12 Warga Gunungkidul DIY Suspect Antraks, 1 Meninggal Dunia

Oleh: Irwan Syambudi - 10 Januari 2020
Dibaca Normal 1 menit
12 warga Gunungkidul suspect antraks mendapatkan penanganan medis dari RSUD Wonosari Gunungkidul, namun satu di antaranya meninggal dunia.
tirto.id - Sebanyak 12 warga Gunungkidul suspect antraks mendapatkan penanganan medis dari RSUD Wonosari Gunungkidul, namun satu di antaranya meninggal dunia.

"Sampai dengan hari ini kami RSUD Wonosari merawat 12 pasien yang enam rawat inap yang enam rawat jalan [...] termasuk yang meninggal satu," kata Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Wonosari Gunungkidul Triyani Heny Astuti, Jumat (10/1/2020).

12 pasien yang mendapat perawatan itu, kata Heny, adalah suspect antraks berdasarkan dua kriteria. Pertama pasien berasal dari adanya ternak baik sapi atau kambing yang mati suspect antraks.

"Kedua dengan gejala-gejala yang mengarah ke sana [antraks], sehingga dokter mendiagnosa dia suspect [antraks]," kata dia.

Asal daerah dari 12 pasien suspect antraks tersebut, kata Henny, yakni Desa Gombang, Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Semanu.

"[Satu pasien suspect antraks] yang meninggal dari Gombang," kata Heny.

Pasien suspect antraks yang meninggal tersebut bernama Sukiat (52). Kondisi saat dibawa ke RSUD, kata Heny, memang sudah parah. Dari IGD menyampaikan kondisinya sudah nyeri kuduk sehingga sudah kaku.

"Jadi seperti infeksi meningitis jaringan otak. Diagnosa dokter memang infeksi jaringan otak. Jadi diagnosa meninggalnya meningit atau radang otak dengan suspect antraks," ujar dia.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawati mengatakan telah melakukan sejumlah tindakan. Pertama menyusur lokasi, memeriksa sejumlah orang yang kontak langsung dengan ternak mati baik itu menyentuh, menyembelih, atau mengkonsumsi.

Dari penyusuran tersebut kemudian Dinkes juga mengambil sampel darah 41 orang untuk dicek di laboratorium guna memastikan positif atau negatif antraks

"Kami ambil sampel darah dan sampel luka kalau yang ada lukanya, kemudian sampel luka kami kirim ke BBVET Wates, dan yang serum darah kami kirim ke BBVET Bogor," kata Dewi.

Sementara di dua dusun Desa Gombang tempat terjadinya sapi meninggal mendadak dan satu orang meninggal suspect antraks, pihak Dinkes memberikan antibiotik kepada seluruh warga.

"[Antibiotik] kami beri ke 540 orang, namanya di dalam medis adalah terapi pencegahan," ujarnya.

Kepala Desa Gombang Supriyanto saat dihubungi mengatakan di desanya memang pada pertengahan Desember 2019 terdapat tiga sapi mati mendadak. Dua di antaranya sapi yang mati itu dikubur oleh warga.

"Ada satu ekor sapi yang disembelih. Itu sapi yang mati pertama," kata dia.

Sapi yang disembelih itu adalah milik Sukiat yang belakangan meninggal karena suspect antraks. Daging sapi itu kemudian dibagikan dan dikonsumsi.

Selain ada tiga sapi mati mendadak, kata dia, ada enam orang yang sakit suspect antraks termasuk satu orang meninggal yang disebutnya memang sudah memiliki riwayat sakit.



Baca juga artikel terkait ANTRAKS atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Hard News)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight