10 Kondisi Kesehatan yang Sering Mempengaruhi Milenial

Oleh: Febriansyah - 6 Januari 2020
Dibaca Normal 1 menit
83 persen dari 55 juta milenial yang disurvei pada 2017 menganggap mereka sehat, padahal hasil analisis BCBSA mengungkapkan sebaliknya.
tirto.id - Berdasarkan studi terbaru, generasi milenial memiliki tingkat kesadaran yang buruk terhadap kesehatan mereka. Dalam temuan dari Blue Cross Blue Shield Association (BCBSA) menunjukkan, bahwa semakin bertambahnya usia generasi milenial, kesehatan mereka semakin berkurang. Laporan ini menetapkan 10 kondisi teratas yang mempengaruhi milenial, yaitu:

1. Depresi mayor
2. Gangguan penggunaan zat
3. Gangguan penggunaan alkohol
4. Hipertensi
5. Hiperaktif
6. Kondisi psikotik
7. Penyakit Crohn dan kolitis ulserativa
8. Kolesterol tinggi
9. Gangguan penggunaan tembakau
10. Diabetes tipe 2

Studi juga menyatakan, dari 55 juta milenial yang disurvei pada 2017, 83 persen di antaranya menganggap mereka berada dalam kesehatan yang baik atau sangat baik, padahal hasil analisis BCBSA mengungkapkan sebaliknya.

Studi ini juga menemukan bahwa 11 persen dari generasi milenial yang berusia 34 hingga 36 tahun pada 2017 kurang sehat daripada Gen X yang berusia 34 hingga 36 tahun pada 2014.

Dalam kesimpulannya, studi itu mengungkapkan bahwa penyakit yang diderita generasi milenial lebih banyak berada pada level psikis daripada fisik.


Penyebab

Dalam buku Living With Depression, Deborah Serani, profesor di Adelphi University memberikan beberapa faktor yang mempengaruhi kesehatan milenial, seperti:

1. Kemajuan teknologi

Karena teknologi, generasi milenial jarang melakukan kontak mata, jarang bersosialisasi. Kurangnya kesadaran emosional ini, yang secara klinis disebut alexithymia, yaitu kondisi sulit untuk memahami pikiran dan perasaan.

2. Overload media

Deborah Serani mengatakan, banyaknya media di internet memungkinkan anak-anak milenial mengakses berita yang menakutkan. Sebab, kisah-kisah terorisme, bencana alam, atau malapetaka tersaji dengan gamblang.

Perasaan tidak berdaya, keputusasaan, dan ketakutan mengenai peristiwa-peristiwa ini meresap ke dunia milenial, baik dengan menyaksikan sendiri kisah-kisah semacam itu, atau melalui reaksi ketakutan yang menular dari orang dewasa di lingkaran keluarga mereka.

3. Tidak belajar memahami kegagalan

Banyak anak muda hanya menginginkan kemenangan dan keberhasilan. Mereka tak pernah ingin gagal lebih dahulu. Sehingga tak ada proses belajar alami untuk menghadapi kegagalan dan membangun ketahanan.

Akibatnya, banyak generasi milenium sulit berdamai dengan peristiwa yang membuat stres, frustrasi, dan menghindari tuntutan agar tidak merasa kewalahan.

4. Suami istri sama-sama bekerja

Banyak dari generasi milenial yang sudah menikah memilih untuk sama-sama bekerja, hal ini tidak sepenuhnya salah, tetapi hal itu akan membuat mereka tidak memiliki banyak waktu, seperti waktu makan malam keluarga.

5. Jadwal kerja yang tidak ditentukan

Banyak generasi milenial tak punya waktu kerja yang pasti, bahkan ada yang bekerja pada akhir pekan dan hari libur.

“Oleh karena itu, mereka (generasi milenial) tidak pernah benar-benar memiliki 'waktu luang' untuk mengisi bahan bakar. Semua contoh ini meningkatkan faktor risiko fisik dan emosional,” kata Serani seperti dilansir Healthline.

Perbaiki gaya hidup

Vincent Nelson, wakil presiden urusan medis untuk BCBSA, memberikan beberapa tips. Salah satunya dengan mencari perawatan pencegahan sebelum terjadinya kondisi yang mengancam.

Namun, survei BCBSA menemukan bahwa sepertiga dari milenial tidak memiliki penyedia perawatan primer, dan sebagian besar tidak menerima perawatan pencegahan reguler. Selain itu, sebagian besar generasi milenial hanya mengunjungi dokter ketika mereka sakit.

Menurut Nelson, hal itu juga dipengaruhi oleh sistem kesehatan yang tidak berfungsi untuk para milenial. Sementara mereka menginginkan perawatan yang ramah, nyaman, dan terintegrasi.

Berikut ini adalah cara untuk mengatasi gaya hidup milenial saat ini menurut Nelson:

  • Milenial ingin memiliki akses kesehatan dan perawatan yang nyaman, termasuk telemedicine.
  • Generasi milenial memilih pendekatan holistik terhadap kesehatan mereka yang memadukan pikiran dan tubuh.
  • Generasi Millenial jauh lebih nyaman dalam lingkungan yang bersahabat, yang membantu mereka mempercayai penyedia untuk memahami budaya, ras, status sosial ekonomi mereka, dan identitas seksual dan gender.
  • Milenial lebih suka bekerja di lingkungan yang mampu mengatasi kesehatan perilaku dan masalah mendasar tanpa stigma.


Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Febriansyah
Penulis: Febriansyah
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight