130 Tahun Coca-Cola Berkutat dengan Isu Kesehatan

Infografik Always coca cola
Truk tua Coca cola. Getty Images/iStock Editorial
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 20 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Isu kesehatan telah menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnis Coca-Cola, bahkan sejak penemuan resepnya 131 tahun yang lalu.
tirto.id - John Pemberton adalah veteran Perang Sipil Amerika dari kubu Konfederasi alias pihak yang kalah. Kehidupan Pemberton kemudian memburuk karena kecanduan morfin. Morfin kerap dipakai untuk meringankan sakit selama perang atau kadang dijadikan bahan campuran untuk obat. Ini adalah isu kesehatan pertama yang jadi bibit kelahiran salah satu produk minuman paling terkenal di era modern: Coca-Cola.

Berkaca dari kondisinya sendiri, Pemberton kemudian meracik obat pribadi sekaligus mencoba bisnis farmasi. Sayang, bisnisnya gagal melulu. Kemudian ia menyadari bahwa orang-orang AS di akhir abad 19 menyenangi minuman soda. Ia lalu meracik resep minuman ringannya sendiri di laboratorium pribadinya, Pemberton's Eagle Drug and Chemical House, di Columbus, Georgina. Resep pertamanya berbentuk minuman anggur dengan campuran koka.

Anggur Koka Perancis buatannya itu kemudian ia daftarkan secara resmi pada tahun 1885. Pada tahun 1886 muncul larangan menjual minuman beralkohol jenis anggur koka dari pemerintah Atlanta dan Fulton. Pemberton mengakalinya dengan menghilangkan kandungan alkohol lalu mencampur air berkarbonisasi dengan sari kacang kola (yang jadi sumber kafein) dengan daun koka.

Pemberton menamai resep tersebut Coca-Cola. Sebagaimana dicatat World of Coca-Cola, mitra dan pemegang buku catatan bisnis Pemberton, Frank M. Robinson, juga punya kredit atas penamaan Coca-Cola. Ia merancang merek dagang yang masih digunakan hingga hari ini.

Jacob's Pharmacy di Georgia, Atlanta, jadi toko pertama yang mau menjual Coca-Cola yang awalnya dipromosikan sebagai obat seharga lima sen per gelas dan pengunjung bisa mendapatkannya di bagian penjualan soda atau yang dikenal dengan air mancur soda (soda fountains). Tak butuh waktu lama bagi Coca-Cola untuk meraih popularitas sebab saat itu ada kepercayaan bahwa air berkarbonisasi dinilai baik untuk kesehatan.

Pemberton mengklaim bahwa produknya bisa menyembuhkan banyak penyakit seperti impotensi, sakit kepala, gangguan saraf, dan gangguan pencernaan—meski dikabarkan tak menyertakan sumber penelitian yang benar-benar valid dan independen. Pemberton juga mengkalim candu morfinnya bisa sembuh karena mengonsumsi Coca-Cola. Iklan pertama untuk minuman tersebut ditayangkan pada 29 Mei 1886 di Jurnal Atlanta.

Pemberton meninggal pada tahun 1888, dua tahun usai penemuan Coca-Cola. Saham perusahaannya dijual ke beberapa orang, paling banyak jatuh ke tangan Asa G. Candler. Empat tahun berselang Candler mendirikan The Coca-Cola Company (perusahaan yang dikenal hingga kini). Candler berjasa mengubah cita rasa Coca-Cola jadi lebih nikmat dan mulai berupaya untuk mengganti citranya dari minuman obat menjadi minuman ringan biasa yang menyegarkan.

Coca-Cola memulai pembotolan produknya sejak 1891, sementara dalam bentuk kaleng pertama kali muncul pada tahun 1955. Pada tahun yang dikenal sebagai era kelahiran rock and roll itu, bisnis Coca-Cola telah berkembang dengan pesat dan jangkauan distribusinya menjangkau banyak wilayah di Amerika Serikat.

Abad 20 adalah masa keemasan perusahaan tersebut hingga bisa menjangkau pasar luar negeri. Terhitung sejak 2013, Coca-Cola telah memasarkan produknya di lebih dari 200 negara dan orang-orang sedunia kini mengonsumsi sedikitnya 1,9 miliar porsi Coca-Cola dari segala varian tiap harinya. Berdasarkan studi Interbrand, Coca-Cola konsisten menempati posisi ketiga dalam daftar merek global paling berharga selama tiga tahun berturut-turut (2014-2016).

Coca-Cola kini menjadi perusahaan minuman ringan paling populer sedunia. Pesaing utamanya, Pepsi, selalu keteteran saat menghadapi kedigdayaan Coca-Cola di pasar internasional. Perusahaan telah berkembang sedemikian rupa dan telah menelurkan kurang lebih 160 jenis produk. Pencapaian yang membuat Forbes mendaulat Coca-Cola sebagai salah satu perusahaan dunia paling inovatif.



Gegara Gula, Timbul Propaganda

The Coca-Cola Company boleh jadi merahasiakan resepnya secara resmi. Namun, sebagaimana nasib beberapa perusahaan besar lain, resep rahasia Coca-Cola bocor. Bahan-bahannya telah diketahui publik sejak awal 1990-an atau saat perusahaan menerbitkan buku For God, Country & Coca-Cola. Sang penulis, Mark Pendergrast, tak sengaja melihat resep Coca-Cola di buku formula milik Pemberton.

Kritik yang paling sering dilancarkan pada Coca-Cola adalah apa yang terkandung di dalam minumannya. Dalam catatan Departemen Pertanian AS, satu kaleng Coca-Cola standar mengandung 38 gram gula. Angka ini termasuk tinggi dan banyak pihak yang menilai perlu perhatian khusus sebab ada sebagian masyarakat dunia yang mengonsumsi Coca-Cola untuk minuman sehari-hari seperti halnya mengonsumsi air mineral.

Menurut penelitian Harvard School of Public Health pada 2015, “orang yang mengonsumsi 1-2 kaleng minuman bergula tiap harinya akan terkena risiko 26 persen lebih tinggi untuk penyakit diabetes tipe 2”. Sementara itu Medical News Today pernah melaporkan sebuah studi yang mengklaim bahwa 184.999 kematian warga dunia tiap tahun adalah sebagai dampak dari konsumsi minuman bergula seperti Coca-Cola dan sejenisnya.

Memasuki abad-21, kampanye untuk berhenti mengonsumsi minuman ringan dengan kandungan gula tinggi terus bermunculan. Salah satunya tentu saja menyasar Coca-Cola. Kini, tak sulit menemukan riset yang menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis berkarbonisasi seperti Coca-Cola lebih punya dampak buruk untuk masa depan yang bersangkutan.


Kampanye ini menuai keberhasilan, dibantu dengan penyebar luasan sejumlah riset yang menyatakan bahwa penyakit obesitas dan diabetes di AS makin mengkhawatirkan. Dalam survei Gallup dua tahun lalu, misalnya, ditemukan bahwa 60 persen rakyat AS mengaku sedang dalam upaya menghindari minum minuman bersoda.

Coca-Cola dan perusahaan minuman soda lain tahu akan hal ini. Dalam laporan The Guardian pada 2015 lalu, disebutkan bahwa laporan tahunan Coca-Cola dalam sepuluh tahun terakhir kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS tercantum obesitas dan konsekuensi kesehatan lain sebagai ancaman terbesar bagi perusahaan. Coca-Cola pun mengakalinya dengan pemasaran yang intensif, membuat Coca-Cola rendah gula, lobi-lobi, serta kampanye tandingan dengan modal duit yang tak sedikit.

Salah satu kampanye tandingan yang pernah dilancarkan Coca-Cola yakni dengan cara mendanai organisasi Global Energy Balance Network. Mereka bertugas mempromosikan ide pencegahan obesitas yakni dengan tak usah repot-repot mengurangi porsi makan atau porsi minum soda, melainkan cukup dengan lebih aktif bergerak atau berolahraga. Ini hanya salah satu contoh sebagaimana mereka meluncurkan produk Diet Coke dengan promosi lebih rendah gula.

Para peneliti dari University of California pada akhir Oktober kemarin mempublikasikan analisisnya dari 60 hasil penelitian yang dilakukan sepanjang periode 2001 hingga 2016 bertemakan kaitan antara konsumsi minuman ringan dengan risiko kesehatan.

Hasilnya: penelitian yang menunjukkan tak ada hubungan antara obesitas, diabetes, dan minuman soda dengan pemanis buatan hampir 100 persen didanai oleh industri minuman ringan itu sendiri. Dari 34 penelitian yang berkesimpulan ada hubungan antara minuman ringan dengan risiko buruknya, hanya satu yang didanai oleh industri tersebut.


Profesor Carl Henegan, Direktur Centre for Evidence-Based Medicine di University of Oxford, berkata pada The Independent bahwa analisis tersebut menambah literasi terkait bias lembaga penelitian atas riset yang mendapat dana dari pelaku bisnis. Pembuat dan penegak kebijakan, katanya, mesti memahami sumber-sumber penelitian yang dipublikasikan ke pubik karena efeknya akhirnya kembali ke publik itu sendiri.

"Kenyataannya saat ini kita sedang dalam perang dengan penyakit diabetes. Di setiap perang ada propaganda. Publik mesti sadar bahwa mereka sedang dimainkan. Jika Anda mengecualikan studi yang didanai oleh industri dan hanya melihat studi yang didanai secara independen, menjadi jelas bahwa minuman bergula manis menyebabkan obesitas dan diabetes,” ujarnya.

Fakta-fakta kesehatan itu masih akan menjadi "musuh besar" Coca-Cola di masa mendatang.

Baca juga artikel terkait THE COCA-COLA COMPANY atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight