Kronik

11 Januari 1684: Sejarah Matinya Si Pemecah-Belah Cornelis Speelman

Oleh: Iswara N Raditya - 11 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Cornelis Speelman merupakan salah satu Gubernur Jenderal VOC paling licik sepanjang sejarah Indonesia.
tirto.id - Cornelis Speelman adalah orang Belanda yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC pada periode 1680 hingga 1684. Pria kelahiran Rotterdam tanggal 11 Januari 1684, tepat 334 tahun silam, ini tercatat dalam sejarah sebagai orang yang piawai menerapkan taktik devide et impera alias strategi pecah-belah untuk menguasai Nusantara.

Speelman pernah mengadu-domba keluarga Mataram di Jawa dengan mempengaruhi Amangkurat II. Ia mendukung Arung Palakka saat berpolemik dengan Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa, dan akhirnya menang lewat Perjanjian Bongaya. Kesultanan Banten pun sempat menjadi korban kelicikannya.

Sosok Speelman meninggalkan seabrek citra buruk lainnya, bahkan setelah ia mati. Ia memenjarakan ribuan orang tanpa bukti kuat, terlibat dalam penjualan budak, sering berbuat curang dalam transaksi perdagangan, juga seorang pemimpin yang korup.

Berikut ini jejak-rekam Cornelis Speelman:

1628
Cornelis Speelman lahir di Rotterdam, Belanda, tanggal 11 Januari 1684. Ia berasal dari keluarga pedagang.

1664-1645
Di usia 16 tahun pada 1644, Speelman ikut berlayar menuju Asia dan sempat bekerja di India. Tahun 1645, ia tiba di Batavia kemudian merintis karier di perusahaan dagang VOC.


1649
Kinerja Speelman dianggap memuaskan dan mendongkrak jenjang kariernya, bahkan di bidang politik. Pada 1649, ia ditunjuk sebagai sekretaris Raad van Indie, Dewan Penasihat Gubernur Jenderal yang juga salah satu lembaga tertinggi dalam struktur VOC. Ia juga kerap menjadi utusan diplomatik VOC.

1657-1661
Speelman menikahi Petronella Maria Wonderaer, putri seorang jenderal Belanda. Pernikahan ini kian memuluskan kariernya di kancah politik. Tahun 1661, Speelman terpilih menjadi Senator Schepen van Batavia, semacam anggota DPRD.


1664

Speelman ditunjuk sebagai Gubernur Koromandel, wilayah koloni VOC yang terletak di tenggara Semenanjung India. Belum lama menjabat, Dewan Direksi VOC menon-aktifkan jabatan Speelman lantaran dugaan perdagangan ilegal dan korupsi.

1667
Meskipun sempat diadili dan dijatuhi sanksi skorsing dan denda, namun karier Speelman tak surut. Kecakapannya ternyata dibutuhkan dan memang ia buktikan. Tahun 1667, Speelman memimpin armada perang VOC ke Sulawesi.


Pasukan tempur VOC pimpinan Speelman membantu pangeran dari Bone, Arung Palakka, yang sedang berseteru melawan Kerajaan Gowa yang dipimpin Sultan Hasanuddin. Berkat kepiawaian Speelman, Hasanuddin terpaksa meneken Perjanjian Bongaya yang merugikan Gowa.

1667
Keberhasilan Speelman di Sulawesi Selatan membuahkan karier gemilang. Ia kemudian diangkat sebagai Komisioner (Commissaris) Ambon, Banda, dan Ternate, serta menjadi anggota Konsul Luar Biasa (Raad Extra-Ordinaris) Dewan Hindia Belanda.


1677
Speelman kembali memimpin ekspedisi militer VOC. Kali ini ke Jawa bagian tengah dan timur untuk membantu Amangkurat II, penguasa Kesultanan Kartasura (Dinasti Mataram) memadamkan pemberontakan Raden Trunojoyo. Lagi-lagi Speelman meraih kejayaan.


1680
Puncak karier politik Speelman terjadi pada 1680. Ia ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal VOC yang berkedudukan di Batavia meskipun jabatan tertinggi ini hanya dinikmatinya selama 4 tahun saja. Pada masa-masa ini, Speelman juga sempat mengadu-domba keluarga Kesultanan Banten.


1684

Speelman meninggal dunia di Batavia tanggal 11 Januari 1684 dalam usia 55 tahun. Ia mati karena komplikasi penyakit ginjal dan liver. Upacara kematian Speelman digelar dengan megah dan mewah yang menghabiskan dana besar.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya