1998: Tuntutan Reformasi, Perubahan Kekuasaan, Penembakan

Kliping koran April 1998. FOTO/Kompas/(11/04/1998)
Kliping koran April 1998. FOTO/Kompas/(15/04/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Media Indonesia/(17/05/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Angkatan Bersenjata/(19/05/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Media Indonesia/(20/05/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Merdeka/(21/05/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Suara Pembaruan/(21/05/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Media Indonesia/(22/05/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Republika/(22/05/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Kompas/(23/05/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Kompas/(23/05/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Kompas/(24/05/1998)
Kliping koran Mei 1998. FOTO/Suara Pembaruan/(24/05/1998)
Kliping koran juni 1998. FOTO/Kompas/(04/06/1998)
Kliping koran Juli 1998. FOTO/Media Indonesia/(03/07/1998)
Kliping koran Agustus 1998. FOTO/Media Indonesia/(13/08/1998)
Kliping koran Agustus 1998. FOTO/Media Indonesia/(24/08/1998)
Kliping koran September 1998. FOTO/Media Indonesia/(22/09/1998)
Kliping koran November 1998. FOTO/Media Indonesia/(14/11/1998)
Bagaimana rekaman media mengenai peristiwa politik sepanjang tahun 1998?
24 Mei 2017
Bulan Mei 1998. Indonesia, khususnya Ibukota Jakarta, bukan wajah yang hendak kita ingat.

Saat itu ingatan paling getir adalah serangkaian peristiwa berdarah, yang menjadi memori kolektif sebagian besar warga negara ini. Toko dijarah, jalanan terbakar, pembunuhan, pemerkosaan. Dan kita tahu, hingga hari ini, orang-orang yang paling bertanggung jawab atas tragedi ini belum ditangkap.

Sejarah memberikan kita keleluasaan untuk mencerna bagaimana lahirnya tragedi Mei 1998.

Di tengah ingar-bingar aksi unjuk rasa menurunkan Soeharto, presiden tua yang berkuasa selama tiga dekade lewat pembantaian berdarah, sepanjang tahun 1998 adalah rekaman kekacauan, termasuk penembakan terhadap mahasiswa di Universitas Trisakti dan apa yang disebut Tragedi Semanggi pada November.

Itu adalah masa penuh gejolak. Sebagaimana semua orang tahu: krisis keuangan di Asia Tenggara menghajar Indonesia, yang sangat tergantung pada arus modal asing, fondasi yang membangun pemerintahan Orde Baru dan dinikmati oleh segelintir orang di lingkaran Keluarga Cendana. Itu fondasi yang sama yang dibekingi oleh militer sebagai tukang gebuk setiap kritik, dari Aceh hingga Papua, yang kekayaannya diisap buat sebesar-sebesarnya kemakmuran elite penguasa.

Dari perubahan politik yang besar di Jakarta, seperti bara dalam sekam, menjalar ke daerah-daerah lain, betapapun ada perayaan bahwa sang diktator telah berhenti dari kursinya.

Di Jakarta, prahara itu berupa pembakaran pertokoan, penjarahan, hingga perburuan etnis Tionghoa.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Indonesia tak pernah menghukum para jagal dan masih dibelit oleh sistem impunitas, sejarah mengingatkan kita kembali bahwa tragedi Mei dan sesudahnya adalah warisan lama kita, yang terus-menerus menghantui kita sebagai bangsa.

Inilah sedikit rekaman wajah media atas hari-hari dan bulan-bulan sepanjang tahun 1998. Ini adalah usaha untuk menjegal impunitas, membawa kembali nama-nama untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Dan, mestinya, kita tak pernah lupa dan menolak lupa.

Kita tahu tahun 1998 adalah awal dari akhir sebuah era, tetapi era Orde Baru itu, dengan orang-orangnya yang menikmatinya, tak pernah benar berubah hingga 19 tahun kemudian. Sejumlah rekomendasi dan tuntutan untuk keadilan atas kejahatan kemanusiaan masa lalu, berjalan sangat lambat, bila bukan berhenti sama sekali.

Sebagaimana pengarang Pramoedya Ananta Toer berkata dalam Saya Terbakar Amarah Sendirian: “Setiap ketidakadilan harus dilawan, walaupun hanya dalam hati.”