Menuju konten utama

7 Fakta Terkait Mitos Seputar Fenomena Supermoon 2018

Terlepas dari keindahannya, supermoon kerap diidentikkan dengan segala kegilaan dan aksi kejahatan, bahkan dapat menghancurkan bumi.

7 Fakta Terkait Mitos Seputar Fenomena Supermoon 2018
Seorang pria berjalan di atas Jembatan Sydney Harbour saat supermoon memasuki fase terakhir di Sydney, Australia. ANTARA FOTO/REUTERS/Jason Reed.

tirto.id - Usai muncul mengawali Tahun Baru 2018, supermoon diprediksi akan kembali menyapa pada 31 Januari mendatang. Sebagian orang menyebut fenomena ini sebagai blue moon, yang rata-rata terjadi dua setengah tahun sekali.

Supermoon ini terjadi ketika bulan berada di posisi orbit terdekatnya dengan bumi. Karena orbit bulan berbentuk elips, satu sisi (apogee) berjarak sekitar 30.000 mil (50.000 km) lebih jauh dari Bumi daripada sisi yang lain (perigee).

Perigee terdekat bulan penuh tampak sekitar 14% lebih besar dan 30% lebih terang dari yang terjadi di dekat apogee orbit bulan. Karenanya, orang-orang menantikan momen ini, di mana bulan terlihat sangat dekat dengan bumi, besar, dan terang, hingga rasa-rasanya bisa disentuh.

Terlepas dari keindahannya, supermoon kerap diidentikkan dengan segala kemunculan vampir, berubahnya sosok baik menjadi jahat, kegilaan, epilepsi, bunuh diri, dan pembunuhan. Berikut tujuh fakta seputar bulan purnama super ini beserta penjelasan ilmiahnya, seperti dilansir Space.com.

  • Supermoon tidak akan menghancurkan bumi
Terlepas dari klaim beberapa orang di seluruh dunia, supermoon tidak akan membuat Bumi hancur. NASA menjelaskan, fenomena ini biasa terjadi karena bulan tepat berada pada orbit elips dalam posisi terdekat sehingga tidak akan keluar dari orbitnya dan merusak Bumi.

  • Supermoon tidak akan menimbulkan kegilaan
Studi telah menunjukkan bahwa bulan purnama apapun tidak mempengaruhi perilaku manusia. Bulan purnama super pun tidak akan menyebabkan lebih banyak orang masuk rumah sakit jiwa, gangguan kejiwaan, pembunuhan, atau kejahatan lainnya.

Mengutip Live Science, sebuah penelitian pada 2010 yang menggunakan data kepolisian, astronomi, dan cuaca dari San Antonio, Texas, tidak menemukan kaitan bahwa fase bulan mempengaruhi jumlah kejahatan yang dilaporkan ke polisi. Penelitian ini dipublikasikan di Journal of Criminal Justice.

  • Tidak semua Supermoon ukurannya sama
Perigee antara Bumi dan bulan dapat bervariasi sebesar diameter Bumi pada bulan tertentu. Meskipun angkanya terlihat besar, rata-rata jarak bulan sekitar 30 kali diameter Bumi.

Tak hanya itu, gravitasi matahari juga dapat menarik bumi dan bulan ke arah yang lebih dekat, sehingga menyebabkan variasi orbital.

  • Supermoon tampak lebih besar pada musim dingin
Bulan purnama super ini bisa terlihat lebih besar pada musim dingin. Bumi paling dekat dengan matahari pada bulan Desember setiap tahun, yang berarti bahwa gravitasi bintang akan menarik bulan lebih dekat ke planet ini. Karena efek ini supermoon terbesar terjadi di musim dingin.

  • Supermoon tak akan banyak mempengaruhi gelombang laut
Supermoon dapat sedikit mengubah pasang surut air laut, tapi jelas tidak akan menyebabkan bencana alam, kata para ahli. Fase penuh bulan biasanya menyebabkan pasang surut yang lebih tinggi, namun supermoon tidak menciptakan perbedaan yang signifikan.

Ilmuwan menganggap diri mereka beruntung jika dapat melihat perbedaan tingkat air pasang. Biasanya, supermoon menyebabkan air pasang berubah kurang dari satu inci.

  • Supermoon akan semakin kecil
Bulan purnama super ini akan mengecil di masa mendatang karena bulan perlahan mendorong dirinya keluar dari orbit Bumi. Dengan kata lain bulan bergerak 3,8 cm lebih jauh dari Bumi setiap tahunnya.

Para ilmuwan memperkirakan pada saat pembentukan, bulan berada pada jarak sekitar 14.000 mil (22.530 kilometer) dari Bumi. Namun sekarang, jaraknya sekitar 238.900 mil (384.402 kilometer).

  • Supermoon terjadi setiap tahun
Supermoon terjadi setiap tahun dan dapat dilihat dari belahan utara dan selatan. NASA mencatat, fenomena langka ini terjadi dua kali pada 2018: 1 Januari dan 31 Januari.

Baca juga artikel terkait SUPERMOON atau tulisan lainnya dari Yuliana Ratnasari

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari