Hari Pramuka 2022

14 Agustus Hari Apa? Ini 3 Pahlawan RI yang Bermula dari Pramuka

Penulis: Iswara N Raditya, tirto.id - 14 Agu 2022 11:16 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Cukup banyak tokoh bangsa bahkan pahlawan nasional RI yang mengawali kiprah dari Pramuka.
tirto.id - Setiap tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka. Ternyata, cukup banyak tokoh bangsa bahkan pahlawan nasional Republik Indonesia (RI) yang mengawali kiprah dari Kepanduan, cikal-bakal Praja Muda Karana (Pramuka). Ada Jenderal Sudirman, Bung Tomo, Slamet Riyadi, dan lainnya.

Gerakan Pramuka diresmikan oleh pemerintah RI pada 14 Agustus 1961. Gagasannya bermula dari ide Presiden Sukarno yang ingin menyatukan seluruh gerakan kepanduan di Indonesia. Misi utama Pramuka adalah untuk mendidik pemuda dan pemudi Indonesia sejak dini demi meningkatkan rasa cinta tanah air dan bela negara.

Sultan Hamengkubuwana (HB) IX menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama dan terpilih kembali sampai 4 periode selanjutnya hingga tahun 1974. Jasa-jasa HB IX dalam memperkenalkan Pramuka Indonesia hingga ke luar negeri membuat Raja Yogyakarta ini dianugerahi gelar Bapak Pramuka Indonesia.

Adapun gerakan kepanduan sudah dikenal sejak masa kolonial Hindia Belanda. Kepanduan menjadi salah satu sayap penting bagi organisasi pergerakan nasional, dari Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Jong Java, dan seterusnya.

Dari gerakan Kepanduan inilah muncul tokoh-tokoh pergerakan nasional yang menyemai gagasan nasionalisme dan pada akhirnya ada yang turut mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia. Siapa saja mereka?


Panglima Besar Jenderal Sudirman

Sosok legendaris yang menempati pucuk pimpinan angkatan bersenjata Republik Indonesia era awal ini lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, tanggal 24 Januari 1916. Sebelum berkecimpung di ranah militer, Sudirman merupakan anggota Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).

Soedarsono Mertoprawiro dalam Pembinaan Gerakan Pramuka (1992) menjelaskan, KBI adalah gabungan dari beberapa gerakan kepanduan yang berafiliasi dengan organisasi-organisasi kebangsaan di era pergerakan nasional.

Bukan hanya KBI saja gerakan kepanduan yang membentuk jati diri Sudirman. Dikutip dari Speeches That Changed The World (2006) karya Simon Montefiore, Sudirman kemudian bergabung dengan gerakan kepanduan Hizboel Wathan (HW), organ Muhammadiyah. Ia bahkan menjadi tokoh penting HW cabang Cilacap.

Pengalaman dan keterampilan yang diperoleh Sudirman dari kepanduan nantinya akan sangat berguna bagi dirinya ketika mengambil jalan kemiliteran. Pada era pendudukan Jepang sejak 1942, Sudirman menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA).

Setelah Indonesia merdeka, Sudirman terpilih sebagai pemimpin tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Panglima Besar Jenderal Sudirman menjadi salah satu tokoh utama dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.



Sutomo alias Bung Tomo

Seperti diketahui, Sutomo atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bung Tomo adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam perang mempertahankan kemerdekaan, khususnya di Surabaya. Ia membakar semangat arek-arek Suroboyo saat meletusnya Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 melawan pasukan Inggris atau Sekutu.

Di masa mudanya, Bung Tomo adalah anggota Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Dikutip dari buku Mengungkapkan Kembali Semangat Perjuangan 1945 (1975), arek Suroboyo kelahiran 3 Oktober 1920 ini bergabung dengan KBI sejak usia 14 tahun.

Banyak keterampilan dan pendidikan karakter yang diperoleh Sutomo berkat aktifitasnya bersama KBI, dari strategi bertahan hidup di alam, cekatan, berprinsip, pemberani, hingga cinta tanah air yang kuat.


Bahkan, Sutomo pernah meraih prestasi membanggakan. Pada usia 17 tahun, ia lulus ujian Pandu Kelas 1. Kala itu, hanya ada 3 orang yang mampu meraih predikat tersebut dan Sutomo adalah salah satunya.

“Aku ini seorang pandu sejati,” tandas Sutomo seperti yang dituliskan sang istri, Sulistiana Sutomo, melalui buku bertajuk Bung Tomo Suamiku: Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawananmu (2008).

Brigjen (Anumerta) Ignatius Slamet Riyadi

Ignatius Slamet Riyadi adalah salah satu sosok prajurit RI yang berperan penting selama masa perang mempertahankan kemerdekaan sejak 1945. Setelah dilakukan penyerahan kedaulatan pada 1949, Slamet Riyadi kembali berjuang dalam memerangi gerakan-gerakan separatisme demi menjaga keutuhan NKRI.

Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, tanggal 26 Juli 1927, Slamet Riyadi memperoleh bekal keterampilan yang nantinya berguna dalam ketentaraan dari gerakan kepanduan, demikian dipaparkan oleh Julius Pour dalam Slamet Riyadi: Dari Mengusir Kempetai sampai Menumpas RMS (2008).

Saat menempuh sekolah dasar di kota kelahirannya, Slamet Riyadi sudah menjadi anggota Pandu Turno Kembang (PTK), gerakan kepanduan yang dimotori oleh para abdi dalem Kasunanan Surakarta Hadiningrat.


Beranjak remaja, Slamet Riyadi kemudian bergabung dengan KBI. Ia ingin mengembangkan kemampuannya sebagai pandu setelah mendapatkan keterampilan awal dari PTK.

Dari sinilah keterampilan sekaligus kepribadian Slamet Riyadi terbentuk dan berkembang semakin kuat. Hingga akhirnya ia masuk sekolah pelaut pada masa pendudukan Jepang di Indonesia sejak tahun 1942.

Slamet Riyadi kemudian bergabung dengan angkatan perang RI dan turut berjuang selama masa revolusi fisik (1945-1949), termasuk dalam perlawanan terhadap Agresi Militer Belanda I dan II serta serangan umum di Kota Solo pada 1949.

Berikutnya, Slamet Riyadi terus terlibat dalam operasi-operasi militer, seperti penindakan terhadap Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat, menghadapi pasukan Andi Azis di Makassar, hingga Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon.

Saat berjuang memberantas upaya pemberontakan RMS itulah Slamet Riyadi wafat sebagai kusuma bangsa. Tanggal 4 November 1950, ia gugur setelah diberondong peluru musuh di depan gerbang Benteng Victoria Ambon.


Baca juga artikel terkait HARI PRAMUKA 2022 atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Addi M Idhom

DarkLight