Aris Santoso
Peneliti militer, terutama TNI AD. Bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

67 Tahun Kopassus: Misteri dan Narasi Korps Baret Merah

16 April 2019
Dibaca Normal 5 menit
Baru-baru ini terbit biografi Letjen (Purn.) Achmad Wiranatakusumah di bawah judul Komandan Siluman Merah. Achmad Wiranatakusumah adalah perwira senior Kodam Siliwangi yang berasal dari Generasi 45. Salah satu bagian menarik dari biografi tersebut adalah testimoni Achmad Wiranatakusumah soal pertemuannya dengan Idjon Djanbi (R.B. Visser), perwira keturunan Belanda yang dikenal sebagai Komandan Korps Baret Merah yang pertama (1952-1956).

Dalam teks yang selama ini beredar, nama Achmad Wiranatakusumah tidak pernah disebut-sebut dalam proses pendirian Kopassus. Dengan kata lain, pengakuan Achmad Wiranatakusumah masih perlu dielaborasi lebih lanjut. Salah seorang saksi pendirian Kopassus yang masih hidup adalah Lettu Inf (Purn.) Aloysius Sugijanto. Namun karena faktor usia, sudah sulit untuk dimintai konfirmasi darinya.

Dalam biografi tersebut terdapat beberapa foto dokumentasi Mayor Idjon Djanbi mengenakan seragam PDL (pakaian dinas lapangan) dengan menggenggam tongkat komando. Komandan pasukan dengan membawa tongkat komando adalah tradisi tentara Inggris. Djanbi memang banyak mengadopsi tradisi Inggris, termasuk warna baret (merah) bagi satuan yang baru dibentuknya. Pada dekade 1950-an itu, bagi komandan brigade atau resimen, masih belum umum membawa tongkat komando.

Kopassus adalah sebuah narasi besar yang sudah menjadi perhatian publik sejak didirikan pada 16 April 1952, tepat hari ini 67 tahun lalu. Sehingga nama-nama para pendirinya pun selalu menarik untuk dibahas, khususnya figur Idjon Djanbi. Keterangan singkat dari biografi tersebut belum membantu membuka teka-teki kehidupan Idjon Djanbi selama ini.


Enigma Idjon Djanbi

Dari teks yang beredar selama ini, ada tiga tokoh utama pendiri Korps Baret Merah, yaitu Kolonel (Purn.) A.E. Kawilarang, Brigjen (Anumerta) Ign. Slamet Rijadi, dan Mayor (Purn.) M. Idjon Djanbi. Dari tiga nama tersebut, praktis hanya Kawilarang yang dikenal baik oleh publik, karena pernah menjadi Panglima Siliwangi. Sementara dua figur yang lain praktis kurang dikenal, khususnya bagi generasi milenial. Itu bisa dipahami karena periode dua tokoh terakhir ini memang terbilang pendek.

Slamet Rijadi gugur dalam usia masih sangat muda, pada sebuah operasi penumpasan RMS di Ambon pada November 1950. Demikian juga dengan Idjon Djanbi, yang hanya sebentar memimpin satuan embrio Kopassus (1952-1956). Selepas itu namanya seolah-olah ditelan zaman. Slamet Rijadi masih lebih baik. Namanya diabadikan sebagai nama jalan yang membelah Kota Solo, dari mana Slamet Rijadi berasal.


Perjalanan hidup Idjon Djanbi yang selalu diliputi kabut misteri seolah-olah merupakan refleksi karakter Kopassus itu sendiri: bahwa sebagai pasukan khusus tidak semua informasi terkait satuan bisa diakses publik. Sejak awal didirikan, pasukan ini memang diproyeksikan dalam operasi-operasi khusus (bersifat rahasia), dengan demikian segala informasi terkait operasi sangat ditutup rapat.

Satu hal unik terjadi antara Slamet Rijadi dan Idjon Djanbi. Sejatinya dua orang ini belum pernah jumpa terkait gagasan mewujudkan terbentuknya satuan komando. Keduanya “dipertemukan” melalui prakarsa Kawilarang bersama Aloysius Sugijanto, mantan ajudan Slamet Rijadi.

Kawilarang memerintahkan Sugijanto untuk menemui Idjon Djanbi agar bersedia membantu pembentukan satuan komando. Kawilarang sendiri bahu-membahu bersama Slamet Rijadi dalam operasi di Ambon (1950), hingga keduanya sepakat akan membentuk pasukan komando usai operasi.


Pasukan Para Inggris

Masih banyak data diri Idjon Djanbi yang belum terjawab, hingga perlu agenda tersendiri untuk menelusurinya. Tampaknya pada awal-awal pembentukan Kopassus, ada sedikit kekacauan administrasi, sehingga data diri para pendirinya sedikit terabaikan, termasuk Idjon Djanbi sebagai Komandan pertama.

Salah satu contoh, gambar dokumentasi Idjon Djanbi dan komandan berikutnya, Mayor (Purn.) Djaelani, sempat luput dari arsip satuan. Sehingga dicarikan cara untuk mengatasi ketiadaan dokumetasi itu. Pada pertengahan 1960-an Idjon Djanbi dan Djaelani diundang khusus untuk melakukan pemotretan. Mereka mengenakan loreng “darah mengalir” dan Baret Merah (dengan badge versi baru). Pada saat dipimpin Idjon Djanbi dan Djaelani, Kopassus masih menggunakan badge versi lama.

Keterlibatan Idjon Djanbi dalam pembentukan pasukan komando di bawah TT Siliwangi (Tentara dan Teritorium, setingkat Kodam) merupakan cerita tersendiri yang mirip sebuah dongeng. Idjon Djanbi sebelumnya dikenal sebagai perwira pasukan khusus Belanda (Korps Speciale Troepen, KST), yang minta pensiun dini karena konflik dengan koleganya sesama anggota KST, Kapten Raymond Westerling.


Dalam salah satu fase hidupnya, Djanbi sempat bergabung dalam pasukan para Inggris terkenal, The Parachute Regiment, yang kebetulan baretnya berwarna merah. Sampai kini satuan ini masih aktif. Kesan Djanbi yang mendalam terhadap pasukan para Inggris tersebut menjadi inspirasi untuk mengadopsi warna baret pasukan khusus yang ia bentuk. Sekadar diketahui, warna baret KST-KNIL adalah hijau.

Letnan Aloysius Sugijanto juga masuk dalam generasi pertama perwira Komando yang langsung dilatih Idjon Djanbi, bersama Benny Moerdani dan Dading Kalbuadi. Sugijanto sendiri pribadi yang unik, seakan-akan memang ditakdirkan secara alamiah sebagai intelijen.

Nama Sugijanto selalu muncul sejak masih mendampingi Slamet Rijadi, kemudian menjadi perwira kepercayaan Kawilarang setelah Slamet Rijadi gugur. Kelak Sugijanto dikenal sebagai tokoh kunci dalam Opsus (Operasi Khusus), sebuah organisasi intelijen bayangan di bawah Ali Moertopo. Sampai sekarang gambar diri Sugijanto praktis tidak pernah terpublikasi. Jalan hidup Idjon Djanbi dan Sugijanto kebetulan juga mirip, sama-sama diliputi misteri.


Rekonsiliasi Diponegoro dan Siliwangi

Dua perwira yang memimpin operasi penumpasan RMS, Kawilarang dan Slamet Rijadi, bisa disebut komposisi yang unik. Selain sama-sama dikenal sebagai “jago perang”, gabungan keduanya menjadi semacam simbol rekonsiliasi antara pasukan rumpun Diponegoro (Jawa Tengah) dan rumpun Siliwangi (Jawa Barat). Sejarah memang acapkali menemukan tikungan unik seperti ini, yang sama sekali tidak terduga. Dua tahun sebelumnya, seputar Agustus-September 1948, pasukan Diponegoro yang berbasis di Solo terlibat konflik berlarut-larut dengan pasukan Siliwangi yang juga berbasis (sementara) di Solo.

Tentu ada peran pimpinan Angkatan Darat saat itu, seperti Kolonel A.H. Nasution (KSAD, patron perwira Siliwangi) dan Kolonel Gatot Soebroto (patron perwira Diponegoro), agar Slamet Rijadi dan Kawilarang bisa sama-sama diterjunkan ke Ambon. Dihubungkan dengan konflik antar-pasukan di Solo tahun 1948, posisi Slamet Rijadi memang sedikit rumit. Sebab Slamet Rijadi memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Letkol Suadi (Komandan KPPS, Komando Pertempuran Panembahan Senopati). Sementara Suadi dianggap sebagai simpatisan FDR (Front Demokrasi Rakjat) terkait Peristiwa Madiun 1948.

Sebelum menjadi Komandan KPPS, Suadi adalah Komandan Brigade V Solo. Setelah dipromosikan sebagai Komandan KPPS, posisinya selaku Komandan Brigade V digantikan Slamet Rijadi. Dalam posisi inilah Slamet Rijadi memperoleh pangkat overste (setara letkol). Namun ada hikmah tersembunyi di balik ketegangan yang terus-menerus di Solo itu: kompetensi Slamet Rijadi di medan tempur memperoleh apresiasi dari para komandan pasukan Siliwangi.

Kemampuan teknis pertempuran Slamet yang sangat mumpuni masih menjadi misteri. Di zaman Jepang, Slamet tidak bergabung dalam PETA sebagaimana umumnya pemuda pada masa itu. Slamet melanjutkan pendidikan ke SPT (Sekolah Pelayaran Tinggi) Cilacap. Menjadi pertanyaan kita bersama, bila Slamet tidak bergabung dalam PETA, lalu kapan dia belajar teknik militer sehingga bisa tampil menjadi komandan yang sangat disegani di masa Revolusi dan saat operasi di Ambon.

Bergeser ke Panggung Politik

Masa aktif Slamet Rijadi dan Idjon Djanbi memang terbilang singkat, namun meninggalkan kesan demikian mendalam dan nama mereka senantiasa abadi. Dari segi kepangkatan, keduanya tergolong biasa saja. Pangkat efektif Slamet Rijadi adalah letkol, sementara Idjon Djanbi pensiunan mayor. Keduanya adalah figur yang luar biasa, meski pangkat relatif tidak tinggi. Mereka memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki setiap orang atau perwira, yaitu karisma.

Dalam lintasan waktu, masyarakat bisa menjadi saksi bahwa salah satu fenomena Kopassus yang sangat menonjol adalah secara kelembagaan ia banyak melahirkan figur-figur karismastik yang ikut memberi warna pada politik Indonesia kontemporer. Sebagaimana kita lihat hari ini, ketika beberapa mantan Komandan Korps Baret Merah mengisi panggung politik terkait pilpres dengan peran masing-masing. Sebut saja Agum Gumelar (Akmil 1968), Prabowo Subianto (1974), Muchdi Purwoprandjono (1970), dan Lodewijk Paulus (1981). Belum lagi bila kita menyebut figur seperti Luhut Binsar Panjaitan (1970), yang seolah-olah diposisikan sebagai “presiden bayangan” dalam rezim Jokowi.

Perilaku politik para mantan Danjen Kopassus atau figur kuat lainnya bisa jadi merupakan kajian menarik tersendiri. Salah satu yang mengemuka adalah berkat kompetensi dan kemampuan yang melekat pada mereka, para eks Baret Merah itu harus mencari palagan lain untuk menyalurkan tenaga dan pikiran. Mereka tidak mungkin berada di pasukan selamanya.

Palagan itu tentu saja panggung politik nasional. Mungkin akan terlalu panjang bila kita membahas satu per satu figur Baret Merah. Sekadar contoh, kita bisa pilih secara acak, sebut saja Sintong Panjaitan (Akmil 1963, Danjen Kopassus 1985-1987) dan Doni Monardo (Akmil 1985, Danjen Kopassus 2015-2016).

Salah satu fase paling menarik dari perjalanan Sintong adalah bagaimana cara dia tersingkir dari elite TNI. Begitu mahalnya “harga” seorang Sintong, sehingga untuk menyingkirkannya perlu disiapkan momen khusus, dalam hal ini Peristiwa Santa Cruz di Dili (November 1991). Peristiwa tersebut merupakan cara untuk menghentikan laju karier Mayjen Sintong Panjaitan (Pangdam IX/Udayana) yang sudah digadang-gadang sebagai calon KSAD berikutnya, menggantikan Jenderal Edi Sudrajat (Akmil 1960).


Kemungkinan memang ada provokasi atau rekayasa atas peristiwa itu agar meledak, sehingga cukup alasan untuk mendepak Sintong. Mengingat terjadi persaingan antara Wismoyo Arismunandar (Akmil 1963, kubu Cendana) dengan Sintong Panjaitan (kubu Benny Moerdani) untuk meraih jabatan KSAD. Kebetulan Wismoyo juga mantan Danjen Kopassus, yang kemudian digantikan Sintong.

Pamor Sintong kala itu memang luar biasa. Publik sudah menduga bahwa kariernya bakal terus berlanjut. Publik juga paham soal persaingan antara Wismoyo dan Sintong, termasuk rumor bagaimana Wismoyo di-back up Cendana. Namun sungguh di luar perkiraan, Sintong bakal terdepak dengan cara setragis itu.

Untuk figur kekinian, perwira Baret Merah yang bisa dianggap fenomenal adalah Doni Monardo. Salah satu indikatornya adalah Doni bisa dekat pada dua presiden sekaligus: SBY dan Jokowi. Ketika akan diangkat sebagai Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) baru-baru ini, secara regulasi sebenarnya Doni tidak bisa dilantik. Doni terbentur pada status dirinya yang masih perwira aktif. Namun begitulah, bukan Doni yang harus menyesuaikan pada regulasi, justru sebaliknya. Pelantikan Doni diundur sejenak, agar cukup waktu untuk menyiapkan regulasi yang lebih sesuai.

Tidak banyak perwira yang memperoleh privilese seperti Doni. Terlebih di tengah persaingan ketat memperebutkan jabatan di lingkungan TNI, khususnya bagi posisi jenderal, yang jumlahnya tidak sebanding dengan tersedianya SDM. Hingga problem surplus jenderal di jajaran TNI sempat ramai diberitakan.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight