1.400 Artis Desak Pemerintah Inggris Setop Kerusakan Industri Musik

Oleh: Alexander Haryanto - 2 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Surat terbuka kepada pemerintah itu sekaligus menuntut tindakan nyata untuk mencegah "kerusakan parah" dari industri musik setelah kebijakan karantina wilayah akibat pandemi.
tirto.id - Lebih dari 1.000 artis mengkampanyekan gerakan #LetTheMusicPlay guna mendesak Pemerintah Inggris menghentikan kerusakan dari industri konser musik akibat lockdown (karantina wilayah) pandemi corona COVID-19.

Seperti dilansir NME, gerakan itu juga didukung oleh artis dan band besar seperti Radiohead, The Cure, Nick Cave, PJ Harvey, Johnny Marr, Dizzee Rascal, Primal Scream, Paul McCartney, Dua Lipa, The Rolling Stones dan Coldplay.

Nama-nama besar itu juga ikut menandatangani surat terbuka kepada pemerintah sekaligus menuntut tindakan nyata untuk mencegah "kerusakan parah" dari industri musik setelah kebijakan karantina wilayah akibat pandemi.

Pada bulan lalu, ratusan venue musik akar rumput di Inggris telah menandatangani surat terbuka kepada pemerintah, yang menyerukan adanya dana darurat sebesar 50 juta paun, guna membantu menopang industri mereka yang kemungkinan akan mengalami macet hingga Oktober mendatang karena lockdown.

Music Venue Trust (MVT), salah satu gerakan yang bertujuan menyelamatkan industri musik Inggris, telah menulis surat yang ditandatangani lebih dari 560 venue musik, yang menyerukan injeksi uang tunai untuk menyelamatkan industri secara finansial.

Dalam pernyataannya, MVT mengatakan bahwa venue-venue musik tersebut kemungkinan akan tetap “hibernasi” hingga Oktober, dan jika pun telah diperbolehkan kembali di buka harus mematuhi protokol jaga jarak 2 meter. Menurut MVT, tindakan ini dapat mematikan industri musik secara finansial.



Sekarang, lebih dari 1.400 seniman termasuk Liam Gallagher, Rita Ora, Sam Smith dan Lewis Capaldi telah menandatangani surat terbuka kepada Sekretaris Negara untuk Bidang Digital, Budaya, Media dan Olahraga, Oliver Dowden.

Tujuan dibuatnya surat terbuka itu untuk menunjukkan betapa pentingnya industri musik live di Inggris. Sekaligus untuk memastikan bahwa Pemerintah tidak dapat mengabaikan musik live.

"Pertunjukan yang luar biasa tidak terjadi tanpa tim yang luar biasa di belakang panggung, tetapi mereka semua akan keluar dari pekerjaan kecuali kita bisa kembali ke sana melakukan apa yang kita bisa," kata Gallagher.

Penyelenggara Glastonbury Emily Eavis menambahkan: "Jika Pemerintah tidak meningkatkan dan mendukung seni Inggris, kita bisa kehilangan aspek penting dari budaya kita selamanya."

Penyelenggara mengatakan bahwa: "50 persen dari seluruh tenaga kerja menghadapi redundansi, 90 persen dari tempat akar rumput menghadapi penutupan, banyak operator menghadapi kebangkrutan dan telah dibatalkan pada musim panas ini dan banyak festival akan berjuang untuk kembali tahun depan."


Baca juga artikel terkait INDUSTRI MUSIK atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Agung DH
DarkLight