirto.id - Nabi Muhammad SAW wafat pada pada 12 Rabiul Awal 632 Masehi, di mana hari wafatnya ini bertepatan dengan hari kelahirannya 12 Rabiul Awal 571 M.

Muhammad Sallalahu Alaihi Wassalam (SAW) diperingati lahirnya sebab hari lahir dan wafatnya sama, yakni Senin, 12 Rabiul Awal.

“Tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang lahir dan wafatnya sama kecuali Nabi Muhammad SAW,” kata KH Sya’roni Ahmadi seperti dikutip laman NU Online.

Baginda Rasulullah Muhammad wafat saat berada dalam pangkuan sang istri ketiganya, Siti Aisyah di Madinah di kamar Aisyah, yang kini menjadi makam Muhammad.

Penyebab Wafatnya Rasulullah SAW

Saat Nabi berusia 62 tahun (sekitar 570 – 632 M), beliau mengalami sakit kepala dan demam tinggi selama beberapa bulan setelah kepulangannya dari Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji pertama dan terakhirnya.

Nabi mulai sakit pada 29 Shafar tahun 11 Hijrah. Suhu badannya meninggi. Kondisi itu terjadi selama 13 sampai 14 hari. Meski sakit, selama sebelas hari beliau masih sempat mengimami salat berjamaah.

Dalam buku "The Messenger of God Muhammad: An Analysis of the Prophet's Life" disebutkan, beliau wafat pada usia 63 tahun lebih empat hari, di rumah istrinya Aisyah di mana posisi kepalanya bertumpu pada pangkuan Aisyah, dia memintanya untuk membuang barang dagangan terakhirnya (tujuh koin), lalu mengucapkan kata-kata terakhirnya:

"Ya Allah, kepada Ar-Rafiq Al-A'la (sahabat yang agung, tempat tertinggi di surga)."

Haji Terakhir Muhammad SAW

Saat melakukan ibadah Haji terakhirnya, Muhammad SAW menyampaikan khotbah perpisahan yang di dalamnya berisi perintah dan larangan dari Allah.

Muhammad lalu mendapatkan wahyu terakhir kalinya yang disampaikan Malaikat Jibril pada tahun 632 M melalui Surah Al-Ma'idah ayat 3:

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang," (QS. Al-Maidah: 3).

Dalam surah tersebut jelas menyatakan bahwa Allah telah meridai Islam sebagai agama Muhammad dan sebagai agama yang sempurna dan disempurnakan, serta pernyataan bahwa nikmat kehidupan yang diberikan Tuhan kepada Muhammad telah dicukupkan.

Peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan Haji Perpisahan (Haji Wada'). Sebelumnya Muhammad telah menaklukan seluruh Semenanjung Arabia, dan menjadikannya sebagai negara di bawah pengaruh Islam.

Saat ini, makam Muhammad termasuk ke dalam Masjid Nabawi, tepatnya di bawah naungan Kubah Hijau, sebuah ikon yang menjadi ciri khas Masjid Nabawi.

Muhammad memberikan dua petunjuk yang dijadikan pedoman bagi manusia untuk selama-lamanya, yakni Al-Qur'an dan Hadis. Ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW kini digunakan sebagai petunjuk bagi umat Muslim.

Setelah kematian Rasulullah SAW, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh Empat Sahabatnya, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib sebagai Khulafa'ur Rasyidin.

Dua di antara mereka, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab dimakamkan di samping makam Muhammad, masing-masing tahun 634 dan 644 M.

Baca juga artikel terkait NABI MUHAMMAD SAW atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Fitra Firdaus